Manado, Barta1.com – Dalam Renungan Kristen pada Senin 25 Maret 2024 dikutip dari RHK GMIM diberi judul: Ikut Yesus dan Pikul Salib sesuai bacaan Markus 15:21.
Yesus sangat kelelahan. Sebelum ditangkap dan diseret keluar untuk memikul salib, Yesus melakukan banyak kegiatan seharian, tanpa istirahat. Selesai mengajar, Dia melaksanakan Perjamuan malam. Kemudian bersama beberapa murid-Nya berdoa di taman Getsemani. Saat itu peluh-Nya menetes bagaikan darah. Sementara Dia mengajar dan berbicara kepada murid-murid-Nya usai berdoa itu, tiba-tiba datanglah gerombolan orang menyerbu-Nya, dituntun oleh murid kepercayaan-Nya Yudas.
Dari sini Dia dibawa ke Mahkamah Agama untuk diadili. Selanjutnya, dibawa menghadap Pilatus, tapi untuk menghormati Herodes, Pilatus menyuruh dibawa kepadanya. Dari Herodes, dikembalikan lagi kepada Pilatus. Selanjutnya Pilatus menyuruh lagi untuk dibawa kepada Mahkamah Agama. Yesus jadi bola pimpong. Itupun harus Dia lewati dengan berjalan kaki ke sana ke mari dengan pengawalan, hinaan dan siksaan pengawal Bait Suci dan para prajurit. Jadi Yesus tersiksa sudah sebelum melakukan Jalan Salib menuju Golgota, tempat Dia disalib.
Maka ketika Dia diseret keluar pintu gerbang dengan keras, Dia terjatuh. Mereka memaksakan Dia harus memikul Salib-Nya. Akan tetapi karena tenaga yang sudah terkuras, tekanan psikis, hinaan, cercaan dan pukulan serta cambukan mereka, Yesus tak sanggup lagi memikulnya. Sebanyak 3 kali Dia dipaksa memikul salib, tetapi selalu jatuh, karena jalan-Nya memang sudah terseok-seok, tak berdaya dan tiada bertenaga lagi.
Bertepatan waktu itu, lewat Simon orang Kirene. Dia adalah ayah Aleksander dan Rufus. Dia baru saja datang dari luar kota. Rufus anaknya itu kelak menjadi pengikut Kristus yang setia. Dia bersama ibunya membantu rasul Paulus dalam pelayanan dan penginjilan. Hal itu disebutkan oleh rasul Paulus dalam surat-Nya kepada jemaat di Roma (Roma 16:13). Karena kebaikan dan kesetiaan isteri Simon itu, Rasul Paulus menyebut ibu Rufus itu sebagai ibunya juga.
Simon dipaksa memikul salib. Diperkirakan yang dipikulnya itu adalah palangnya saja, tidak dengan tiangnya. Tiangnya cukup berat karena panjangnya sekitar 2 sampai 2,4 meter berat sekitar 70 -80 kg. Sedangkan palangnya sekitar 1,5 hingga 1,8 meter. Jadi beratnya sekitar 55 kg. Sehingga total beratnya sekitar 130 kg. Salib itu diperkirakan terbuat dari kayu solid. Tetapi yang dipikul Simon hanya palangnya, seberat sekitar 55 kg. Simon memikulnya sejauh sekitar 3 km. Kondisi Yesus yang sangat mengenaskan itu sudah tak memungkinkan Dia memikulnya. Sebab untuk berjalan saja sebenarnya Yesus sudah tak sanggup. Karena itulah mereka memaksa Simon mengambil alih tugas Yesus memikul Salib-Nya sendiri.
Sungguh luar biasa respons Simon. Dia tidak menolak. Dia menerima tanggungjawab itu tanpa bantahan. Dia mengambil alih beban yang sudah tak dapat ditanggung oleh kondisi kemanusiaan Yesus yang sudah sekarat. Simon memikul salib Yesus yang sebenarnya juga adalah salib-Nya sendiri. Karena sesungguhnya salib yang Yesus terima adalah salib kita. Dia menanggung segala dosa kita. Agar kita selamat, Dia menanggung tanggungan yang melebihi beban sebagai seorang manusia. Dia butuh orang membantu-Nya.
Itulah yang diperankan oleh Simon dari Kirene dengan baik. Dia siap memikul Salib Yesus, dengan penuh kerelaan dan ketulusan hati. Sebab ternyata hal itu jugalah yang membawa keluarganya menjadi percaya dan mengikuti Yesus dengan setia bersama hamba-hamba Tuhan lainnya. Simon rela menerima Salib itu. Dia sedia memikul salib, semuanya untuk Tuhan. Dia rela berkorban dan melakukan segalanya demi kemuliaan dan keagungan Kristus, Sang Juruselamat dunia.
Demikian firman Tuhan hari ini: Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus, (ayat 21).
Hati yang rela, tulus, murni dan siap berkorban demi Kristus, diperankan dan dicontohkan Simon dari Kirene untuk kita. Dia mau mengikuti Yesus di Jalan Viadolorosa, memikul salib-Nya. Dia melakukan dengan senang dan segenap hati, untuk menyenangkan hati Tuhan Yesus.
Contohi dan ikutilah teladan Simon yang menerima panggilan Kristus memikul Salib, menjalani proses Tuhan dalam Jalan Sengsara. Jangan kerasukan hati, apalagi menyengsarakan Yesus lagi dan lagi. Tapi ikutilah Yesus dengan hati yang tulus dan murni, jiwa yang bersih, diiringi prilaku hidup yang menyenangkan hati Tuhan dan mengasihi sesama lebih lagi, agar dari hidup kita nama Tuhan senantiasa dimuliakan, semua orang diberkati dalam segala hal bersama Kristus.
Seperti Simon, bawalah isteri, suami, anak-anak, orang tua dan keluarga kita hidup sesuai kehendak Tuhan. Tuhan Yesus pasti menyertai dan memberkati kita bersama keluarga, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post