• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Jumat, Juni 26, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Riak Riuk Keragaman Di Sulut, Denni : Menandakan Ada Dinamika

by Meikel Eki Pontolondo
2 Januari 2024
in Edukasi
0
Direktur PUKKAT, Denni Pinontoan. (foto: istimewa)

Direktur PUKKAT, Denni Pinontoan. (foto: istimewa)

0
SHARES
126
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado,Barta1.com – Direktur PUKKAT, Denni Pinontoan, menyebut dari segi pandangannya bahwa keragaman adalah gejala relasi sosial yang dinamis. Artinya, di dalamnya ada ributnya dan ada juga rukunnya.

“Yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana kemampuan kita dalam mengelolanya. Jika paling banyak ributnya, tentunya ada permasalahan di dalamnya,” ungkap Denni  pada diskusi akhir tahun yang digelar oleh Gusdurian Manado dengan tema keragaman: Refleksi dan Proyeksi melalui zoom meeting, Minggu (31/12/2023).

Menurutnya, rukun-rukun juga bermasalah, dikarenakan yang ada itu kerukunan atau toleransi semu (tampak seperti asli). Jika ada dinamikanya, Denni berpendapat bahwa itulah keragaman yang dihidupi.

“Saya mau merefleksikan suatu hal pada tahun 2023, terutama peristiwa yang sempat viral, yakni bentrok 2 kelompok di Kota Bitung pada tanggal 25 November 2023. Saya bukan menyoroti penyebabnya di lapangan, tapi kepada kita-kita  yang merespon peristiwa tersebut,” ujarnya.

Dirinya berangkat dari pengalaman, dari bermacam-macam respon masyarakat, dan ini juga dikatakan menjadi ujian bagi para aktivis atau selama ini disebut-sebut sebagai seorang pluralis, seorang toleran dan sebagainya.

“Ketika kejadian (bentrok di Kota Bitung) itu terjadi,  beberapa jam kemudian mereda. Justru kerusuhan opini baru dimulai di media sosial, terutama group WhatsApp. Di mana saya melihat bermacam-macam respon dari masyarakat. Ini merupakan hal penting dan perlu direfleksikan, berkaitan dengan kemampuan kita menanggapi setiap persoalan yang terjadi,” ucapnya.

Saat kejadian itu, kata Denni, Ibu Ruth Ketsia berada di lokasi, tetapi banyak yang bersuara memberikan pendapatnya seakan berada di lokasi. Tentunya, ini menjadi ujian bagi para aktivis dan intelektual yang bergerak di gerakan keragaman atau kemasyarakatan.

“Saat itu begitu cepat informasi beredar dan sering tidak disaring oleh pembacanya, kemudian hal itu berkaitan dengan niscaya yang ada pada diri kita sendiri, yaitu identitas. Bahkan pluralisme  ada yang kemudian masuk dan membela yang dianggap sebagai kaumnya, tapi yang lainnya mencoba tidak menambah kisruh,  bahkan ada juga diam-diam saja sampai peristiwa itu selesai,” terangnya.

Sanjutnya, hal ini sangat menguji pihak pluralisme dan para intelektual, kemudian ada yang muncul secara ilmiah bahwa relasi yang dibentuk selama ini adalah relasi yang tidak tulus dan jujur. Berkaitan dengan identitas, langsung ikut beraksi tanpa harus memeriksa fakta terlebih dahulu. Padahal selama ini, para intelektual dan pluralisme dianggap orang-orang terdepan berkaitan dengan toleransi.

“Itu dampak dari tantangan mengelola keragaman kita, yaitu digital. Di situ kita bisa  mengelola digital dengan baik untuk mempromosikan dan mengkampanyekan perdamaian dan keadilan, tapi hal lain bisa berdampak pada polarisasi dan sebagainya,” kata Denni lagi.

Ia mengakui mendapatkan pengalaman dari kejadian kemarin, mungkin ini yang  dibilang dengan era post Truth (Di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam opini atau pandangan), yaitu setiap orang meyakini sesuatu sebagai kebenaran, namun belum tentu kebenarannya.

“Sebagai proyeksi, maka kita perlu melanjutkan misi pengetahuan kritis. Ke depannya perlu dikembangan, entah itu secara individual, berjaringan, atau kelompok. Sebab digital terus berkembang, yang akan memenggal-mengal fakta, kemudian itu menjadi kebenaran subjektif kita, karena itu berkaitan dengan hal yang sensitif, yaitu identitas etnis, agama dan lain sebagainya,” tambahnya.

Perlu diketahui persoalan sebenarnya itu berada di tengah kalangan elit aktivis dan Intelektual, yang datang dengan sentimen-sentimennya. Hal ini yang harus disikapi.

“Saya mencoba memetakan 3 kategori masyarakat kita di Sulut, termasuk Indonesia pada umumnya  dalam bersikap keragaman. Pertama pihak yang menyukai wacana pluralis kerukunan. Wacana itu sangat membantu, dan selalu mengatakan daerah-daerah kita aman-aman saja, dan itu mungkin bagi kalangan tertentu. Kedua, modal terbesar bagi orang – orang Minahasa, Sulut, pada umumnya sudah terbiasa dengan hidup damai dan rukun, sekalipun sedikit ada riak riuknya,” jelasnya.

Setiap orang pada umumnya tidak bisa berharap  kerukunan moderasi itu sea deal mungkin bahwa semua harus baik-baik saja, tapi justru jika ada riak-riaknya menandakan bahwa ada dinamika di dalam keragaman.

“Ketiga suatu problem yang selalu ada pada negara kita, seperti model-model relasi yang beragam ini sering kali motifnya hanya karena tujuan-tujuan tertentu, yakni tidak tulus dan ikhlas. Bahkan mungkin tidak jujur pada relasi,” imbunya.

Ada pun beberapa proyeksi yang harus dilakukan, yakni harus mengasah kemampuan kritis, kedua dengan demikian harus terus-menerus mengonstruksi ( membangun) sebuah bentuk-bentuk keragaman yang lebih bermakna, yaitu keragaman yang saling memberdayakan dan memanusiakan. Bukan keragaman yang kemudian justru saling menyingkirkan. (*)

 

Peliput: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: Denni PinontoanDirektur PUKKATKota BitungSulut
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Renungan Kristen 2 Januari 2024: Insaf dan Takutlah Akan Tuhan

Renungan Kristen 2 Januari 2024: Insaf dan Takutlah Akan Tuhan

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Welfrits Jacobus: Soliditas dan Integritas Kunci Organisasi Profesional 26 Juni 2026
  • AMDATARA Resmi Hadir di Sulut, Berikut Susunan Pengurusnya 25 Juni 2026
  • Plt Bupati dan Ketua TP-PKK Membaur di HUT ke-168 GMIST Imanuel Kelling Balehumara 25 Juni 2026
  • Bupati Michael Thungari Promosikan Potensi Sangihe di Penutupan PENAS XVII 25 Juni 2026
  • Listrik Tanpa Kedip Kawal Kunjungan Presiden di PENAS XVII Gorontalo 25 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In