Manado,Barta1.com – Direktur PUKKAT, Denni Pinontoan, menyebut dari segi pandangannya bahwa keragaman adalah gejala relasi sosial yang dinamis. Artinya, di dalamnya ada ributnya dan ada juga rukunnya.
“Yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana kemampuan kita dalam mengelolanya. Jika paling banyak ributnya, tentunya ada permasalahan di dalamnya,” ungkap Denni pada diskusi akhir tahun yang digelar oleh Gusdurian Manado dengan tema keragaman: Refleksi dan Proyeksi melalui zoom meeting, Minggu (31/12/2023).
Menurutnya, rukun-rukun juga bermasalah, dikarenakan yang ada itu kerukunan atau toleransi semu (tampak seperti asli). Jika ada dinamikanya, Denni berpendapat bahwa itulah keragaman yang dihidupi.
“Saya mau merefleksikan suatu hal pada tahun 2023, terutama peristiwa yang sempat viral, yakni bentrok 2 kelompok di Kota Bitung pada tanggal 25 November 2023. Saya bukan menyoroti penyebabnya di lapangan, tapi kepada kita-kita yang merespon peristiwa tersebut,” ujarnya.
Dirinya berangkat dari pengalaman, dari bermacam-macam respon masyarakat, dan ini juga dikatakan menjadi ujian bagi para aktivis atau selama ini disebut-sebut sebagai seorang pluralis, seorang toleran dan sebagainya.
“Ketika kejadian (bentrok di Kota Bitung) itu terjadi, beberapa jam kemudian mereda. Justru kerusuhan opini baru dimulai di media sosial, terutama group WhatsApp. Di mana saya melihat bermacam-macam respon dari masyarakat. Ini merupakan hal penting dan perlu direfleksikan, berkaitan dengan kemampuan kita menanggapi setiap persoalan yang terjadi,” ucapnya.
Saat kejadian itu, kata Denni, Ibu Ruth Ketsia berada di lokasi, tetapi banyak yang bersuara memberikan pendapatnya seakan berada di lokasi. Tentunya, ini menjadi ujian bagi para aktivis dan intelektual yang bergerak di gerakan keragaman atau kemasyarakatan.
“Saat itu begitu cepat informasi beredar dan sering tidak disaring oleh pembacanya, kemudian hal itu berkaitan dengan niscaya yang ada pada diri kita sendiri, yaitu identitas. Bahkan pluralisme ada yang kemudian masuk dan membela yang dianggap sebagai kaumnya, tapi yang lainnya mencoba tidak menambah kisruh, bahkan ada juga diam-diam saja sampai peristiwa itu selesai,” terangnya.
Sanjutnya, hal ini sangat menguji pihak pluralisme dan para intelektual, kemudian ada yang muncul secara ilmiah bahwa relasi yang dibentuk selama ini adalah relasi yang tidak tulus dan jujur. Berkaitan dengan identitas, langsung ikut beraksi tanpa harus memeriksa fakta terlebih dahulu. Padahal selama ini, para intelektual dan pluralisme dianggap orang-orang terdepan berkaitan dengan toleransi.
“Itu dampak dari tantangan mengelola keragaman kita, yaitu digital. Di situ kita bisa mengelola digital dengan baik untuk mempromosikan dan mengkampanyekan perdamaian dan keadilan, tapi hal lain bisa berdampak pada polarisasi dan sebagainya,” kata Denni lagi.
Ia mengakui mendapatkan pengalaman dari kejadian kemarin, mungkin ini yang dibilang dengan era post Truth (Di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam opini atau pandangan), yaitu setiap orang meyakini sesuatu sebagai kebenaran, namun belum tentu kebenarannya.
“Sebagai proyeksi, maka kita perlu melanjutkan misi pengetahuan kritis. Ke depannya perlu dikembangan, entah itu secara individual, berjaringan, atau kelompok. Sebab digital terus berkembang, yang akan memenggal-mengal fakta, kemudian itu menjadi kebenaran subjektif kita, karena itu berkaitan dengan hal yang sensitif, yaitu identitas etnis, agama dan lain sebagainya,” tambahnya.
Perlu diketahui persoalan sebenarnya itu berada di tengah kalangan elit aktivis dan Intelektual, yang datang dengan sentimen-sentimennya. Hal ini yang harus disikapi.
“Saya mencoba memetakan 3 kategori masyarakat kita di Sulut, termasuk Indonesia pada umumnya dalam bersikap keragaman. Pertama pihak yang menyukai wacana pluralis kerukunan. Wacana itu sangat membantu, dan selalu mengatakan daerah-daerah kita aman-aman saja, dan itu mungkin bagi kalangan tertentu. Kedua, modal terbesar bagi orang – orang Minahasa, Sulut, pada umumnya sudah terbiasa dengan hidup damai dan rukun, sekalipun sedikit ada riak riuknya,” jelasnya.
Setiap orang pada umumnya tidak bisa berharap kerukunan moderasi itu sea deal mungkin bahwa semua harus baik-baik saja, tapi justru jika ada riak-riaknya menandakan bahwa ada dinamika di dalam keragaman.
“Ketiga suatu problem yang selalu ada pada negara kita, seperti model-model relasi yang beragam ini sering kali motifnya hanya karena tujuan-tujuan tertentu, yakni tidak tulus dan ikhlas. Bahkan mungkin tidak jujur pada relasi,” imbunya.
Ada pun beberapa proyeksi yang harus dilakukan, yakni harus mengasah kemampuan kritis, kedua dengan demikian harus terus-menerus mengonstruksi ( membangun) sebuah bentuk-bentuk keragaman yang lebih bermakna, yaitu keragaman yang saling memberdayakan dan memanusiakan. Bukan keragaman yang kemudian justru saling menyingkirkan. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post