Bitung, Barta1.com – Tidak semua anak muda memiliki kemauan untuk membangun kampung halamannya sendiri, apalagi dari segi pendidikan. Namun berbeda dengan Riswanto Pudinaung. Lelaki kelahiran Motto, 21 April 1990 ini merupakan satu dari enam orang pendiri Daseng Literasi di Kelurahan Posokan, Lembeh Utara, Kota Bitung.
Hadirnya Daseng literasi itu hasil dari kegelisahan anak muda yang merasa tempat tinggalnya jauh dari pusat kota, kemudian kesulitan mengakses jaringan internet, apalagi mengakses buku bacaan.
Kegelisahan itu kemudian dipecahkan secara perlahan-lahan oleh Riswanto bersama rekan-rekannya, seperti Novenly Pudinaung, Moren Makaminang, almarhum Ayub Bawele, Marchel makalihe, dan Geral Kapadamu dengan menjadikan Daseng Literasi ini berkonsep perpustakaan.
Konsep perpustakaan itu disepakati oleh beberapa pendiri Daseng Literasi yang sedang menyelesaikan studinya dibeberapa perguruan tinggi, dan sangat membutuhkan refrensi bacaan. “Daseng Literasi ini kami dirikan pada tanggal 14 september 2019,” singkatnya kepada Barta1.com, Selasa (1/7/2023).
“Dengan Daseng Literasi ini kirannya bisa membantu teman-teman yang ingin mencari referensi guna menyelesaikan studinya. Selain itu juga, di sini kami mengajarkan anak-anak seumuran paud hingga SMA yang ingin belajar membaca, diskusi, bedah buku, menggambar, menulis, menghitung dan memainkan permainan kreatif,” ungkap Riswanto sembari menceritakan sampai adanya orang tua yang ikut belajar.
Lanjut Riswanto, bahwa Daseng Literasi ini setiap hari Senin hingga Jumat memiliki aktivitas yang dimulai dari pukul 14.00 WITA, terkecuali hari Sabtu yang memulai aktivitasnya dari pagi hari.
“Selain membaca dan menulis, kami juga mengajarkan anak-anak Daseng Literasi tentang pentingnya menjaga lingkungan, apalagi kita berdekatan dengan lautan yang seharusnya tetap bersih dan asri. Ada pun karya-karya yang sudah dibuat oleh anak-anak Daseng Literasi, yakni patung Suntung. Dan, menjadi Icon bagi Lembeh Posokan kerena masyarakatnya bermatapencaharian nelayan ,” tuturnya.
Saat ini juga, kata Riswanto, anak-anak sedang membuat patung Tuhan Yesus dari semen dengan ketinggian 3 meter dan akan ditempatkan di tanjung pantai Posokan.
“Dari setiap agenda yang dilaksanakan oleh Daseng Literasi ini, ada satu hal yang menjadi harapan kami, yakni mendapatkan bangunan yang tetap. Mengingat Kemarin kami masih menggunakan tempat yang disewakan pertahunnya itu Rp 2 juta, dan kini meminjam di ruang informasi dari kelurahan,” ucapnya.
Nama Daseng Literasi
Daseng literasi merupakan gabungan dari dua kata Daseng dan Literasi. Kata Riswanto, Daseng bagi masyarakat suku Sangihe dikenal sebagai tempat menetap sementara saat melakukan aktivitas atau berkemah, ketika selesai berkemah pasti akan kembali ke tempatnya sebenarnya.
Sementara literasi merupakan kemampuan seseorang dalam mengelola dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. “Begitulah singkat cerita nama Daseng Literasi itu digunakan. Dengan harapan ketika kembali dari Daseng Literasi ini akan mendapatkan hasil atau pengetahuan yang baru, dan bisa bermanfaat bagi banyak orang,” pungkasnya.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post