• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, Mei 16, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Mengenal Para Dramawan Perintis Teater Gerejawi di GMIM

by Ady Putong
20 Oktober 2022
in Seni
0
Mendiang Richard Rhemrev

Mendiang Richard Rhemrev

0
SHARES
168
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Memeriahkan Lomba Teater pada Festival Seni Pemuda GMIM (FSPG) yang akan berlangsung pada 21-23 Oktober 2022 yang pelaksanaannya di Jemaat GMIM Victory Kairagi Weru, Manado. Berikut ini, kami tampilkan biografi ringkas para dramawan perintis tradisi teater gerejawi di lingkup GMIM, dirangkum Tim Barta1.com.

Epafras Raranta
Epafras Raranta adalah salah seorang dramawan yang ikut mewarnai perkembangan teater modern di Manado pada era sebelum tahun 1970-an, terutama di kalangan gereja.

Epafras dikenal sebagai penyair, dramawan, musisi, dan seorang Pendeta. Sebagai angkatan pelopor kesusteraan dan teater modern di Sulawesi Utara, karya-karya puisinya sudah bertebaran diberbagai media masa sejak kurun 1960-an.

Puluhan karya dramanya, di antaranya “ Suara Itu Datang Lagi”, “Perhitungan Terakhir”, ajek dipentaskan sejak 1970-an oleh sejumlah sanggar teater di Sulawesi Utara, termasuk oleh Teater Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon.

Ia juga aktif menyutradarai teater, membacakan puisi, menjadi pembicara pada berbagai forum sastra, budaya. Menjadi dewan juri pada festival teater dan baca puisi di Sulawesi Utara. selain menciptakan lagu, ia juga mengaransemen sejumlah lagu untuk paduan suara.

Lahir di Bolaang Mongondow pada 24 August 1941. Kendati aktif di dunia sastra dan drama, ia mengaku, pekerjaan Pendeta adalah pekerjaan seumur hidupnya. Pendidikan terakhir, Sarjana Teologi FakultasTeologi UKIT Tomohon Angkatan 1980.

Panggilan Hidupnya adalah mengkomunikasikan perbuatan Tuhan lewat seni demi membangun pribadi, keluarga, dan masyarakat yangg sehat, damai dan sejahtera. Hingga kini di tengah kesibukan pelayanannya selaku pendeta, ia tetap aktif menulis karya-karya sastra.

Karya-karyanya yang telah diterbitkan: Tumatenden, sebuah drama tradisonal Minahasa diterbitkan penerbit Sarenade, 2012. Mata Elang, diterbitkan Penerbit Sarenade, 2015. PELITA KAKI adalah kumpulan naskah drama rohani karyanya.

Benni E. Matindas
Jalan hidup dramawan dan penyair Benni E. Matindas (lahir 1955 di Manado)—yang disebutnya sendiri sebagai perjalanan puitika—bisa dibagi dalam beberapa ruas. Ruas pertama berawal pada 1975, ditandai ketika ia yang sudah secara serius menulis drama, puisi dan melukis sejak remaja ini mulai mempublikasikan puisi, cerpen dan esainya di media massa yang terbit di Jakarta, Manado, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.

Ruas ini hanya sepuluh tahun lebih, dimana ia menelorkan buku-buku puisi Tahlillahirillahi (Manado: Moraya, 1978), Tadah-Lidah (Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985), Hari Penentuan (antologi puisi bersama M.S. Hutagalung dan Shaut Hutabarat, Jakarta: Pena, 1986), kumpulan esai Trifacet Kesenian Daerah, Kesenian di Daerah, dan Daerah Kesenian (Manado: Moraya, 1979).

Sejumlah naskah drama, seperti Pulang-Pulang (1976), Sang Masingko & Amanat Yang Pasti (1978), Rasul Ditangkap Karena Sifilis (1978), Bumi Kita Kusta (oratorium, 1977), Mazmur Tempurung (opera, 1979). Sambil mengasuh kaligus delapan sanggar seni di kampung-kampung. Juga mengikuti pameran lukisan. Walau lukisannya selalu paling cepat habis terjual, namun kemudian ia hanya aktif menulis esai dalam katalog pameran buat mengulas karya teman-teman perupa.

Ruas kedua dimulai 1986. Di sini ia menulis hampir seribu artikel dan puluhan buku dengan tema dan disiplin bidang sangat beragam. Meliputi filsafat, sosial budaya, teologi, sejarah, ekonomi pembangunan, politik, hukum, sampai perburuhan dan lainnya. Buku-bukunya yang terbit antara lain: Paradigma Baru Politik Ekonomi (Jakarta: Bina Insani, 1998), Negarakertagama-Kimia Kerukunan (Jakarta: Bina Insani, 2002), Negara Sebenarnya (Jakarta: Widyaparamitha, 2005).

“Semuanya tetap sebagai manifestasi puitika,” begitu ia menyifati karya-karyanya di masa itu. Masa dimana ia pun sering diminta mengajar filsafat pada sejumlah kelas program pasca-sarjana di Jakarta dan Jawa Barat.

Mengatakan karya ilmiah sebagai pewujudan puitika itu bukan sekadar mencari-cari pengabsahan. Tapi memang sejalan dengan konsepsi estetikanya yang sudah sering ia ekspos, menganterokan yang indah di dalam yang benar di dalam yang baik, pluchrum di dalam verum di dalam bonum, al-jamil di dalam al-haqq di dalam al-khair — “secara lebih radikal dari panyatuan oleh Al-Farabi, Thomas Aquinas, Kant, Dewey, maupun Susanne Langer.”

Tahun 2006 ia masuk dalam ruas perjalanan ketiga, jalan berbalik. Dimulai ketika mengasuh Sanggar Pædia — lembaga kajian dan publikasi pengembangan sistem pendidikan. Di samping kegiatan sanggar, ia banyak menulis esai dan makalah tentang kebudayaan, filsafat, termasuk estetika, etika, juga kritik sastra. Menulis sejumlah buku, antaranya Meruntuhkan Benteng Filsafat Atheisme Modern (Yogyakarta: Andi, 2010) dan Etika Seharusnya (manuskrip 2015). Juga menulis puisi.

Tentang kalimat dalam puisinya yang umumnya tak diawali dengan huruf kapital tapi selalu pasti diakhiri dengan titik, ia menjelaskan: “Sangat banyak hal dalam kehidupan ini yang terjadi bukan oleh keputusan kita atau kehendak kita. Kita bukan penyebab. Tetapi kita manusia memiliki kesanggupan, karena punya ruh, untuk membuat pengakhiran, atau sekadar notasi bermakna di akhir dari semua yang terjadi.”

Johny Rondonuwu
Johny Rondonuwu, salah seorang dramawan dari era 1980-an yang ikut berumah di tepi pantai. Ia juga dikenal sebagai sketser, pelukis, pematung terkemuka di Sulawesi Utara. Banyak karya spektakuler lahir dari tangan perupa dan dosen Seni Rupa IKIP Manado ini yang dikoleksi para kolektor.

Lahir di desa Sarawet, Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, 16 Januari 1955. Dalam berkesenian ia tak saja melahirkan banyak karya, tapi juga sejumlah murid yang dikemudian hari menjadi dramawan dan pelukis terkemuka di Sulawesi Utara, di antaranya, Arie Tulus, Sonny Lengkong, John Semuel, Berty Sulangi.

Di dunia sastra, Jonrond – begitu sapaan akrabnya – dipandang sebagai salah satu dari sedikit pelopor kepenyairan modern di Sulawesi Utara bersama penyair Husen Mulahele dan Karel Takumansang.

Lelaki bertubuh tambun dan suka mengenakan topi ini menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru Kristen Kuranga, Tomohon pada 1973, dan melanjutkannya pada jurusan Seni Rupa dan Kerajinan Fakultas Keguruan Sastra Seni IKIP Manado (sekarang FBS Unima) hingga meraih gelar sarjana dan mengajar di almamaternya itu.

Sejak semasa kuliah, anak sulung dari keluarga Rondonuwu-Rawung ini terbilang hidup penuh kegelisahan berkarya. Tidak ada sedikitpun waktu yang terbuang percuma. kemanapun kakinya melangkah, sudah pasti pena, dan kertas gambar ada bersamanya. Ia menulis puisi dan membuat sketsa di mana saja, dan karya-karya itu kemudian ia hadiahkan kepada siapa saja. Ini sebabnya karya puisi dan sketsanya banyak dikoleksi para murid dan temannya.

Sejak awal 1970-an, puisi-puisinya telah menghiasi halaman Koran dan Majalah baik yang terbit di Manado dan di Jakarta. Namun banyak puisinya hilang begitu saja. Untung sebundel puisinya masih bisa diselamatkan Arie Tulus muridnya.

Beberapa puisi lainnya sempat diterbitkan dalam sebuah buku antologi puisi “Bukit Kleak Senja” pada 1981. Di organisasi kesenian, ia pengurus Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) dan Dewan Kesenian Sulawesi Utara. Juga Pembina Teater Kompas, dan Teater Ungu.

Pada 1977 bersama beberapa rekannya, ia mendirikan SGM (Studi Group Manado). Kelompok ini hingga tahun 1980-an di Sulawesi Utara terbilang cukup terkenal di kalangan pekerja seni karena intens menggelar diskusi seni, pelatihan, pentas dan festival teater, baca puisi, pameran lukisan.

Pada tahun 1978 disamping aktif kuliah dan mengajar, ia mendirikan Sanggar Kuranga dengan program latihan dan bimbingan belajar melukis, menulis puisi, dan bermain teater. Sebagai pelukis, ia senang menggarap obyek-obyek realis dan naturalis. Ia berkali-kali pemeran di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia. Sebagai penyair ia banyak menulis puisi bertema kehidupan yang dilanda kesunyian dan kesedihan.

Puisinya yang paling terkenal berjudul “Simphoni Kematian” yang ditulisnya dengan begitu indah dalam beberapa seri, yang menyiratkan cerita kehidupannya yang seakan-akan dikejar-kejar kematian. Ia juga banyak menulis puisi bertema cinta yang begitu pilu yang sarat irama patah hati. Dan ia memang lama membujang, dan baru menikah pada usia tua sesaat menjelang kematiannya.

Sebelum menikah dan membangun rumah dan sanggar lukisnya di tepi kali Malalayang, kehidupan dramawan yang mahir memainkan alat musik biola ini, dijalaninya disebuah gudang bengkel seni di Fakultas tempat ia mengajar.

Kamis 11 Agustus 2005, di tengah kegiatannya mengikuti paduan suara gerejanya di GMIM Malalayang I, tiba-tiba ia merasa lelah dan pingsan hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Prof. Kandow Malalayang Manado. Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi dunia kesenian di Sulawesi utara. Tapi karya dan pengabdiannya abadi dikenang banyak orang.

Royndra Kairupan
Lelaki 60-an tahun itu berpulang Sabtu, 14 Agustus 2021, dan jagad teater Sulawesi Utara berduka. Sebab, tanpa menyebut Royndra Kairupan maka alur sejarah teater Sulut tak mungkin lengkap.

Ia penulis lakon, aktor dan sutradara, pelaku teater yang setia di jalan seni panggung. Selain menyutradarai karya-karya sendiri, ia juga banyak mementaskan lakon karya pengarang terkemuka Indonesia dan dunia.

Roy, sapaan akrabnya, dapat dikatakan sebagai penerus tradisi tonil dari pendeta-pendeta Belanda. Sebab pertunjukannya di era awal lebih banyak mengadopsi model tonil yang dipanggungkan di gereja-gereja.

Menyebut Roindra saya jadi ingat Rendra. Dramawan ini sejak dulu memang sering mengidentifikasi dirinya semacam WS Rendra-nya Manado. Dengan teater Previdentia yang digawanginya, Roy merajai panggung-panggung teater gereja dengan tema-tema lakon bernuansa Kristiani. Previdentia mencampai puncaknya ketika mementaskan lakon Opera “Jesus Sang Super Star” berdurasi sekitar 3 jam, sebuah lakon adaptasi dari drama karya Remy Sylado.

Semasa hidupnya, kendati disibuki dengan tugasnya sebagai karyawan Telkom di Manado hingga pensiun pada 1990-an, ia tetap eksis menghidupkan dunia teater dari panggung ke panggung. Pertunjukannya yang spektakuler tercatat mengisi panggung gedung kesenian Pingkan Matindas Manado, Wisma Montini Manado, Ouditorium Bukit Inspirasi Tomohon, panggung-panggung gereja hingga aras kolom, Kelurahan dan TVRI Manado.

Richard Rhemrev
Richard Rhemrev, salah satu dramawan dan sastrawan penting Sulawesi Utara. Berkiprah di dunia panggung sejak era 1970-an. Ia bisa disebut pengarang dan dramawan yang sangat berjasa meletakkan semangat teater modern di Kota Manado.

Mendidik sejumlah peteater dan aktif sebagai pemateri pada kegiatan pelatihan sastra dan drama di Sulawesi Utara. Mementaskan berbagai karya yang disutradarainya di berbagai kota di Indonesia. Sepanjang kariernya, ia banyak menulis lakon berlatar tradisi, sejarah dan lakon bernuansa kristiani.

Lelaki yang akrab disapa dengan panggilan Bu Ica ini lahir di Manado, 30 Desember 1949. Kakeknya seorang Belanda yang menikahi neneknya orang Siau, Ema Beta. Ayahnya adalah Herman Rhemrev, seorang wiraswasta yang bergerak di bidang teknik. Ibunya Paulina Tumoka. Menikah dengan Dona Anastasia Landeng pada 1974, dikaruniai enam orang putra dan putri. Anak pertama Farian Rhemrev, yang kedua Yanti Rhemrev, ketiga Meike Rhemrev, keempat Antoineete Rhemrev, kelima Akta Diurna Rhemrev, dan yang bungsu Hendry W. Rhemrev.

Masa sekolah dasar dan sekolah menengah Richard Rhemrev jalani di kota Manado. Ia bersekolah di SD Kristen Tabita, tamat tahun 1962. Selanjutnya ia masuk SMP Katolik Tuna, tamat tahun 1965. Dan masa SMA-nya diselesaikan di SMA Kristen YPKM tahun 1968.

Ia kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi di Jakarta. Sempat tercatat sebagai salah seorang mahasiswa Akademi Bank dan Niaga Jakarta pada tahun 1968 sampai 1971. Kuliahnya ini tidak sempat diselesaikan. Karena suka dengan drama, ia juga sempat kuliah di Akademi Teater dan Film di Jakarta, bersamaan dengan masa kuliah di Akademi Bank dan Niaga tahun 1969 sampai 1971. Kuliahnya yang kedua ini juga tidak sempat diselesaikan.

Sekembali dari Jakarta (1977—1979) ia sempat pula kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Merdeka Manado.

Richard Rhemrev menjadi Pegewai Negeri Sipil (PNS) sejak Februari 1981. Ia mengawali kariernya sebagai pegawai negeri di Departemen Penerangan Provinsi Sulawesi Utara. Pada departemen penerangan itu ia mendapat tugas pada seksi pertunjukan rakyat.

Tahun 2000 ketika Departemen Penerangan RI dihapus dan seluruh pegawai di lingkungan Departemen Penerangan dimutasikan ke departemen lain, ia dipindahkan ke Pemerintahan Kota Manado. Di Pemerintahan Kota Manado ia ditugaskan di Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Manado. Jabatan yang diembannya di sana yaitu Koordinator Seksi Pertunjukan Tradisional.

Terakhir menjadi Lurah Kelurahan Singkil II Manado. Selain bekerja sebagai pegawai negeri ia juga aktif bekerja di bidang kesenian di luar kantornya. Kegiatan yang dilakoninya selain sebagai PNS antara lain sebagai pelatih dan penulis naskah/materi pertunjukan/pagelaraan.

Ia telah banyak mencatatkan dirinya sebagai penulis naskah-naskah sinetron, fragmen televisi, dan naskah drama panggung. Karya-karyanya telah banyak disiarkan di TVRI Stasiun Manado dan TVRI Stasiun Pusat Jakarta.

Sejak masa sekolah dasar Richard Rhemrev sudah ikut “tablo”, semacam drama tetapi tidak memakai suara. Tablo ini pentas di sekolah-sekolah dan gereja-gereja. Tablo yang ia ikuti berkisah tentang cerita-cerita Natal.

Ketika masa SMA ia mengikuti paduan suara gereja, teater sekolah, dan teater gereja. Ia sempat terlibat dalam pementasan drama di sekolahnya. Pementasan yang dilakukan kala itu dengan lakon “Mencari Cahaya Surgawi” naskah karya J. Damar, pentas di sekolah YPKM, sebagai pemain. Setamat SMA Richard Rhemrev merantau ke Jakarta.

Ia mengenal drama lebih jauh ketika ia berada di Jakarta. Ica tinggal di Ketapang Utara 1 Jakarta. Di sana ia bergabung dengan Indonesian Movies semasa kuliah di Akademi Teater dan Film. Bersama dengan teman-temannya, ia juga mendirikan teater di Jakarta dengan nama Teater Bara (1969).

Orang-orang yang menjadi inspirasi bagi Richard Rhemrev dalam bidang drama adalah: Teguh Karya, Sumanjaya, Arifin C. Noor, Ferry Rusano Pane, Parto Tegal, Mutiara Sarumpaet, Didi Syahmadi Syafar, Asmai Syafar, Gandi Naenggolan, Rusian Carles, dan Caudin Salimoni. Mereka juga orang-orang yang diajak bermain drama ketika ia berada di Jakarta.

Novel-novel tragedi juga banyak memberikan inspirasi dalam karyanya. Tahun 1977 Richard Rhemrev kembali ke Manado dan bergabung dengan Teater Previdentia pimpinan Royndra Kairupan.

Richard Rhemrev banyak menulis puisi untuk kepuasan dirinya, tidak sempat dipublikasikan. Beberapa puisi yang pernah ia tulis di antaranya: “Bara Kata” dan “Bom Bam Beng”. Karya-karya dramanya antara lain: “Si Pali” (cerita rakyat Minahasa), “Mokosambur” (cerita rakyat Minahasa, sepuluh seri), “Patungku Sayang” (cerita rakyat Minahasa), “Datoe Binangkang” (cerita rakyat Bolaang Mongondow), “Pemberontakan Jambat” (cerita rakyat Bolaang Mongondow), “Ralama Raso Bentane” (cerita rakyat Talaud), “Salu (Hukung Kapungu)” (cerita rakyat Bolaang Mongondow), “Sember”, “Hompimpa”, “Dodeso”, “Jalan Setapak”, “Jago Merah”, “Pusaka Kinawalian” (cerita rakyat Minahasa), “Kure”, “Drs. Komik”, “Sadohe” (cerita rakyat Bolaang Mongondow), “Rumah Kost”, “Penginapan Hamar”, “Putri Simbang Bunga” (cerita rakyat Gorontalo).

Sutradara produktif yang aktif tampil sebagai aktor ini meninggal dunia pada 5 Januari 2016 di Manado. Kepergiannya menjadi duka cita mendalam bagi dunia kesenian. Ribuan seniman Sulawesi Utara ikut hadir mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya di pekuburan Singkil II Manado.

Penulis: Tim Barta1

Barta1.Com
Tags: fspg 2022GMIM Victory Kairagi Weruteater
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Prosesi pemberhentian Kepala Desa dan pengangkatan penjabat Kepala Desa Perangen.

Ini Penyebab Kepala Desa Perangen Diberhentikan Secara Permanen

Discussion about this post

Berita Terkini

  • 13 Tahun Putusan MK.35: Negara Masih Ingkar terhadap Hak-Hak Masyarakat Adat 16 Mei 2026
  • Dukungan Modal Usaha Dorong Pemberdayaan UMKM di Gorontalo 16 Mei 2026
  • Daya 66.000 VA Menyala di Melonguane, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Beranda Utara NKRI 16 Mei 2026
  • Meningkatkan Akses Desa, Bantuan TJSL Wujudkan Jalan Paving di Tempang Dua 16 Mei 2026
  • PLN UID Suluttenggo Pastikan Kelistrikan Andal Saat Kunjungan Presiden Prabowo di Gorontalo 16 Mei 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In