Manado, Barta1.com — Sudah punya usaha sendiri di usia relatif muda membuat Angela Patricia Kaligis kian mandiri. Dia memasarkan penganan bermerk Banana Chips yang cukup laku di pasaran.
Mahasiswi semester akhir Prodi Manajemen Pemasaran Politeknik Negeri Manado (Polimdo) itu mengaku, sudah memutar usahanya sejak semester IV. Bahan dasar snack ini adalah pisang goroho dengan varian rasa balado, jagung bakar, gula merah hingga barbeque.
“Awal menjalankan bisnis, saya terdorong dengan adanya mata kuliah (MK) praktek promosi, kami diajarkan cara membuat produk sendiri,” ujarnya pada Barta1 baru-baru.
“Pertama saya hanya mendesain sebuah kemasan produk untuk sebuah Iven. Kemudian, mencoba mendesain produk kemasan sendiri menggunakan aplikasi pics art, coba-mencoba akhirnya menjadi hobby dan terus menfokuskan diri pada usaha sendiri,” ungkap gadis kelahiran Modayag, 2 Agustus 2001 ini.
Milenial ini melanjutkan, usaha yang dijalankan saat ini mulai dari rumahnya sendiri, dengan menggunakan alat tradisional.
“Beberapa varian rasa bisa dibuat 50 bungkus, jika ada 3 rasa kemungkinan capai 150 bungkus,” jelasnya sembari menyebut Rp 17.500 per bungkus yang ia jual menggunakan media sosial FB pribadinya, Angel Kaligis dan IG-nya dengan akun banana.chips.goroho.
“Pengeluaran pada pembuatan produk usaha saya itu sebesar RP. 500.000, tetapi Keuntungannya bisa mencapai 3 kali lipat,” tutur anak semata wayang pasangan Stenly Kaligis dan Anita Lumowa ini.
Angela menambahkan banyak yang menyukai produknya, dari teman-teman terdekat hingga masyarakat yang ada di Kota Manado.
“Saya berharap ke depannya bisa lebih fokus pada usaha ini, agar bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain,” imbuhnya.
“Saat ini saya berfokus pada pengurusan ijin produk, agar bisa mendapatkan pengakuan,” cetus mahasiswa akhir ini, dengan penelitian tugas akhir (TA) gula semut aren mekril.
Usaha keripik goroho yang ia jalankan ini diproyeksikan berpusat di Kota Manado, selain di Modayag, Bolaang Mongondow Timur (Boltim), tempat dia tinggal dan memulai usaha.
“Saat ini, saya juga menjalankan usaha Coffe Ambang, saya membeli kopi biji kemudian dihaluskan menggunakan alat tradisional seperti tungku dan belanga goreng, setelah halus di-packing sedemikian rupa, dan baru dijual,” tambahnya.
“Dengan usaha yang ada, saya bisa menabung, dan meringankan kebutuhan sehari-hari sebagai mahasiswa, setidaknya sudah bisa meringankan beban orang tua,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post