Manado, Barta1.com — “Satu Siraman, Sejuta Kehidupan” menjadi tema dalam aksi penyiraman pohon yang dilakukan secara kolaboratif oleh Kelompok Muda Pecinta Alam (KMPA) Tindakan Antusias Simpatik Alam (TANSA) bersama Kelompok Pecinta Alam (KPA) Silvaterra, di sepanjang ruas Jalan Buha hingga Politeknik, Rabu (9/9/2026).

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan saat ini yang cukup memprihatinkan akibat cuaca panas dan kekeringan yang terjadi di berbagai wilayah. Dampaknya turut dirasakan oleh pepohonan yang berada di sepanjang jalan raya.
Kondisi tersebut mendorong KMPA TANSA dan KPA Silvaterra mengambil langkah sederhana dengan menyiram pepohonan di sepanjang Jalan Buha hingga Politeknik. Aksi ini dilakukan sebagai upaya mengurangi dampak yang tidak diinginkan akibat kekeringan, sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga keberlangsungan lingkungan.

Salah satu penanggung jawab aksi, Jakobus Aril Sumbang, yang mewakili KMPA TANSA, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari kondisi yang mereka lihat secara langsung di lapangan.
“Aksi ini dilatarbelakangi dengan kondisi yang terlihat di depan mata, yakni terjadi kekeringan di beberapa pepohonan. Daun yang sudah tidak terlihat, dahan makin kering yang mempercepat pohon itu roboh. Syukurlah, robohnya tidak membuat pengendara menjadi korban. Bagaimana kalau itu terjadi dan ada korban? Mungkin seperti ini salah satu dampaknya ketika pepohonan yang ada tidak diperhatikan,” jelasnya.

Menurut Jakobus, bagi sebagian masyarakat, menyiram pepohonan di sepanjang jalan raya mungkin terlihat sebagai sesuatu yang tidak biasa. Namun, di balik aksi sederhana tersebut terdapat manfaat yang cukup besar bagi lingkungan.
“Menyiram pepohonan memberikan beberapa manfaat, seperti mengurangi kematian pepohonan lebih cepat, menurunkan suhu mikro di sekitar lingkungan, menjaga kesehatan tanah dan mikroorganisme, mencegah ketersediaan oksigen dan penyerapan karbon, serta mengurangi dampak kecelakaan ketika pepohonan ini roboh akibat kekeringan,” tuturnya.
Sementara itu, Iqsan Dinho Soetrisno, yang mewakili KPA Silvaterra, menjelaskan bahwa aksi tersebut dilakukan dengan menggunakan perlengkapan yang sederhana.
“Pada aksi ini kami hanya menjangkau beberapa pepohonan yang ada di jalur Buha hingga Politeknik, dengan kuota air yakni dua tong air sedang, satu drum sedang, serta satu ember cat berukuran besar. Semuanya habis dalam proses penyiraman itu,” jelasnya.
Meski dilakukan dengan sarana dan sumber daya yang terbatas, Iqsan berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada aksi hari ini saja, tetapi dapat berlanjut dan menjadi gerakan bersama.
“Kami berharap aksi yang sangat baik ini bukan hanya untuk mencegah pepohonan agar tetap hidup dan bertumbuh, namun juga memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang bagaimana menjaga dan bertanggung jawab atas lingkungannya,” tuturnya.
Ia menambahkan, meskipun kegiatan tersebut terlihat kecil, aksi sederhana seperti ini dapat menjadi contoh bahwa menjaga alam tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar.
Baginya, kepedulian terhadap lingkungan justru seharusnya dimulai dari hal-hal kecil. Salah satunya adalah dengan menyiram dan merawat pepohonan yang berada di sekitar lingkungan.
“Siram satu pohon, rawat satu pohon, serta ajak orang lain untuk peduli. Karena kalau semua orang berpikir seperti itu, pasti lingkungannya akan semakin baik,” tambahnya.
Dalam aksi tersebut turut hadir sejumlah undangan, di antaranya GMPA Panthera Pardus, PPAB Everest, KPAB Nucifera, KPAB Chiroptera, serta BPKel Oi Intermezo Manado. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post