Manado, Barta1.com – Pelayanan Rumah Sakit (RS) Walanda Maramis Airmadidi, dan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Kandou Manado dinilai mengecewakan. Hal itu diungkapkan sejumlah keluarga pasien kepada Komisi IV DPRD Sulut dalam rapat dengar pendapat di Ruang Serba Guna DPRD Sulut, Kamis (12/08/2021).
Rapat memakan waktu 6 jam ini cukup menegangkan. Dimana pihak keluarga menanyakan ke pihak RS Walanda Maramis, terkait permintaan biaya perawatan bagi pasien yang dinyatakan terkonfirmasi Covid-19. “Saya mau mempertanyakan, kenapa pasien Covid-19 itu dimintakan biaya. Setahu saya, pasien Covid-19 itu sudah dibiayai oleh negara,” tanya Nana Wantania.
Pertanyaan Nana langsung ditanggapi dr Lucky Waworuntu dari RS Walanda Maramis. “Siapa yang meminta biaya tersebut, bagimana orangnya, apakah dia perempuan atau laki-laki,” tanya Lucky. Mendengarkan pertanyaan tersebut, Nana kembali menjawab. “Yang meminta uang perawatan kepada kami adalah pihak administrasi RS Walanda Maramis, dan itu perempuan. Saya dan adik-adik saya berembuk, untuk tetap tidak membayar biaya administrasi, dan setahu kami pasien Covid-19 itu sudah ditanggung negara, dan kami bertiga melakukan pembicaraan dengan pihak administrasi, akhirnya biaya pun gratis,” tuturnya sembari meminta pelayanan pihak RS Walanda Maramis diperbaiki.
Lucky kembali menanggapi, selama pasien Covid-19 RS Walanda Maramis, tidak pernah dipungut biaya. “Perlu diketahui, selama pasien Covid-19 masuk RS Walanda Maramis, kami tidak pernah memintakan biaya. Bagi pimpinan dan anggota DPRD Sulut, serta keluarga. Kami akan menulusuri dan menindaklanjuti pihak kami yang meminta biaya kepada keluarga pasien Covid-19,” jelasnya.
Wanita yang sehari-harinya bekerja di Sekretariat DPRD Sulut ini menambahkan, biaya yang dimintakan pihak administrasi RS Walanda Maramis sampai Rp 2 juta lebih. “Biaya perawatan bagi pasien Covid-19, dimintakan 2 juta lebih, dengan waktu pukul 02.00 WITA hingga pukul 19.00 WITA,” ucapnya.
Mendengarkan tanya jawab keluarga pasien dan RS Walanda Maramis, Sekretaris Komisi IV DPRD Sulut, Careig Naichael Runtu oknum yang meminta uang segera ditindaki. “Mohon segera ditindaki,” tegas Careig Naichael Runtu.
Senanda dengan Careig, personil Komisi IV lainnya, James Tuuk meminta pihak RS Walanda Maramis memecat nakes atau pegawai yang terlihat lalai menangani masyarakat. “Mohon kepada pihak RS, jika mendapatkan nakes, atau pihak-pihak RS yang lalai menanggani masyarakat yang sedang dirawat, mohon dipecat,” ujar James.
Nana juga menjelaskan penanganan RSUP Prof Kandou Manado terhadap ibunya, yang dinilai lalai. “Selama 1×24 jam mama saya tidak diurus. Tidak sama sekali disentuh perawat. Dimana, saat itu keadaan mama yang semakin melemas, mama berapa kali menelfon ke kami,” ujarnya.
Ia pun menceritakan situasi ibunya yang dibawa dari RS Walanda Maramis hingga RSUP Kandou. “Dari RS Walanda Maramis, mama dibawa ke RSUP Kandou pada Kamis, pukul 9.00 WITA, dan mama meninggal Jumat dinihari pukul 00.10 WITA, dari Rabu pukul 9.00 WITA sampai Jumat dini hari. Lebih dari 1×24 jam mama saya tidak disentuh perawat. Saya dan adik-asik tunggu diluar dari siang, bolak-balik menemui perawat sampai memohon-mohon, dan adik saya sampai menangis untuk meminta tolong kepada perawat. Tolong mama saya dirawat, mau diganti pampers. Disaat itu, mama saya menelpon mama tidak digantikan pempers, baju mama sudah basah, dan mama minta-minta pulang karena ruangannya panas,” tambah Nana.
Dirinya kebingungan kala itu, dan semua pihak dihubungi untuk dimintakan bantuan. “Mulai dari teman bekerja di RSUP Kandou, ibu Setwan, saya meminta tolong, agar adik saya jadi relawan untuk mengurus mama. Karena, di sana yang kami perhatikan semua pasien Covid-19 itu perlu emosional, dan support dari orang terdekat,” cetusnya.
Pihak RS Walanda Maramis dan RSUP Kandou dimintakan untuk menambahkan fasilitas ventilator oleh pihak keluarga. “Kami keluarga meminta kepada pihak rumah sakit menambahkan fasilitas ventilator. Karena mama kondisi buruk sampai meninggal itu karena tidak mendapatkan ventilator. Karena ventilator saat terjadi pengantrian, jika ventilator itu perlu mohon diperhatikan. Dan Ruang UGD sangat panas,” beber Nana sembari memberikan masukan.
Dr Henry Takasenseran dari RSUP Kandou Manado langsung merespon. “Pertama kami ucapkan turut berdukacita atas keluarga yang ditinggalkan. Terima kasih atas masukan ibu untuk RSUP Kandou, sekali lagi terima kasih. Pada saat mama ibu masuk RSUP Kandou, bertepatan juga dengan angka Covid-19 yang naik, dimana juga banyak nakes yang terkonfirmasi positif. Akan tetapi, masukan dari ibu dan keluarga yang ada akan kami terima,” ujarnya.
Henry juga meminta semua pihak untuk memerangi Covid-19 di Sulut. “Saya mengajak semua pihak untuk bisa sama-sama menangani masalah Covid-19 di Sulut,” ajaknya kepada semua pihak.
Diakhir pertemuan, Melky Jakhin Pangemanan dan Yusra Alhabsyih meminta dilakukan penginputan ke semua rumah sakit. “Agar kejadian-kejadian yang sudah terjadi kemarin, bisa diketahui,” ujar Melky dan Yusra.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post