Oleh: Iverdixon Tinungki
Delapan saf barisan kereta kuda tentara mengisi permukaan benteng adalah gambaran ketebalan tembok Yerikho yang fantastik di zamannya. Seorang Shofar bisa jadi berpikir, menembus tembok itu adalah kemustahilan.
Fierza, cucu pertama saya. Anak lelaki berusia 8 itu punya imajinasi tentang benteng. Syukur hari itu Sabtu, awal November 2020, ombak tak mencongklang, dan sore nampak tenang meronai tepi pantai Karangria. Di tengah panoramik laut nan megah, menjelang pasang, ia mengajak saya membuat benteng pasir di antara garis-garis masir disisakan surut.
Melewati beberapa waktu, sebuah miniatur benteng pun nampak kokoh berdiri dengan kemegahan arsitektur dari rengkahan daya bayang benak seorang bocah. Namun sebagaimana prinsip kefanaan, selain kepentingan, tak ada yang abadi dalam penciptaan.
Sesaat kemudian, sejenak saya jadi ingat Georg Wilhelm Friedrich Hegel, sang ahli pikir kelahiran Stuttgart 1770. Ia pernah mengungkap, segala sesuatu di alam ini berkembang karena ada pertentangan terus menerus terjadi, dan dikenal dengan dinamika yang menggerakkan sejarah. Sebuah benteng pasir segera akan punah bahkan dalam sentuhan lembut air pasang. Demikian pula daya bayang saya tentang politik.
Berbekal 3 batang rokok dibeli dengan uang receh, saya kemudian membayangkan “Battle of Jericho”. Sebuah pertempuran pertama dalam penaklukan Kanaan yang dicatat Kitab Yosua 6. Kisah menakjubkan ini lebih banyak dibahas dari aspek telogis dan hanya sedikit yang menyentil dari aspek politik. Bukankah peristiwa kuno menggeparkan itu tak lepas dari credo politik “Vox Populi Vox Dei” dan “The Invisible Hand”.
Abad ke-8, Alcuin dalam suratnya kepada Maharaja Charlemagne, menyentil peringatan adanya Vox populi vox dei (Suara rakyat suara Tuhan). Namun secara ikonik istilah ini dipopulerkan Uskup Agung Walter Reynolds ketika muncul pergolakan terhadap Raja Edward II di abad ke-14. Raja Inggris itu tercatat mengalami kekalahan tragis dalam pertempuran Bannockburn pada 1314, karena ia mengabai isyarat diperingatkan sang Uskup Agung tentang “vox populi vox dei” yang lagi membara sebagai jargon demokratisasi ketika itu. Sementara “The Invisible Hand” Adam Smith di ranah politik diibaratkan sebuah kemampuan alami yang tak dapat dibuat oleh akal sehat manusia akan tetapi terbentuk dengan sendirinya dengan proses yang panjang.
Beberapa bulan terakhir, saya beruntung bisa bincang lepas bebas dengan kawan-kawan “pemandu politik”, bahkan dengan beberapa buzzer politik yang kini semuanya berada dalam benteng dan lingkaran seni tempur masing-masing kandidat Pilkada Sulut 2020.
Seperti seorang bocah, sekaligus seorang Shofar, mereka ternyata juga sama-sama berpikir tentang sebuah benteng. Tentang membangunnya dan tentang menembusnya. Dalam politik pastinya, membangun atau menembus benteng sekokoh Yerikho bukan perkara mudah, terkadang terasa sebagai kemustahilan. Apalagi, di baliknya, ada seorang Firaun dikelilingi para pahlawan perkasa dan para ahli seni bertempur. Dapatkah tembok Yerikho semacam itu diruntuhkan dan strategi pertahanannya di tembus?
Definisi politik “membangun kekuatan untuk mencapai kekuasaan” pun berlangsung dalam tensi tingi di tengah kontestasi menuju hari penentuan pilihan, 9 Desember 2020. Dalam skala strategi pemenangan masing-masing calon, disatu sisi ada yang memantik kegeraman rakyat, dilain sisi ada yang membangun benteng pertahanan.
Oktober 2020, Lingkaran Survei Indonesia (LSI Networking) merilis survei terbarunya terkait kekuatan tiga pasangan calon (paslon) di Pilkada Sulut. Ikrama Masloman, jubir lembaga survey itu mengatakan elektabilitas Paslon Petahana Olly Dondokambey-Steven Kandouw (ODSK) kokoh di atas 60 persen.
Sebagai warga yang percaya pada data, membaca hasil survey lansiran RedaksiSulut.com pada 31 Oktober 2020 tersebut, saya sontak membayangkan 9 Desember 2020 nanti merupakan hari kemenangan pasangan ODSK. Sebab, sebagaimana kokohnya pertahanan Yerikho, tak ada kasus politik di Indonesia bisa mengejar selisih 40 persen dalam waktu 39 hari. Apalagi rilis ini menyebut pasangan CEP-SSL hanya punya 22,3 persen. Sedangkan pasangan VAP-HCR di posisi ketiga dengan raihan 10,2 persen.
“Jika tidak ada tsunami politik di posisi petahana, yang mungkin terjadi adalah mentoleransikan tingkat kekalahan (paslon non petahana),” ungkap Jubir LSI itu saat Konperensi Pers di Hotel Gran Sentral Manado, Sabtu (31/10). Sementara kabar terkini pada sejumlah media daring terbaca pasangan CEP-SSL dan pasangan VAP-HCR dinyatakan mengungguli ODSK.
Kembali, sebagai warga yang percaya pada data, saya tak perlu bingung dengan simpang-siur data yang meretih dari runga-ruang benteng sarat kepetingan itu. Saya merasa cukup membuat catatan ringan, dan tentu saya merasa tak perlu memasuki rana kajian akademikk teoretis yang runyam. Saya lebih nyaman membayangkan “Battle of Jericho’ dengan modal 3 batang rokok.
Sebab, lazimnya pandangan awam, kemenangan adalah sesuatu yang telah dijanjikan kepada siapapun. Dengan pasukannya yang kecil Yosua tak gentar menghadapi kedikdayaan Yerikho. Sementara Firaun telah menguasai semua lini pertahanan, dan siap siap meremukan Yosua.
Pilkada Sulut 2020 dalam bayangan saya adalah miniatur “Battle of Jericho”. Para penggaung yang lazim dikenal sebagai buzzer politik Firaun dengan menggebu-gebu mengolok kelemahan Yosua dan pasukannya. Mereka lupa, di dalam Yerikho, api geram telah tersulut dan menyala.
Sebagaimana kelaziman musim pergantian kekuasaan, isu-isu kesejahteraan rakyat dipakai lawan politik untuk menyalakan geram, menggerakan “people power” dalam merontokan kekuatan para incumbent. Ketika sebelumnya, nasib petani kelapa, cengkeh, nelayan dan buruh selalu berada di ruang sepi perbincangan politik, jelang Pilkada Sulut 2020 tiba-tiba mendapat ruang istimewa dan utama di tengah publik politik.
Suara-suara disetel kritis mengeritik perangai penguasa sebelumnya –terutama mengenai kurangnya perhatian terhadapat nasib dan kehidupan rakyat– melenting deras bagai bola-bola api. Pada titik ini definisi politik: “membangun kekuatan untuk mencapai kekuasaan” nampak tengah mencapai kulminasi.
Kosa kata “people power” pun menggeriap dalam wacana politik pelaksanaan Pilkada ini. Secara sederhananya, istilah “people power” itu dimaksudkan sebagai penggunaan kekuatan massa (rakyat) untuk mendesakkan perubahan politik atau pergantian kekuasaan. Mereka lupa bahwa pada umumnya, people power itu digunakan untuk meruntuhkan rezim yang berkuasa relatif terlalu lama, dianggap diktator, sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat.
Tapi di Sulut –seingat saya— tak ada penguasa seburuk itu, tak ada figur seorang diktator. Tak ada Ferdinand Marcos, tak ada Soeharto, yang kekuasaannya harus dilengserkan dengan kekuatan people power.
Bahwa tidak semua benteng dapat ditaklukan. Namun dihadapan rakyat yang geram, tak ada benteng yang tak dapat diruntuhkan. Kisah runtuhnya Yerikho menjadi salah satu kisah Alkitab yang sangat menakjubkan karena robohnya bukan karena digempur dengan bom, dinamit, bahkan rudal, tetapi oleh kuasa Tuhan sendiri. Dan dalam sejarah politik dan kekuasaan, strategi benteng tak mampu menahan kegeraman.
Persoalannya, siapa Yosua dalam miniatur pertempuran politik Sulut ini. Sayup-sayup saya justru dirisaukan suara-suara angkuh para penggaung yang memandang rakyat sebagai klas yang patut dibohongi oleh masing-masing janji. Sementara jauh di hati rakyat telah merekah rumus-rumus John Dewey, di mana sebuah kebenaran ditentukan oleh perbuatan, hasil akhir dan manfaat. Dan saya akan ikut memilih berdasarkan kriteria itu. (*)


Discussion about this post