Teruslah melangkah
Berlari atau terbang tinggi
Sebab ujung terjauh
hanya bisa di raih dengan maju
KAKAS:
Bait itu sangat bermakna Re.
Sangat menyentuh dengan kehidupan kami
Anak-anak desa kebun sayur ini. Aku suka.
REUMANEN:
Aku mau semua anak desa ini punya semangat,
bebas merdeka, dan terbang tinggi, setinggi mungkin.
Kakas tertawa mendengar kata-kata Reumanen.
REUMANEN:
Kenapa kamu tertawa?
KAKAS:
Kata-katamu seperti kata-kata orang dewasa.
Ibuku juga sering berkata seperti itu.
Reumanen ikut tertawa.
REUMANEN:
Kas, maukah kau menulis puisi untukku?
Kakas mengangguk mengiyakan.
KAKAS:
Akan kucoba menuliskannya.
Tapi aku tak sebaik kamu menulis puisi Re.
REUMANEN:
Janji ya. Aku akan marah jika kamu
tak menulis puisi untukku
KAKAS:
Siap nona Reumanen!
Reumanen tampak gembira, lalu beranjak, kemudian terus melangkah memasuki perkebunan kol. Kakas memandang sahabatnya itu dengan takjub.
- EXT. GUBUK BACA TAK JAUH DARI AREA PERKEBUNAN— SORE
Pingkan dan Singkop, serta beberapa anak tampak sedang membaca buku dengan riang, sambil duduk di tempat-tempat yang mereka sukai di sekitar gubuk baca itu. Di sana juga terlihat Inyo dan Bare sedang memperbaiki buku pemberian Reumanen kepada Kakas yang rusak akibat ulah Inyo dengan memakai lem. (Adegan perbaikan buku itu berlangsung improvisatif). Sesaat kemudian, buku yang mereka perbaiki tuntas dikerjakan. Mereka agak gembira.
INYO:
Nah. So klar.
(Nah. Sudah selesai.)
BARE:
Mar ndak sempurna rupa depe asli.
(Tapi tidak sempurna seperti aslinya.)
INYO:
Barang kalau so tarabe,
mana mo bale rupa depe asli.
(Sesuatu jika sudah sobek,
Mana bisa kembali seperti aslinya.)
BARE:
Iyo kang. Mar biarjo.
Sabantar ngana antar jo pa Kakas pe rumah.
(Iya ya. Tapi biarlah.
Sebentar kau antar saja ke rumahnya Kakas.)
INYO:
Ngana jo yang antar kwa Bare.
(Kamu saja yang antar Bare)
BARE:
Ngana yang se rusak, ngana yang musti antar.
(Kamu yang bikin rusak, kamu yang mesti antar.)
INYO:
Bare, kita somo pigi dulu neh.
Kita mo menyusul pa kita pe papa di kobong.
(Bare, aku pergi duluan ya.
Aku akan menyusul ayahku di kebun.)
BARE:
Oke.
INYO:
Woi Pingkan, Singkop, tamang-tamang,
kita somo lebeh dulu neh.
(Hai Pingkan, Singkop, teman-teman,
aku duluan ya.)
TEMAN-TEMAN:
Oke Nyoks!
Inyo beranjak pergi, sementara BAre masuk ke gubuk mengambil sebuah majalah, lalu membaca di sebuah tempat duduk.
- INT. RUANG DAPUR RUMAH KAKAS – MALAM
Ibu Sendi sendang memasak sayuran di dapur. Tak berapa lama muncul Kakas. Di tangannya ada sebuah buku tulis dan pulpen.
KAKAS:
So masa Ma?
(Sudah masak Bu?)
IBU SENDI:
Tunggu jo kurang sayor.
(Sabarlah tinggal sayur.)
Kakas duduk di kursi dekat meja makan.
KAKAS:
Ma beso tong libur. Kakas deng tamang-tamang mo
Ka danau Moat batamang pa Reumanen.
(Bu besok kan libur. Kakas dan teman-teman akan
ke danau Moat menemani Reumanen.)
IBU SENDI:
Ya sudah. Pigi jo. Mar ngana musti jaga itu Reumanen
dia toh lagi saki.
(Ya sudah. Pergi saja. Tapi kau jagalah Reumanen,
katanya kan dia lagi sakit.)
KAKAS:
Iyo Ma.
(Iya bu.)
Kakas lalu mencoba menulis puisi untuk Reumanen di bukunya.
IBU SENDI:
Kas, ada saki apa so Reumanen?
(Kas, penyakit yang diderita Reumana apa sih?)
KAKAS:
Leukemia Ma. Dong Bilang panyaki
itu bulung ada depe oba. Mama tahu
Soal tu panyaki?
(Leukemia bu. Katanya penyakit
itu belum ada obatnya. Ibu tahu
tentang penyakit itu?)
IBU SENDI:
Yailah Leukemia? Itu panyaki kangker
Rupa penyaki kangker laeng,
Leukemia atau kangker darah memang blum ada depe oba.
Itu no ngana musti skolah, bakuat blajar.
Sapa mo sangka suatu ketika ngana jadi penemu oba
for itu panyaki.
(Aduh Leukemia? Itu Penyakit jenis kanker.
Seperti penyakit kanker lainnya,
Leukemia atau kanker darah belum ada obatnya.
Itu sebabnya kau harus sekolah, belajar yang tekun.
Siapa tahu suatu ketika kau bisa jadi penemu obat
untuk penyakit itu.)
KAKAS:
Mar papa da pesan, Kakas ndak usah skolah tinggi-tinggi.
Skolah tinggi-tinggi papa bilang ndak mo bekeng sayor-sayor
di kobong bartumbuh. Kita suka no skolah turus Ma.
Mar kita takoleh mo langgar papa pe pesan.
(Tapi pesan ayah, Kakas tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.
Sekolah tinggi-tinggi kata ayah tidak membuat sayur-sayur
di kebun tumbuh. Aku ingin sekolah terus bu.
Tapi aku juga takut melanggar pesan ayah.)
IBU SENDI:
Jangang ngana kurang pikir-pikir ngana pe papa almarhum pe pesan itu.
Dia pe maksud kwa bae supaya ngana ba urusleh tu
Kobong yang dia waris. Itu no sampe dia bilang ndak usah
Skolah tinggi-tinggi. Mar mama pe mau ngana musti
skolah trus. Karena sekolah itu adalah jembatan
menuju pengetahuan. Mar ngana musti inga jaga
ngana pe papa pe warisan. Ngana pe papa sayang
skali depe Kinatouan ini. Dia ndak
mau ilang akang ni kehidupan pe bagus di desa ini.
Ngana paham ma pe kata-kata?
(Jangan terlalu dipikirkan pesan mendiang ayahmu itu.
Dia sebenarnya hanya bermaksud agar kamu bisa merawat
kebun warisannya. Itu sebabnya ia minta kamu untuk tidak
sekolah tinggi-tinggi. Tapi menurut ibu kamu boleh
sekolah terus. Karena sekolah itu adalah jembatan
menuju pengetahuan. Tapi jagalah juga
warisan ayahmu. Ayahmu begitu mencintai
kampung halamannya ini. Ia tidak
mau kehilangan segala kehidupan yang indah di desa kita.
Kamu paham kata-kata ibu?)
KAKAS:
Paham Ma.
(Paham Bu)
IBU SENDI:
Inga ulang Kakas, sekolah itu jembatan
menuju pengetahuan. Samua anak Indonesia musti skolah.
Rajing balajar, deng jangang mental karupu mo dahapi masalah.
Karna masa depan torang pe bangsa ada pa ngoni pe tangan.
(Ingat sekali lagi Kakas, sekolah itu jembatan
menuju pengetahuan. Semua anak Indonesia harus sekolah.
Giat belajar, dan pantang menyerah menghadapi tantangan.
Karena masa depan bangsa kita ada di tangan kalian.)
Kakas terenyuh mendengar wejangan ibunya. Ibu Sendi kemudian menyiapkan makanan di menja makan, lalu makan bersama Kakas.
- EXT. TEMPAT PARIWISATA DANAU MOAT- PAGI
Panorama pagi terkuak begitu indah menghampar di permukaan danau. Air danau tampak bersih dan tenang membiaskan nokta-nokta cahaya. Embun melekap di dedaun tanaman air. Capung dan serangga berkesiuran di atas semak yang nampak segar. Kesibukan para nelayan danau yang mengisi ritus kehidupan pagi di seputar danau. Ada beberapa perahu pencari ikan sedang dikayu menuju tempat yang dalam. Ada perahu yang didorong dengan gala melewati hamparan enceng gondok yang sedang berbunga.
Di suatu tempat wisata di tepi danau itu nampak Reumanen, Bare dan Kakas tengah menikmati keindahan alam danau. Mereka bersenda-gurau, tertawa riang, kejar-kejaran penuh ceria. Reumanen memperlihatkan kemampuannya menari, sementara Bare dan Kakas mencoba menirukannya. (Adegan berlangsung improvisatif: di tempat penjualan ikan, di tepi Danau, Mandi di danau, atau di tempat-tempat yang indah dan mengesankan.
KAKAS:
Tak hanya jago menulis puisi, tapi
Kamu juga jago menari Re.
REUMANEN:
Aku juga bisa menari maengket.
BARE:
Wah keren itu. Maengket kan tarian kita
orang Minahasa.
REUMANEN:
Itulah… kalian juga harus belajar
seni budaya Minahasa.
BARE:
Aku dan Kakas juga bisa menari kabasaran!
REUMANEN:
Coba, aku mau liat.
Bare dan Kakas kemudian memperagakan gerak tari kabasaran. Melihat eskpresi kedua temannya, Reumanen tertawa riang. Sementara dari sebuah tempat yang agak tinggi, Opa Andrian memperhatikan tingkah Reumanen dan kedua sahabatnya dengan perasaan bahagia.
OPA ANDRIAN: (VO)
Tuhan… Terima kasih untuk waktu penuh
bahagia buat cucuku tercinta.
Melihat Opa Andrian sedang memperhatikan mereka, Reumanen dengan suara agak keras menyapa Opanya kemudian diikuti Kakas dan Bare.
REUMANEN:
Opa!
KAKAS DAN BARE:
Opa Andrian!
Opa Andrian melambaikan tangan sebagai tanda senang ke arah Reumanen, Kakas dan Bare.
- EXT. DI SEBUAH GUBUK PERKEBUNAN MILIK INYO—SORE
Sebagaimana gubuk perkebunakan di tanah Minahasa, tempat itu berfungsi sebagai tempat istirahat melepas letih saat panas atau hujan. Di gubuk tanpa dinding itu, Inyo tampak sedang menceritakan isi buku berjudul “Pangeran Bahagia” yang baru selesai dibacanya kepada sahabatnya Pingkan Tulung dan Singkop Adare.
INYO:
Patung Pengeran Bahagia terbuat dari emas dan berlian.
Namun patung itu sangat sedih melihat nasib rakyatnya,
menderita dan miskin. Ia merasa bersalah, sebab ketika masih
hidup dan berkuasa, ia tak peduli dengan nasib rakyatnya.
Untuk menebus kesalahannya, patung Pangeran Bahagia
meminta kepada Burung Wallet sahabatnya, untuk mengambil
semua bagian tubuhnya dan dibagi kepada kaum miskin.
PINGKAN:
Depe cerita sedih kang Nyo.
(Ceritanya menyedihkan ya Nyo.)
SINGKOP:
Kong depe akhir, bagaimana itu patong pe nasib?
(Lalu akhinya, bagaimana nasib patung itu?)
INYO:
Ancor! Tasisa kurang depe jantong.
(Menirukan bunyi jantung)
Bub bab bub bab bup bap…
Mar malaekat-malaekat bawa ka sorga tu jantong.
(Hancur! Tersisa tinggal jantungnya.)
(Menirukan bunyi jantung)
(Bub bab bub bab bup bap…)
(Tapi para Malaikat membawa jantung itu ke Surga.)
SINGKOP:
Kong pas sampe di sorga?
(Lalu saat sampai di surga?)
INYO:
Tuhan kaseh slamat tu jantong.
(Tuhan menyelamatkan jantung itu.)
SINGKOP:
Masih mujur kang.
(Wah cukup berutung juga)
PINGKAN:
Iyo no. Kan biar dia kurang patong, Pangeran
Bahagia itu masih berusaha tebus depe salah.
(Ya iyala. To biar tinggal patung, Pangeran
Bahagia itu masih berusaha menebus kesalahannya.)
SINGKOP:
Kong burung Wallet pe nasib dang?
(Lalu nasib burung wallet bagaimana?)
INYO:
Wangala ngana Singkop lalot e…
Enter burung pe nasib ngana mo tanya.
(Aduh kau Singkop lalot betul…
Nasib si burung saja kau tanya.)
SINGKOP:
Burung kan makhluk hidup.
INYO:
Ngana pe mau apa?
(Maumu apa?)
SINGKOP:
Masuk surga juga. Kan dia sudah berbuat baik juga.
INYO:
No iko jo pa ngana. Maso sorga. Sanang to?
(Sudah. Ikut maumu saja. Masuk surga. Senang kan?)
Ketiganya tertawa terpingkal-pingkal.
Sementara di jalan kecil di area perkebunan tak jauh dari gubuk tempat Inyo, Pingkan dan Singkop, nampak Reumanen dan Bare tengah berjalan ke arah gubuk itu. Setelah agak dekat, Bare berteriak memanggil Inyo.
BARE:
Inyo!
INYO:
Woi.
Inyo nampak gembira melihat kedatang Reumanen dan Bare. Setelah sampai, Inyo, Pingkan, dan Singkop langsung menyambut Reumanen berjabat tangan.
REUMANEN:
Kenapa kamu Nyo tidak ikut ke danau Moat tadi.
Merasa bersalah sama Kakas?
INYO:
Iya Re. Tapi buku yang rusak sudah ku perbaiki.
Inyo memperlihatkan buku di tangannya.
REUMANEN:
Persoalan tidak akan selesai kalau kau tidak
minta maaf sama Kakas. Besok pagi aku balik ke Manado.
Aku berharap kau mau ikut ke rumah Opaku. Juga
kalian, Pingkan, Singkop, ikut ya.
Kakas sudah duluan di sana bersama Opa.
INYO:
Iya Re.
REUMANEN:
(Gembira)
Wei… mantap.
Ayo, Paman Garbo sudah menunggu di mobil.
Mereka kemudian meninggalkan gubuk itu.
- EXT. RUMAH OPA ANDRIAN – SORE
Di beranda rumah Opa Andrian yang berhadapan dengan halaman yang luas tertata apik penuh warna warni bebunga, tampak Opa Andrian dan Kakas lagi berbincang sambil duduk di kursi.
OPA ANDRIAN:
Opa dan ayah ibunya Reumanen, termasuk
semua keluarga opa, sangat sedih menghadapi
penyakit yang menggerogoti tubuh Reumanen.
Hari lepas hari penyakit itu kian ganas.
Sejenak Opa Andrian menarik nafas panjang melepas keganjalan dalam hatinya.
OPA ANDRIAN:
Terima kasih Kakas, terima kasih juga untuk kalian semua
sahabat-sahabat Reumanen di desa ini. Kalian telah membuat
Reumanen punya hari-hari yang indah dan bahagia.
KAKAS:
Kami juga berdoa Opa.
Kiranya Tuhan selalu menjaga Reumanen.
OPA ANDRIAN:
Terima kasih Kakas.
Tak berapa lama, sebuah mobil dikendarai Bang Garbo memasuki halaman rumah Opa Andrian. Setelah parkir, Reumanen, Pingkan, Singkop dan Bare keluar dari dalam mobil, disusul bang Garbo. Semuanya berkumpul dengan riang di beranda itu. Inyo kemudian mendekati Kakas dengan wajah yang masih merasa bersalah.
INYO:
Kas, ini buku kita so bekeng bae ulang.
Kita minta maaf neh.
(Kas, bukunya sudah kuperbaiki.
Aku minta maaf ya.)
Inyo menyerahkan buku Pangeran Bahagia yang sudah diperbaikinya kepada Kakas. Kakas menerimanya, lalu keduanya berjabat tangan sebagai tanda saling memaafkan. Melihat kejadian itu, semuanya tepuk tangan dan bersorak. Merasa disoraki, Inyo berusaha menampik dengan kelakar.
INYO:
Woi, kiapa ngoni ini?
(Hai, kenapa kalian?)
Semuanya tertawa terpingkal-pingkap melihat ekspresi Inyo yang tampak sangat lucu. Di luar, langit mulai meredup petanda sebentar lagi senja akan usai.

Discussion about this post