• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, Mei 1, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Contoh Scenario Film Cerita Untuk Anak

by Ady Putong
17 Oktober 2020
in Edukasi
0
0
SHARES
333
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Suasana tampak syaduh. Opa Andrian menoleh ke arah cucunya Reumanen dengan perasaan haru bercampur sedih mengingat penyakit Leukemia yang diderita Reumanen.

OPA ANDRIAN: (VO)
Berapa waktu lagi yang kau punya cucuku.
Di usia setua ini aku tidak mau kehilangan kamu.

Ada airmata menyembab di mata Opa Andrian, namun ia berusaha menyembunyikan kesedihannya. Usai menyanyi, Reumanen menoleh ke Opanya, ia menangkap ada kesedihan di wajah tua itu.

REUMANEN:
Opa kenapa terlihat sedih.

OPA ANDRIAN:
Tidak… Opa hanya terharu mendengar
suaramu yang merdu.

Reumanen beranjak mendekati Opanya, lalu memeluknya.

REUMANEN:
Reumanen tahu Opa sedih. Reumanen memang
sakit. Lagian Leukemia tidak punya obatnya.

OPA ANDRIAN:
Reumanen, opa menyayangi kamu melebihi
diri opa sendiri. Kamu terindah dalam hidup opa.
Opa selalu berdoa untuk kesembuhanmu.

Sesaat mereka terdiam. Bang Garbo tiba-tiba memecah keheningan itu.

BANG GARBO:
Re, bacalah puisi untuk Opamu.
Nanti Paman iringi dengan piano.

REUMANEN:
Opa ingin mendengar puisi
yang Reumanen tulis?

Opa Andrian mengangguk. Bang Garbo memainkan music bernuansa lembut.

REUMANEN:
Burung hanya punya
Dua kaki
Dan sepasang sayap
Namun ia tak meratap

Selain keberanian
Dan Tuhan
Kekuatan apalagi
membuat ia terbang

Burung hanya punya
Harapan terus mengepak
langit luas, bentang tak berbatas
Tak bisa diarungi dengan cemas

Opa Andrian Nampak kian terharu mendengar puisi Reumanen. Bang Garbo masih asyik saja dengan music yang ia mainkan. (PUISI YANG DIBACAKAN REUMANEN AKAN BERSAMBUNG HINGGA SC 09 DI RUMAH KAKAS.)

  1. INT. RUMAH KAKAS – MALAM
    Ruang keluarga rumah Kakas, berisi beberapa perabotan sederhana. Kendati tak begitu mewah, ruang itu tampak tertata rapih. Di meja belajar, di salah satu sisi ruang itu, tampak Kakas sedang terenyuh membaca selembar kertas yang berisi puisi yang ditulis Reumanen untuknya.

(SAMBUNGAN SUARA REUMANEN YANG MEMBACAKAN PUISINYA DARI SC O8)

PUISI REUMANEN: (SO)
Padang savana
Adalah rumah
dan taman berwarna
Burung-burung teguh
Memetik cerita kehidupan padanya

Bukan hanya karena
biji-bijian ranum tersedia
buah atau serangga
tapi hidup adalah
cara meraih dengan jerih lelah

burung yang bebas merdeka itu
tak punya kebencian
demikian juga kasih sayang
hanya memberi, tak meminta

Teruslah melangkah
Berlari atau terbang tinggi
Sebab ujung terjauh
hanya bisa di raih dengan maju

Setelah puisi itu selesai dibaca, ada airmata menetes dari kelopak mata Kakas. Ia kembali ingat pesan ayahnya.

FLASH BACK 2

  1. EXT. GUBUK BACA TAK JAUH DARI AREA PERKEBUNAN— SORE
    (Idem SC 05)
    Om Dure, ayah Kakas, sedang memarahi Kakas.

OM DURE:
Ngana musti inga papa pe pesan. Kakas, babaca itu
Ndak ada depe guna. Bahkan mo skolah sampe ujung Klabat itu
ndak ada depe faeda. Lia papa pe tangang, tangang yang ndak
skolah tinggi-tinggi ini, dari dulu punung deng pece.
Mar coba ngana tengo depe hasil, bukang kacili ini papa pe kobong sayor,
Ini kita pe warisan for ngana. Inga itu. Jang sampe ngana lupa.
(Kamu harus ingat pesan ayah. Kakas, bacaan itu
tidak ada gunanya. Bahkan sekolah tinggi-tinggi itu
tidak ada gunanya. Lihat tangan ayah, tangan yang tidak
sekolah tinggi-tinggi ini, dulunya bergelimang lumpur.
Tapi lihat hasilnya, betapa luasnya kebun sayur milik ayah,
milik kamu juga. Ingat itu. Jangan sampai kamu lupa.)

Kembali ke SC 09
Ibu Sendi yang masih tampak sakit dan lemah, mendadak muncul dari arah dapur. Melihat anaknya melamun sedih, ibu Sendi jadi penasaran.

IBU SENDI:
Kiapa ngana Kas, ngana manangis?
(Kenapa kamu Kas, Kamu menangis?)

Kakas mendadak kaget dan secepatnya menghapus air matanya. Ia mencoba menyembunyikan masalah yang ia pikirkan.

KAKAS:
Ah…nyanda Ma.
(Ah… tidak Bu.)

IBU SENDI:
Mar ngana dapa lia sedih skali.
(Tapi kamu keliatan begitu sedih.)

KAKAS:
Cuma tabawa deng puisi yang
Reumanen da bekeng Ma. Depe puisi bagus skali Ma.
(Hanya terbawa dengan puisi yang ditulis
Reumanen Bu. Puisinya bagus bu.)

IBU SENDI:
O… Mama kira ngana lagi da masalah.
Tadi Reumanen da setinggal buku banya skali for ngana.
Mama so simpang pa ngana pe kamar.
(O… ibu kira kamu lagi ada masalah.
Tadi Reumanen titip banyak buku untukmu.
Sudah ibu simpan di kamarmu.)

KAKAS:
O iya. Makaseh Ma.
(O iya. Makasih Bu.)

IBU SENDI:
Bagaimana tong pe kobong sayor Kas?
(Bagimana kebun sayur kita Kas?)

KAKAS:
Tarawat bagus Ma.
(Terawat baik Bu.)

IBU SENDI:
Salama Mama masih saki, ngana urus dulu tu kobong.
Karna itu torang pe sumber hidop.
Kalau Mama so bae, ngana ndak perlu barepot lagi
mo urus kobong. Ngana musti blajar, kan so ndak lama mo ujian.
(Selama Ibu masih sakit, kamu harus menjaga kebun.
Karena kebun itu sumber kehidupan kita.
Kalau Ibu sudah sehat, kamu tak perlu repot lagi
mengurus kebun. Kamu harus belajar, kan sebentar lagi ujian.)

KAKAS:
Iyo Ma.
(Iya Bu.)

IBU SENDI:
Mama so sadia makanang di dapur.
Manjo tong dua makang.
(Ibu sudah sediakan makanan di dapur.
Ayoh kita berdua makan.)

Kakas dan Ibu Sendi beranjak menuju dapur.

  1. EXT. GUBUK BACA TAK JAUH DARI AREA PERKEBUNAN—PAGI
    Pendaran sinar matahari pagi perlahan mulai menerpa desa perkebunan.
    Pagi itu, Inyo dan Bare tampak sedang duduk di sebuah bangku Gubuk Baca menunggu Kakas. Mereka telah mengenakan pakaian seragam sekolah. Beberapa petani yang lewat bersenda-gurau dengan mereka.

SEORANG PETANI:
Woi, blum pi skolah ngoni?
Somo terlambat ngoni.
(Hai belum ke sekolah kalian?)
(Akan terlambat kalian.)

INYO:
Kiapa, skolah mo lari?
Kalau dia lari tong dusu no.
(Kenapa, sekolah akan lari?)
(Kalau dia lari ya kami kejar.)

Petani itu tersenyum kecil sambil menggeleng kepala mendengar sahutan Inyo, kemudian berlalu. Bare menegur Inyo. Sementara Kakas nampak sedang berjalan ke arah mereka dari jalan tepi kebun sambil memikul sebuah Dus berisi buku.
BARE:
Ngana musti pake otak Nyoks!
Orang tua itu. Jang jaga bakusedu bagitu.
(Kamu harus pake otak Inyo!)
(Itu orang tua. Jangan berkelakar seperti itu.)

INYO:
Wangala, cuma bagituleh ngana so marah Bare.
(Aduh, cuma begitu saja kamu marah Bare.)

BARE:
Ndak marah. Cuma seinga.
(Tidak marah. Cuma mengingatkan.)

Saat sampai di gubuk baca, Kakas menyapa kedua temannya.

KAKAS:
Woi so lama ngoni dua?
(Hai kalian berdua sudah lama?)

BARE:
Belum lama.

INYO:
Apa dang yang tu ngana pikul?
(Apa yang kamu bawah itu?)

KAKAS:
Buku. Reumanen da kaseh.
(Buku. Diberikan Reumanen.)

Kakas masuk dan meletakkan dus buku di dalam Gubuk Baca, lalu kembali mendekati Inyo dan Bare.

INYO:
Reumanen ada so?
(apa Reumanen ada?)

KAKAS:
Yoi!
(Iya!)

INYO:
Mantap! Besok akan ku ajak nona kecil
cantik Reumanen ke Danau Moat.

BARE:
Asal- asal jo ngana!
(Sembarangan saja kamu!)

INYO:
Kiapa, cemburu?
(Kenapa, cemburu?)

Melihat aksi Inyo yang serius, ketiganya kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Kakas kemudian mengeluarkan buku pemberian Reumanen dari tasnya.

KAKAS:
Reumanen kaseh buku special for kita.
(Reumanen memberikan buku special untukku.)

Kakas menunjukan buku pemberian Reumanen kepada kedua sahabatnya.

INYO:
Pewai, cuma ngana yang dapa dang?
Reumanen mo kaseh pa kita itu,
Mar ngana mangaku-mangaku kaseh pa ngana.
Mari tu buku.
(Adoh, jadi cuma kamu yang dapat buku?
Maksud Reumanen sebenarnya itu untuk aku,
hanya kamu saja yang mengaku diberikan padamu.
Mari buku itu.)

Inyo kemudian merampas buku di tangan Kakas dengan agak kasar. Akibatnya, buku tersebut terpisah menjadi dua. Melihat buku telah rusak, wajah kakas memerah menahan amarah. Sementara Inyo tampak merasa bersalah.

BARE:
Ngana kwa Nyoks so talalu.
(Kamu sudah keterlaluan Inyo.)

Kakas membanting ke tanah bagian buku yang ada di tangannya. Dengan menahan amarah, Kakas kemudian beranjak pergi. Inyo yang merasa bersalah, memungut bagian yang telah dibanting itu. Ada perasaan menyesal di wajah Inyo atas kejadian itu.

BARE:
Sudah ngana lem jo ulang. Kong bekeng
kaseh bagus ulang. Manjo pigi.
(Sudah kamu lem lagi.Bikinlah
jadi bagus lagi. Ayo pergi.)

Inyo dan Bare kemudian beranjak pergi.

  1. EXT. DI SEBUAH BUKIT DI TEPI KEBUN SAYUR – PAGI
    Bang Garbo tampak sedang membidikan kamera mengambil beberapa pose Reumanen dengan latar perkebunan sayur yang menghijau. (Adegan ini berlangsung improvisatif). Seusainya, mereka masuk berteduh di seputaran rindang pepohonan. Reumanen yang tampak kehausan, meminum air mineral di botolnya sambil duduk di sebuah batu.

BANG GARBO:
Kau tahu kenapa paman selalu ingin memotret desa ini?
Jawabnya, karena alam desa ini menceritakan kehidupan.
Ada terik matahari, ada badai, ada hujan lebat menghujam.
Tapi sayur-sayur itu terus kukuh bertumbuh.
Petani-petani bersemangat dan terus bersemangat menanam,
karena untuk hidup semua orang harus berjuang.
Itulah hidup Reumanen.

Reumanen mengangguk-angguk memahami kata-kata Paman Garbo.

REUMANEN:
Kakas itu anak yang hebat ya paman.
Bayangkan dia punya ide bikin gubuk baca.

BANG GARBO:
Itulah Re, kita harus banyak bantu dia.
Perjuangan Kakas bikin gubuk baca ini tidak mudah.
Kakas sudah tidak punya ayah. Ibunya lagi sakit.
Tapi semangat dia tetap menyala.

REUMANEN:
Kata teman-temannya, Kakas itu Murid terpandai
di sekolahnya. Setiap semester ia juara kelas.

BANG GARBO:
Ya itulah karena Kakas rajin belajar,
dan banyak membaca. Anak-anak yang banyak
membaca, pengetahuan dan wawasannya akan luas.
Dengan kehadiran gubuk baca, anak-anak di desa
yang subur kayak firdaus ini, akan punya kesempatan
melihat dunia lewat buku yang mereka baca.

REUMANEN:
Paman, kita ke kebunnya Kakas sebentar sore ya.

BANG GARBO:
Iya.

Beberapa ekor burung tampak melintas di langit di atas perkebunan sayur itu.

  1. EXT. AREAL PERKEBUNAN SAYUR MILIK KAKAS — SORE
    Kakas sedang membantu ibunya memanen sawi.

IBU SENDI:
Torang musti capat panen samua Sawi ini.
Kalau ndak nanti somo tua. Depe harga mo jatung.
(Kita harus cepat memanen semua Sawi ini.
Kalau tidak nanti keburu jadi tua. Harganya pasti jatuh.)

KAKAS:
Mar Mama kwa jang dulu forser karja.
Biar kita jo. Kita kwa so boleh mo karja ini samua Ma.
(Tapi Ibu jangan terlalu bekerja keras.
Biar aku saja. Aku bisa mengerjakan ini Bu.)

IBU SENDI:
Mama so bae Kakas. Oba dari
Puskemas sana mujarab. Mama rasa so fres ulang.
(Ibu sudah sembuh Kakas. Obat-obat dari
Puskemas itu mujarab. Ibu merasa sudah pulih lagi.)

KAKAS:
Ya syukur jo no Ma.
Mar kita ini anak laki-laki Ma.
Papa bilang, kita musti jadi tukang kobong yang jago.
Jadi biar jo kita yang blajar mo ator ni kobong.
(Ya syukurlah bu.
Tapi aku anak laki-laki ibu.
Kata ayah, aku harus jadi petani hebat.
Jadi biarlah aku belajar mengelola kebun kita.)

Dari arah pinggiran kebun, Reumanen dan Bang Garbo tampak sedang berjalan mendekati kebunnya Kakas. Ibu Sendi dan Kakas berhenti sejenak lalu memandang kedatangan Reumanen dan Bang Garbo. Setelah agak dekat, Reumanen menyapa Ibu Sendi.

REUMANEN:
Tante sendi.

IBU SENDI:
Hai Reumanen, Garbo.

Reumanen dan Bang garbo mendekat menyalami Ibu Sendi.

REUMANEN:
Tante Sendi sudah sehat ya.

IBU SENDI:
Iya Reumanen. Puji Tuhan, tante sudah merasa sehat lagi.

REUMANEN:
Ya syukurlah Tante.

IBU SENDI:
Ya syukur juga kamu tampak sehat.
Ini rencananya mau ke mana Garbo?

BANG GARBO:
Ya mengantar Reumanen jalan-jalan
melihat kebun, sambil bikin foto, Bu Sendi.

IBU SENDI:
Ya, kalau bagitu, Kakas ngana pi batamang pa Reumenan
Deng ngana pe abang bajalang-jalang sana. Nanti sore
Ngana bale jemput pa mama neh.
(Ya, kalau begitu, Kakas temanilah sebentar Reumanen
dan abangmu jalan-jalan sana. Nanti agak sore
kau balik jemput ibu ya.)

KAKAS:
Iyo Ma
(Iya Bu.)

Kakas, Reumanen dan Bang Garbo beranjak pergi menyusuri area kebun sayur.

  1. EXT. DI PEMATANG AREAL PERKEBUNAN KOL — SORE
    High angle perkebunan kol. Nampak Kakas dan Reumanen tengah berjalan di pematang perkebunan kol. Bang Garbo sejenak mencuri momen itu dengan membidikan kameranya. Setelah mengambil beberapa angle, Bang Garbo berlalu, mengambil obyek yang lain.

REUMANEN: (SO)
Kamu tahu apa kata paman Garbo tentang desa ini?
Paman Garbo bilang, desa ini seindah firdaus.
Alam yang subur membuat segala tanaman bisa tumbuh
di sini. Kamu harus bangga menjadi anak desa ini.

KAKAS: (SO)
Kamu kan juga pemilik desa ini.
Opamu pemilik perkebunan terbesar di sini.
Kami semua senang kamu berada di desa ini Re.

REUMANEN: (SO)
Tapi waktuku tak banyak lagi.
Leukemia terus menggerogoti tubuhku.
Jika suatu ketika aku pergi, moga kalian semua
selalu ingat aku.

Di suatu tempat di perkebunan itu ada bangku tempat duduk para petani. Kakas dan Reumanen kemudian berhenti di sana, lalu duduk. Wajah Reumanen nampak ceria memandang kebun sayur yang menghijau. Namun Kakas nampak sedih setelah mendengar ucapan Reumanen.

REUMANEN:
Puisiku sudah kamu baca Kas?

KAKAS:
Sudah Re.

REUMANEN:
burung yang bebas merdeka itu
tak punya kebencian
demikian juga kasih sayang
hanya memberi, tak meminta

Barta1.Com
Page 2 of 6
Prev123...6Next
Tags: contoh skenario film anakcontoh skrenario filmfilm anakiverdixon tinungki
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Foto bersama saat pencanangan penanaman 1.000 pohon jagung (Foto Evan/Barta1)

Pencanangan Penanaman Jagung, ini Kata Camat Beo Selatan

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Polisi Fasilitasi Perdamaian Dua Kelompok Pemuda di Kota Bitung 1 Mei 2026
  • Nobar “Pesta Babi” di Manado: Cermin Luka Papua, Alarm bagi Sulawesi Utara 1 Mei 2026
  • Polres Bitung Amankan Pelepasan Jamaah Haji dengan Pelayanan Terbaik 1 Mei 2026
  • May Day 2026, Hengky Honandar: Momentum Perkuat Dialog Tripartit dan Lindungi Hak Buruh 1 Mei 2026
  • Ajang Talenta SMP 2026, Ruang Pembinaan Prestasi dan Karakter Siswa Sangihe 30 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In