Tiba-tiba dari pintu kelas, masuk teman-teman sekelas Kakas. Di tangan mereka masing-masing ada tumpukan buku dan bahan bacaan lainnya.
IBU GURU:
Pinkan, Bare, Singkop, dan semua teman sekelasmu,
termasuk Inyo, meskipun dia masih dalam perawatan,
mereka membantu kamu. Sejak kemarin mereka
mengumpulkan berbagai bahan bacaan dari rumah mereka,
dari keluarga mereka, karena mereka mau agar kamu kembali
tegak membangun gubuk baca. Sekolah kita, pemerintah desa,
bahkan masyarakat desa ini ingin kau tegak.
PINGKAN:
Kami semua ada bersamamu Kakas.
MURID-MURID
Ya, kami semua ada bersamamu Kakas!
Kakas terharu melihat dukungan teman-temannya. Kakas ingin tersenyum, namun airmata keharuan menetesi pipinya.
KAKAS:
Terima kasih teman-teman semua.
Terima kasih bu Guru.
Aku tak menyangka, semuanya mendukung aku.
IBU GURU:
Kepala Sekolah kita dan Pak Kepala Desa,
telah membatalkan pengadaan rumah kayuh
untuk gubuk bacamu. Namun mereka akan
menghibakan sebuah bangunan yang sudah ada
untuk gubuk bacamu. Karena desa ini merasa
idemu membangun gubu baca adalah ide yang
luar biasa dalam ikut membantu mencerdaskan
anak-anak di desa ini. Kau setuju Kakas.
KAKAS:
(Dengan perasaan terharu)
Setuju bu guru!
Sangat setuju.
IBU GURU:
Nah, acara peresmiannya disiapkan ya.
KAKAS:
Iya Bu.
Semua nampak gembira. Kakas maju menyalami Ibu guru dan teman-temannya dalam suasana mengharukan.
- EXT. INT. BANGUNAN GUBUK BACA YANG BARU—SORE
Sebuah bangunan bergaya Minahasa yang tidak terlalu besar, namun punya halaman yang agak luas dan rindang.
Kakas, Bare, Singkop, dan murid-murid lainnya tampak dengan gembira dan penuh semangat sedang merias bagian luar tempat itu untuk persiapan peresmian.
Di dalam ruangan juga terlihat Pingkan dan beberapa orang temannya sedang menata buku-buku bacaan pada rak buku yang tersedia.
Semuanya bekerja dengan riang gembira menyambut gubuk baca yang baru itu.
- EXT. BANGUNAN GUBUK BACA YANG BARU—SORE
Gubuk baca yang baru akhirnya siap diresmikan. Para murid dan undangan tampak telah duduk di jejeran kursi yang sudah diatur. Di depan, di dekat pintu Gubuk Baca yang baru, ada sebuah panggung kecil. Di sebuah sisi panggung, tampak Kakas sedang memegang seikat balon gas. Di belakang panggung berdiri sebuah papan nama Gubuk Baca yang masih terselubung. Di samping bawah, paduan suara para Siswa kelas VI dipimpin oleh Pingkan, sedang siap-siap membawakan sebuah lagu mengiringi acara peresmian.
Ibu Guru yang bertindak sebagai MC, sesaat kemudian naik ke atas panggung.
IBU GURU:
Acara Peresmian Gubuk Baca Modoinding akan kita mulai.
Peresmian ini akan ditandai dengan pelepasan balon ke udara,
serta pembukaan selubung papan nama, oleh Bapak Kepala Desa
Modoinding.
Dengan hormat kami undang Bapak Kepala Desa
untuk naik ke atas panggung.
Bapak Kepala Desa berjalan, lalu naik ke atas panggung. Kakas menyerahkan ikatan balon gas yang dipegang kepada Bapak Kepala Desa.
KEPALA DESA:
Dengan mengucapkan puji syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan ini
Gubuk Baca Modoinding saya resmikan.
Bapak Kepala Desa melepaskan balon ke udara. Selubung papan nama Gubuk Baca Modoinding pun terbuka. Disambut riuh tepuk tangan dari para murid dan undangan. Paduan suara murid kelas VI pun menyanyikan lagu: “Syukur” mengiringi peristiwa itu.
LIRIK LAGU SYUKUR:
Dari yakin ‘ku teguh
Hati ikhlas ‘ku penuh
Akan karunia-Mu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadirat-Mu Tuhan
——————————-KEESOKAN HARINYA—————————-
- EXT. TEMPAT PARIWISATA DANAU MOAT– SORE
Suasana sore tampak indah di tepi danau. Kakas sudah beberapa saat ada di sana. Ia sedang duduk pada sebuah batu persis di pinggiran, dekat air. Wajahnya masih nampak murung. Ia masih mengingat kepergian sahabatnya Reumanen.
Di tangannya terlihat buku “Pangeran Bahagia” pemberian Reumanen. Sesaat Kakas membuka beberapa halaman buku itu, lalu ia menemukan kertas puisi yang sudah dilipatnya menjadi perahu tersisip dalam buku itu.
KAKAS: (SO)
Kita so tulis ini puisi for ngana Reumanen.
Deng kita so bekeng jadi parao kartas
Kita baharap, parao ini mo sampe pa ngana.
(Aku telah menuliskan puisi untukmu Reumanen.
Dan aku telah membuatnya menjadi perahu kertas.
Aku berharap, perahu ini akan sampai padamu.)
Kakas melepaskan perahu kertas ke air. Perahu itu mulai hanyut dan bergerak menjauh.
FLASH BACK 7
- EXT. DI SUATU TEMPAT DI TEPIAN DANAU MOAT—SORE
Panoramik di tepian danau itu sangat indah. Tampak Reumanen di sana, mengenakan pakaian putih seakan wujud malaikat. Ia menyusuri tepian danau dalam kesendiriannya. Di atas air di tepi danau itu, Reumanen melihat ada sebuah perahu kertas sedang mengapung. Reumanen mendekat lalu mengambil perahu kertas itu, membukanya dengan perlahan hingga kembali menjadi selembar kertas yang berisi puisi dari Kakas.
SUARA KAKAS MEMBACA PUISI: (SO)
Untuk sahabatku Reumanen.
Aku tak pandai menulis puisi.
Yang bisa kutulis hanya deretan kata-kata sederhana.
Namun aku percaya, Tuhan akan melengkapinya untukmu.
Menjadi puisi terindah yang pernah ada.
Persahabatan, kebaikan, dan kasih sayangmu.
Adalah hal yang tak mungkin kami lupakan.
Ia akan selalu hidup, bersemi di hati kami.
terima kasih dari kami anak-anak kebun sayur desa ini.
Dan puisi yang sejati, sesungguhnya adalah dirimu
sahabatku Reumanen.
Setelah membaca puisi di kertas itu, tampak Reumanen tersenyum bahagia. Ia kemudian melangkah pergi, menjauh dan terus menjauh membawa perasaan yang sangat bahagia.
Kembali ke SC 43
Kakas mendadak dikagetkan suara Inyo yang tampak berdiri tidak jauh dari tempat Kakas.
INYO:
Kakas!
Melihat Inyo yang berdiri seperti patung mengenakan jaket dengan penutup kepala, Kakas sontak ketakutan. Kakas menyangka yang berdiri itu adalah arwah Inyo. Kakas pun gegas berlari.
INYO:
Kakas! Ini kita, Inyo.
Kita so sehat. Kiapa ngana tako.
Ngana kita kita setang?
(Kakas! Ini aku, Inyo.
Aku sudah pulih. Kenapa kamu takut.
Kamu kira aku setan?
Kakas berhenti, kemudian menoleh melihat Inyo. Bare, Singkop, dan Pingkan, yang bersembunyi di suatu tempat tak jauh dari Inyo berdiri, berhamburan keluar sambil terbahak-bahak melihat ekspresi Kakas yang ketakutan. Sesaat kemudian, lima sekawan anak-anak kebun sayur itu saling berpelukan dengan perasaan bahagia.
T A M A T
Manado, 17 Juli 2019
iverdixon tinungki

Discussion about this post