Tanaman hias Aglonema kini benar-benar melanda Kota Manado, seiring era Pandemi Covid-19 yang memaksa semua orang lebih banyak berdiam diri di dalam rumah.
Tampak di mana-mana, untuk menghilangkan stress, banyak orang Manado, terutama para ibu ramai berburu tanaman hias Aglonema. Budaya menanam tanaman hias pun sontak menjadi kebiasaan yang dilakukan banyak orang di kota ini.
Aneka Aglonema memang berdaun indah dan menarik. Tidak hanya berfungsi sebagai pemanis ruangan atau taman saja, tapi digandrungi karenya punya manfaat yang luar biasa.
Banyak sumber penelitian menyebutkan, tanaman Aglonema jika dikombinasikan dengan tanaman lidah mertua, dapat menggantikan fungsi AC dalam memfilter udara. Perpaduan keduanya dapat menyerap polutan di udara, seperti asap rokok dan menetralisirnya.
Selain itu, Aglonema atau Sri Rejeki juga bisa jadi anti bakteri yang dapat menekan jumlah populasi spora jamur hingga 50 persen.
Kendati nampak cantik, indah dan menarik, di media sosial beredar isu di mana Aglonema konon merupakan tanaman hias yang beracun dan mematikan.
Menanggapi isu itu, Kementerian Komunikasi Dan Informatika RI melalui situsnya memberikan klarifikasi melalui penyataan pakar yaitu Dr Susiani Purbaningsih, DEA, dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI).
Susiani dalam situs pemerintah tersebut menyebutkan tanaman hias Aglonema atau Sri Rejeki memang memiliki racun pada getahnya. Namun demikian racun getah pada tanaman hias Aglonema atau Sri Rejeki termasuk dalam tingkatan ringan dan hanya menyebabkan gatal-gatal ringan saja, itupun hanya terjadi pada orang yang memiliki penyakit alergi yang berlebihan saja.
“Kalau memang diketahui tingkat racunnya tinggi ya pasti sudah tidak dibolehkan jadi tanaman hias,” tutup Susiani.
Editor : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post