Manado, Barta1.com – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Sulut ke 56 tahun pada 23 September 2020 nanti, terlihat ada tiga rumah adat yang dibangun di areal gedung milik rakyat tersebut. Sekretaris DPRD Sulut, Glady Kawatu memantau tahapan pembuatan ketiga rumah adat tersebut.
“Ada rumah adat Minahasa, Bolaang Mongondow dan Nusa Utara akan dipamerkan saat perayaan HUT Provinsi Sulut ke 56 tahun nanti. Ini merupakan hal yang perlu dibuat dan diperlihatkan bagi daerah luar. Paling penting memperkenalkan ciri khas ketiga budaya ini agar tidak hilang akan jati diri kita,” kata mantan pensiunan Dinas Kebudayaan Sulut, Safri Agamsi menjelaskan tujuan Sekretariat DPRD Sulut membuat tiga rumah adat tersebut, Kamis (17/9/2020).
Cerita singkat tentang filosofi tiga rumah adat yakni Wale, Baloy dan Bale yang disampaikan Safri Agamsi kepada Barta1.com di Kantor DPRD Sulut.
Menurutnya, rumah adat Minahasa yang disebut Wale. Ini hanya ditampilkan sebagian saja karena tidak sesuai dengan gedung yang ada. Namun rumah adat sudah berbentuk replika Minahasa.
“Pada dasarnya rumah adat Minahasa sama dengan Nusa Utara dan Bolaang Mongondow. Semua terbuat dari bambu akan bahan rumahnya. Ketika pergeseran penjajah Belanda dan Portugis masuk ke Minahasa tahun 1942 bersama-sama dengan kesultanan Ternate masuk daerah Minahasa. Dan mereka membawa berbagai perbekalan salah satunya seperti atap seng. Dan mereka mendirikan tempat-tempat berteduh sudah beratapkan seng. Sehingga para leluhur Minahasa pada jaman itu sudah terpengaruh. Karena banyak seng dibawa oleh penjajah Portugis. Di situlah rumah adat Minahasa berubah, yang dulunya memakai atap rumbia dan berupa menjadi atap seng,” katanya.
Rumah adat Wale saat ini bisa dilihat di daerah Tondano, dekat pasar yang disebut loji Minahasa. Filosofi rumah adat ini memiliki tangga kiri dan kanan untuk menuju pintu masuk.
Tidak secara langsung dibuat tangga dari depan. Menurut kepercayaan nenek moyang dulu, bahwa ketika mereka keluar malam, kemudian kembali ke rumah tidak diikuti langsung oleh mahkluk-mahkluk alus ke ruang tamu atau kamar. “Jadi mahluk halus ini melewati pintu masuk,” ujarnya.
Rumah adat Minahasa ini tingginya bisa mencapai 2 meter. Di bawah rumah itu digunakan untuk tempat mengingat macam hewan peliharaan seperti, sapi dan sapi.
Kemudian kenapa tidak ada dapurnya. “Dapurnya biasanya terpisah dari rumah adat, yang berguna menghindari sewaktu-waktu mereka memasak kemudian terjadi kebakaran. Agar badan rumahnya tidak terbakar. Biasanya bagian tengah ada loteng, di situ digunakan sebagai tempat penampungan hasil pertanian seperti padi dan jagung. Jika hidup berpindah-pindah sudah ada bekal yang sudah disiapkan,” kata Safri Agamsi lagi.
Sedangkan Bolaang Mongondow rumah adatnya disebut Baloy. Bentuknya sama dengan Minahasa, namun ada kerajaan di sana tidak terpengaruh dengan adanya budaya penjajah.
“Mereka tetap mengunakan atap rumbia dan bambu. Adapun mengunakan daun woka. Terus ikatan-ikatan rumah itu tidak mengunakan paku yang seperti saat ini. Namun tetap mengunakan tali ijuk,” ujarnya.
Nah, Nusa Utara rumah adatnya disebut Bale. Rumah adat Nusa Utara juga mengunakan tali Ijuk. Kenapa tidak sama dengan Baloy, untuk rumah adat Sangihe ada bedanya. Dimana rumah adatnya menghadap laut, jadi ada hempasan angin, ombak dan petir biasanya bisa ditepis oleh bambu runcing yang ditajamkan di atap rumah.
“Dan itu menjadi kepercayaan oleh leluhur Nusa Utara. Bale juga dibuat tinggi atau disebut panggung guna menghindari binatang buas. Dan Bale, ruangannya tidak ada kotak-kotak, dan hanya ada sampiran yang mengunakan kain panjang untuk membatasi ruangan,” ucap Safri.
Sebentar pada perayaan HUT Provinsi Sulut ke 56 tahun, pada 23 September 2020, tiga rumah adat akan diperlihatkan juga soal pakaian adat, peralatan adat dan makanan adat.
“Jika Gubernur Sulut, Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Sulut, Steven OE Kandouw serta tamu-tamu yang akan berkunjung ke tiga rumah adat ini. Akan kami jelaskan,” bebernya. Ketiga rumah adat berukuran 4×280 dengan tinggi 30 m dengan warna cat pernis.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post