• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Kamis, April 30, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur

Jejak Teater Modern di Manado (2): Para Aktor Berumah di Deburan Ombak

by Iverdixon Tinungki
14 Agustus 2020
in Kultur, Seni
0
Jejak Teater Modern di Manado (2): Para Aktor Berumah di Deburan Ombak

Sebuah pertunjukan teater di Manado. (foto: dok barta1)

0
SHARES
437
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sebagaimana hakekatnya, berkesenian adalah jalan merayakan kehidupan sekaligus mengeritiknya, demikian jejak teater modern di Manado dibangun di pucuk-pucuk falsafah ombak, terus mendebur, bahkan mendebam.

Dan para aktor dari angkatan awal itu, akan diingatkan detil-detil terindah pesisir ini. Bisa jadi, itu hadiah berharga saat mereka menemukan diri dalam kreasi panggung, gestik, mimik atau di jejak sebuah jalan karier yang lain.

Demikian menelusuri jejak teater modern di Manado tak mungkin meluputkan ingatan saya pada Dijana, sebagaimana pesohor seni Benni M. Matindas hingga Didi Koleangan dalam diskusi belum lama dengan penulis, mengungkapkan kesan mendalam terkait kemampuan akting aktris cantik itu.

Di Manado orang lebih mengenal Dijana sebagai anggota DPRD Kota Manado periode 2014-2019 dari Partai Nasdem. Namun, saya mengenal Dijana Silfana Pakasi, sedikit dari aktris teater berbakat era akhir 1970-an yang sudah pasti lekat dengan pantai Manado sebagai area berlatih.

Saya termasuk generasi setelah Dijana. Saya seangkatan sedikit ke depan, yaitu menjelang akhir 1970-an hingga awal 1980, ketika panggung teater Manado disemaraki generasi setelah Dijana, di antaranya, Dharmawati Dareho, Nonce Paputungan, Novety Sambul. Dan para aktor era 1970-a itu antaranya, Wempi Lontoh, Karel Takumansang, Johny Rondonuwu, Kamajaya Alkatuuk, Frangky Kalumata, Frangky Supit, Benni M Matindas, Muhidin Bulwafa, Royndra Kairupan, Wenny Pantouw.

Baca juga: Jejak Teater Modern di Manado (1): Dari La Belle au Bois dormant Hingga Perang Cordoba

Di penghujung pekan, gadis-gadis belia pemilik talenta akting itu biasanya bergabung dengan puluhan aktor dari berbagai grup teater di Manado, melakukan latihan dasar teater yang dibimbing para punggawa teater modern Manado seperti Baginda M. Tahar atau Husen Mulahele.

Era tonil dan sandiwara mulai sayup-sayup terdengar saat para belia ini mengisi panggung-panggung pertunjukan di Manado. Di pesisir Manado, sebagai rumah kontemplasi para dramawan, mereka telah memakai istilah teater untuk mengganti istilah drama, tonil dan sandiwara.

Sebagaimana tradisi teoretik teater modern, di tepi-tepi pantai itu, dari banyak hal yang kami petik dari Husen, setidaknya ada beberapa pokok penting dalam pesiapan seorang aktor yaitu sejumput latihan olah rasa, olah pikir, dan olah tubuh, hingga perkara tata artistik, dan manajemen pertunjukan.

Ketika Baginda M. Tahar, dramawan kelahiran tahun 1925 itu mendirikan Teater Lentera pada akhir 1970-an, penulis drama Gelandangan, Sepiring Rujak, Sang Maut (adaptasi karya Goethe “Faust”) ini telah menjadikan tepian pantai Manado yang indah sebagai tempat latihan.

Sebagaimana Tahar, Husen Mulahele, pendiri Teater Manandau, juga menjadikan tepi pantai kawasan Kota Manado yang rindang dan bersih sebagai ruang-ruang latih, kontemplasi, bahkan tempat diskusi.

Dan, di pantai mana pun Husen Mulahe berdiri, ia tampak bagai rasul sekaligus sang arifin bagi para pemanggung di Manado. Nyaris disetiap penghujung pekan, ia akan menggiring puluhan anak-anak calon penjaga denyut peradaban itu menuju pantai, kalau bukan di pesisir Karangria, barangkali di Bahu, Malalayang, atau di bibir “bendar” pusat kota lama.

Pantai Manado Era 1970-1980

Ada puluhan usaha pukat dampar milik keluarga juragan-juragan pribumi seperti Keluarga Heydemans, Podung, Manuahe, dan orang-orang keturunan Spanyol-Portugis yang sudah lama menetap dan membangun kampung-kampung Borgo di tepi pesisir Manado. Kampung-kampung itu diantaranya: Bitung Karangria, Bitung Kecil (Sindulang), Singkil, dan kampung Pondol. Di era itu, pada malam hari kita akan memandang deretan lampu dari perahu nelayan mengapung indah di teluk Manado.

Di antara bau payou yang menguar, tampak nelayan penjaga lampu Kana (Lentera penanda tempat dampar pukat) duduk menanti datangnya waktu riuh teriakan; “Hela haluang kamudi’’ sebagai petanda pukat dampat sedang di daratkan. Inilah kultur menjaring ikan di tengah malam menjelang pagi.

Di hari lain, pukat itu bisa ditebar di siang hari, saat burung-burung laut riang berkicau memberi petanda ada gerombolan ikan palagis memasuki teluk ini. Itulah masa, ketika nelayan pesisir Manado benar-benar menikmati kelimpahan berkah dari anugerah alam laut kepada mereka.

Pada saat purnama tiba, ketika nelayan pukat dampar istirah dari kegiatan mereka, selalu ada pesta syukuran atas kurnia dari laut laut tempat mereka melarungkan hidup. Pesta itu akan diwarnai kegembiraan yang membuncah. Ada tari Katrili dan Volka peninggalan budaya Spanyol-Portugis bagi masyarakat Borgo digelar di sana. Terkadang juga tari Cakalele yang rancak ditarikan para lelaki dengan pedang sambil melototkan matanya yang menakjubkan.

Sayang rasanya, sejak pembangunan jalan Boulevad dan reklamasi dimulai sejak 1995, tradisi pukat dampar pun punah bersama matinya kultur perikanan pesisir pantai Manado ini.

Dan sarkasme “Ibukota lebih kejam dari Ibu tiri” benar-benar mendapatkan maknanya yang tepat, kendati buat Kota Manado yang sesungguhnya berjuluk kota religius. Nelayan-nelayan yang kalah berebut akses pantai dengan bisnis-bisnis raksasa yang menggila, terpaksa beralih profesi.

Dan reklamasi tak saja memusnahkan keindahan eksotis pantai Manado, mengangahkan kesenjangan sosial, mendepak 29.500 KK warga pesisir dari tempat tinggal mereka, juga menghapus jejak masa lampau sejarah teater modern yang berumah di tepi pantai. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
Tags: Benni E MatindasDidi KoleanganDijana Silfana PakasiJejak Teater Modern di Manado
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Skuat Sulut United Kumpul di Hari Kemerdekaan Tanpa 4 Pilar Utama

Skuat Sulut United Kumpul di Hari Kemerdekaan Tanpa 4 Pilar Utama

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Ajang Talenta SMP 2026, Ruang Pembinaan Prestasi dan Karakter Siswa Sangihe 30 April 2026
  • RSUD Liun Kendage Akui Kekosongan Obat, Sebut Dampak Transisi Pengadaan 29 April 2026
  • RSUD Liun Kendage Gandeng Dekopinda untuk Menata Usaha di Lingkungan Rumah Sakit 29 April 2026
  • Menyiapkan Generasi Vokasi di Era Digital: Kuliah Umum Polimdo Angkat Isu Digital Marketing dan Keuangan Praktis 29 April 2026
  • RDP DPRD Sulut: Pokir Lenyap, Bantuan Rumah Ibadah Tak Ada di Tomohon 29 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In