Hari ini, Kamis, 23 Juli 2020, Sanggar Seni Tangkasi Bitung berusia 37 Tahun. Banyak kegiatan digelar seiring peringatannya. Di antaranya, lomba baca puisi, menyanyi lagunya ciptaan Leonardo Axsel Galatang, aksi teaterikal hingga seminar teater via online, dan sejumlah pentas seni lainnya yang disiarkan lewat Tangkasi TV.
Sanggar yang berhasil menjadi sekolah peradaban dan mengantar ribuan anggota binaannya ke puncak sukses di berbagai profesi ini, ternyata berdiri di atas sejarah awal yang kelam dan berdarah. Bagaimana kisahnya? Berikut ini Barta1.com melansir sebuah dokumen tulisan Leonardo Axsel Galatang yang tersimpang dalam file Litbang Sanggar tersebut:
Tangkasi 37 Tahun Lalu
22 Mei 1983, di rumah Dawin Bulahari, saya pertama kali mengemukakan ide membentuk kelompok Teater dan Pecinta Sastra. Selain Darwin ada juga Roland Sarante. Tapi respon kedua teman baik saya itu biasa-biasa saja. Saya tak peduli dan tetap ngotot. Akhirnya Darwin bersedia meminjamkan mesin ketik ayahnya untuk saya pakai mengetik susunan pengurus, tentu saja nama-nama masih kosong, karena Darwin dan Roland tidak bersedia dengan alasan mereka tidak paham teater apalagi sastra.
Keesokan harinya, saya kemukakan ide saya kepada Semuel Muhaling, di kantin sekolah milik Ci Lan. Kebetulan saya dan Semuel baru minggu sebelumnya mendirikan Majalah Dinding Sekolah. Semuel setuju. Maka hari itu, saya pun bergerilya masuk-keluar kelas untuk merekrut anggota.
Tanpa diduga, banyak siswa SMA Negeri 458 Bitung (sekarang SMA Negeri 2) yang berminat, terutama adik-adik kelas. Sementara dari kelas 3 selain saya dan Semuel ada nama Isna Bunaen dan Verna Pulu. Sementara adik-adik kelas yang bergabung ada nama Rony Saud, Henky Budiman, Noldy Husein, Junus Abdul, Lany Mongkau, Judy Kuemba, Nilam Kabuhung, Rina Bunaen, kakak beradik Saiful dan Rosdiana Mujiono, Sitti Ama Kasuba dan lain-lain.
Singkatnya, hari itu juga kami menggelar rapat pemilihan pengurus. Kebetulan, secara aklamasi saya dipercayakan jadi Ketua, Semuel Wakil Ketua, Sekretaris Isna Bunaen, dan Lanny Mongkau diserahi posisi bendahara .
Teman-teman juga bulat sepakat dengan nama wadah yang saya ajukan, yakni Teater Repsas ‘ 83, atau Remaja Pecinta Sastra dengan embel-embel ’83, sebagai penanda tahun berdirinya.
Empat hari kemudian, Pengurus Teater Repsas 83 disahkan dan dihadiri Kakandep Dikbud Bapak J.H. Bororing, tepatnya di halaman rumah Darwin Bulahari, Jln. Siswa Madidir
Baca juga: Leonardo Axsel Galatang dan 37 Tahun Sanggar Seni Tangkasi: Sebuah Catatan (1)
Leonardo Axsel Galatang dan 37 Tahun Sanggar Seni Tangkasi: Sebuah Catatan (2-Habis)
NYARIS TAK KELUAR REKOM
Setelah terbentuk, kami giat latihan di depan Kantor Walikota Adiministratif Bitung (sekarang kompleks pertokoan depan Bank SulutGo). Sederet perlombaan baca puisi pun selalu dimenangi anak-anak Teater Repsas 83. Tetapi ketika kami hendak menggelar pementasan musikalisasi puisi saya, kami terbentur tembok Orde Baru.
Teater Repsas 83 belum terdaftar di kantor Sospol. Meski saya sudah bolak-balik melengkapi berkas yang.disyaratkan, rekomendasi Sospol sebagai tanda absahnya sebuah wadah, tetap tak dikeluarkan. Alasannya rupa-rupa, tapi belakangan saya baru tahu, ternyata nama saya sudah masuk daftar “orang yang patut diwaspadai”. Alamak..! Kenapa? Rupanya aksi demo siswa yang saya pimpin tahun sebelumnya, 1982, jadi alasan untuk “memblokir” rekomendasi berdirinya Teater Repsas 83.
Dalam demo yang memprotes rupa-rupa pungutan dari pihak sekolah itu, saya dan beberapa teman, sebutlah Roland Sarante, Darwin Bulahari, Tavip Mohune, Arifin Mokodompit, Soleman Usman dan Sonny Wenas dijemput aparat ABRI dan diinterogasi di markas Lanal oleh personil Laksus, Sospol, dan Reskrim selama sepekan.
Teman-teman kemudian dikenakan wajib lapor, sementara saya ditahan selanjutnya dijadikan pesakitan di ruang pengadilan. Saya dituduh menghasut siswa untuk merongrong kewibawaan pemerintah dan mengacau pelaksanaan Pemilu 1982.
Beruntung kasusnya diambil-alih oleh Depdikbud dan lagi-lagi J.H Bororing yang pasang badan sehingga saya tak masuk bui dan status saya dan teman-teman sebagai siswa dipulihkan. Kami juga senang karena (maaf) kepala sekolah diganti termasuk Ketua BP3.
Belakangan beberapa anggota baru bergabung, antara lain Mariska Lahindo, Hanny Pannkey, James, Arifin Eros Mokodompit dan Denny FR.
Walaupun demo yang saya pimpin “menang”, tidak lantas menghapus nama saya dari daftar “orang yang patut diwaspadai”. Itulah yang.membuat rekom pengesahan Teater Repsas ” terblokir”. Menyerah..? hahaha… Tidaklah yauuu…!
DIBANTU WARTAWAN & WALIKOTA
Diblokirnya rekom tak membuat saya patah arang. Tapi saya tidak memberi tahu teman-teman bahwa rekom tak keluar dari kantor Sospol. Makaud saya, agar teman-teman tak patah arang dalam latihan.
Sampai satu ketika, saya bertemu dengan Hengky Adipati, wartawan Harian Obor Pancasila, yang dulu gencar menulis berita tentang demo siswa dan penangkapan saya. Hengky Adipati inilah yang mempertemukan saya dengan Walikota Administratif Bitung kedua Drs K. L. Senduk.
Setelah mendengar penjelasan saya, Walikota langsung memanggil Kakan Sospol Drs Gerungan dan stafnya bapak Zamsam Darondo. Atas perintah lisan Walikota, hari itu juga rekomendasi langsung saya bawa pulang. Uhuuuyyy… senangnya. Tepatnya, 23 Juli 1983, yang kemudian ditetapkan sebagai HUT Sanggar Tangkasi.
Baca juga: Sanggar Tangkasi Bakal Gelar FTR Se-Sulut
IZIN TAK KELUAR
Ternyata “kegembiraan” saya cuma sesaat. Meski sudah mengantongi rekom Sospol, izin untuk menggelar pemetasan dari Kodim Minahasa cq Koramil Bitung Tengah dan Polres Minahasa cq Polsek Bitung Tengah masih jauh panggang dari api.
Alasannya kali ini cukup “seram”: saya tidak mengantongi Sampul C dari Kodim. Gawat..! Untuk diketahui anak zaman now, Sampul C itu berisi keterangan bahwa seseorang “bersih Lingkungan” alias tidak terlibat G30S/PKI termasuk keluarga besar. Tapi lagi-lagi saya rahasiakan hal ini kepada teman-teman agar semangat mereka tak luntur.
Lantas? Saya nekat menggelar pemetasan musikalisasi Puisi saya ODE UNTUK PAHLAWAN REVOLUSI di Balai Desa Pateten bekerja sama dengan pengurus KNPI kelurahan yang diketuai Sumarto Lanae. Tentu saja penggunaan Balai Desa atas izin Hukum Tua Pateten, Bpk Awundatu.
Dengan diterangi obor dan lampu petromax, pemetasan produksi pertama itu lumayan sukses, penonton berjubel dan teman-teman puas. Saya pun senang, meski dalam hati kegalauan akan akibat pementasan tanpa izin, terus berkecamuk.
Sekitar pukul 10 ( 22.00 Wita) kami bubar, saya naik bendi ke pusat kota, selanjutnya berjalan kaki ke Madidir karena sudah tidak ada ongkos untuk naik oplet. Meski dalam keadaan perut keroncongan akhirnya saya tiba juga di muka lorong virgo ( sekarang lorong Horizon).
Tiba-tiba saya dipepet dua motor, dan belum hilang rasa kaget salah seorang langsung menendang perut saya sampai saya tersungkur. “Dasar otak PKI, he dengar bae2. Esok ngana menghadap ke kantor. Mangarti?” hardiknya sambil pergi dengan motornya. “Awas, kalu ngana nyanda datang esok, torang suruh kase kaluar pa ngana dari sekolah,” ancam yang lain, lalu tancap gas.
Sambil menahan sakit di perut, saya pulang dan masuk diam-diam dari pintu dapur. Esoknya, dengan seragam sekolah saya menghadap ke kantor mereka. Rupa-rupa pertanyaan yang diberondongkan kepada saya plus “bonus” tamparan dua kali dan satu tendangan di tulang kering. Endingnya, saya disuruh membersihkan closet di WC dengan tangan kosong. Untung ada Serma Tatuho yang satu gereja dengan saya (GMIM Sion Madidir), beliaulah yang mengantar saya ke Rumah Makan Kota Mars, ditraktir makan sebelum dibonceng pulang ke rumah.
Baca juga: Hasil Lengkap Festival Teater Remaja 2019
SEMPAT KOMA.
Kapok? Tidak juga, cuma sedikit “mengalah” apalagi sebentar lagi Ujian Akhir. Tapi kami masih sempat ikut Festival Teater Remaja di Pingkan Matindas dan ikut dalam pentas amal untuk pembangunan mesjid bersama remaja mesjid Uswatun Hasana Parigi Topor, di desa Nonapan 1 Kecamatan Poigar Bolmong.
Setelah lulus ujian, angkatan pertama Repsas ’83 banyak yang keluar daerah. Saya sendiri langsung “magang” di Obor Pancasila. Tapi tetap merekrut anggota baru, dengan pelatihan pertama di kawasan Cagar Alam, Batuputih, 10 – 13 Juli 1984.
Saat itu pula saya pertama kali melihat monyet mini, (Tarsius Spektrum) yang masyarakat biasa menyebutnya TANGKASI. Karena tertarik dengan keunikannya, pada malam penutupan Pelatihan Dasar, saya secara resmi menggati nama Teater Repsas ‘ 83 menjadi Sanggar Tangkasi, sampai sekarang.
Bersama Tangkasi, saya dua kali mewakili Kotif Bitung ke Festival Teatar Tradisional dan Sendratari Se-Sulut. Hasilnya, puji Tuhan, dua kali pula juara umum, dengan meraih gelar Aktor Terbaik atas nama Markus Sarante dan Sinyo Wodi, Aktris Terbaik atas nama Pingkan Sondakh dan Arfa Lahya, serta sutradara terbaik dan naskah terbaik.
Atas dasar prestasi itu, kami diundang oleh Walikota K.L Senduk bersama ibu dalam jamuan makan malam di rumah dinas. Apresiasi dari Walikota menjadi dasar pemikiran saya untuk mengajukan permohonan izin untuk pentas produksi.
Hasilnya tetap ditolak. Akhirnya saya dan teman-teman nekat pentas di pinggir Pantai. Syukur, pementasan di bibir pantai kali ini lolos dari “radar” aparat. Tapi, saat saya menggelar Lomba Teater Tradisional dan Sendratari pertama, tepatnya di aula Stela Maris Kompleks persekolahan Katolik, 11 November 1984, itulah masa yang paling kelam dalam hidup saya.
Beruntung pastor (maaf saya lupa nama beliau) yang memberi izin tempat “pasang badan” sehingga lomba tak dibubarkan.
Tapi, saya langsung diseret dan “dibina” hingga sekarat di markas mereka. Dan dalam keadaan ‘seperempat hidup”, saya “dilempar” ke bak penampungan air hujan dan disuruh “menghabiskan” satu balok sabun Cap Tangan.
Axel Galatang, pendiri Sanggar Tangkasi Bitung
Ibu saya yang tengah jualan sayur keliling di lorong delapan juga dijemput, begitu juga ayah saya yang baru pulang dari kebun dijemput dan semua karya saya, ratusan puisi, puluhan teks drama, cerpen dan novelette digeledah dan dibakar di halaman rumah, disaksikan ayah saya yang tak mengerti masalah. Kemudian kakak saya yang guru di SD GMIM Mawali jadi “wajib lapor” dan gajinya ditahan selama 3 bulan. Untung adik saya sudah merantau ke Jakarta saat lulus SMA.
Setelah diperiksa sampai subuh, ayah dan ibu saya dilepaskan. Rupanya ibu saya, langsung menghubungi Bapak JH Bororing. Lagi-lagi beliaulah yang menjamin pembebasan saya sekaligus “melarikan” saya ke RS Hermana Lembean dalam keadaan koma.
Saat sadar tiga hari kemudian, saya baru tahu kalau betis kanan saya patah dan disambung platina, begitu juga dengan tulang pinggul saya harus disesaki dengan platina. Sisa dari semua itu, saya mengalami gagap berbicara dan berjalan tidak normal lagi.
Dendam..? Dari relung nurani paling dasar, dan dalam nama Tuhan saya dengan tulus memaafkan dan mendoakan mereka, tepatnya minggu keempat, saat meninggalkan halaman Rumah Sakit Hermana Lembean, senja itu. (***)
Editor: Iverdixon Tinungki


Discussion about this post