Sangihe, Barta1.com – Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi salah satu daerah yang hingga hari ini ketahanan pangannya masih relatif cukup walau diterpa pandemi covid-19. Hal demikian tak lepas dari intervensi program yang beberapa tahun ini menekankan kekuatan lokalitas khususnya di bidang pertanian.
Yang begitu kental di antaranya adalah “dua hari tanpa makan nasi”. Sebuah geliat program yang memberi stimulus peran para petani untuk menguatkan ketahanan pangan lokal. Bisa dikatakan hal demikian berbuah manis di tengah pandemi Covid-19. Merebaknya data statistik inveksi virus Corona di Manado, membuat penjadwalan kapal penumpang menjadi sedikit lama dibandingkan jadwal sebelumnya. Keterlambatan kapal cukup berpengaruh besar terhadap beberapa kebutuhan rempah dan pangan lainnya di daerah kepulauan Sangihe yang biasanya bergantung penuh dari sejumlah pasar di Manado ibu kota Provinsi Sulawesi Utara.
Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat sedikitnya ada 11 kecamatan yang telah menggarap lahan perkebunan, dengan didorong penyaluaran bibit pangan lokal dan hortikutura berdasarkan kondisi wilayah. “Ubi Jalar kami bagikan di wilayah Kecamatan Tabut, Mangsel, Kendahe dan Manganitu. Untuk Talas di Kecamatan Tabteng, Tamako, Tabsel, dan Tabselteng. Sedangkan Ubi Kayu di Kecamatan Tahuna Barat, Kendahe, Tahuna, Marore serta Manganitu,” ungkap Kepala Dinas Pertanian, Golfried Pella, Sabtu (6/6/2020) kemarin.
Sementara untuk benih Hortikultura berupa bawang, cabe dan tomat sudah tersalur beberapa bulan yang lalu. “Untuk cabe di Kecamatan Tahuna Barat, Tabsel Tabteng dan Tabut. Tomat di Kecamatan kendahe, Tahuna, Tabteng, Tabut. Sedangkan Bawang Merah di Kecamatan Mangsel, Tabut, Tabteng dan Tahuna Barat,” sambungnya.
Sangihe sendiri memang mempunyai cita-cita untuk mewujudkan kemandirian pangan kedepannya. Meski begitu menurut Pella untuk saat ini baru dimulai pada tatanan pengendalian harga, meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat petani di tengah suasana pandemi covid-19 sekarang ini.
“Saat ini kita bisa melihat meski keadaan kapal yang jarang masuk, tetapi produk pangan dan hortikultura tetap terjaga, misalnya rica dan tomat yang saat ini harganya tidak sampai melonjak tinggi. Untuk itu pasokan dari luar daerah harus dikurangi karena ketika datang dari luar daerah harga itu di atas karena permainan pedagang,” ungkapnya.
Salah satu keunggulan produk lokal Sangihe menurut Kadistan adalah keamanan pangannya. Kalau di Sangihe sendiri menurutnya bisa dikontrol untuk keamanan pangan misalnya, khusus tahun ini mereka memfasilitasi selain pemberian benih, juga pupuk kandang dan sudah berusaha mengurangi penggunaan bahan kimia. Dia mengakui, pihaknya sering mengimbau masyarakat petani agar pemakaian pupuk kimia tidak lebih dari 30 persen.
“Memang untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia ini sulit dikontrol. Karena juga unsur hara yang terkandung dalam pupuk kandang kurang dibadingkan dengan pupuk kimia. Makanya hanya ditambah sedikit, jangan 100 persen. Idealnya jika ingin produksi tanaman yang bagus, maka pemakaian pupuk kimia 100 persen, tetapi kita harus menghindari ini, apalagi rica dan tomat bisa dikonsumsi langsung,” Jelasnya lagi.
Data lapangan pemantauan harga Dinas Perindustrian dan Perdagangan menerangkan harga rica beberapa hari terakhir ini berada di posisi 50 hingga 60 ribu perkilo. Sedangkan tomat 10 hingga 15 ribu. Dan ini menurut Kepala Dinas Perindag, Felix Gaghaube, masih pada tingkatan harga yang cukup stabil.
“Harga rica 50 hingga 60 ribu. Tomat 10-15 ribu. Ini dalam posisi cukup stabil. Bawang yang saat ini agak mahal karena rata-rata bawang masih dari Manado. Sementara kapal hanya dua trip. Kita berharap bulan depan memang ada panen bawang yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian. Cuma apakah bawang itu akan bisa memenuhi pasar atau pasar lokal dimana mereka menanam. Soalnya bawang harus melihat musim tanam juga, kalau hujan kan berat. Tapi syukur Dinas Pertanian tetap berupaya terus, hal tidak pernah ada, menjadi ada,” jelas Gaghaube, Minggu (7/6/2020) sambil menyentil soal adanya beberapa oknum pengepul biasanya sengaja memainkan harga.
Bupati Kepulauan Sangihe, Jabes Ezar Gaghana, ditemui di lokasi perkebunan warga di Kecamatan Tabukan Utara Sabtu kemarin menuturkan impian Kepulauan Sangihe kedepannya adalah kabupaten yang mandiri dengan memberdayakan sumber daya lokal yang ada. “Ini merupakan langkah-langkah yang ditempuh dinas pertanian bersama jajaran untuk mempersiapkan Kabupaten Kepulauan Sangihe betul-betul menuju kemandirian suplai pangan lokal. Jadi kita tidak hanya fokus di sagu, tetapi juga mengembangkan ubi jalar, ubi kayu dan talas,” ungkap Gaghana. (*)
Peliput : Rendy Saselah

Discussion about this post