• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Senin, April 20, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Gallery

Puisi-puisi Iverdixon Tinungki Tentang Talaud

by Ady Putong
18 Mei 2019
in Gallery, Sastra
0
Puisi-puisi Iverdixon Tinungki Tentang Talaud

Budaya dan Tradisi di Kepulauan Talaud. (foto: Erwin Tamatompo)

0
SHARES
522
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SAWAKKA

kenduri bidadari
pesta penghulu mata angin
batu hitam. batu kata
bisa ya bisa
bertamburlah!

tetua menghunus belati
menyatu moyang
brengbreng. tarian lepas
hati menepung dan lepas

ombak adalah sejarah tua tak kenal rentah
merentak disetiap tubuh mencari sebuah pucak mantra:

siapa engkau
aku naga. naga menyan berwarna ungu dan merah
wewangian liang hati asal cinta bertubah

berapa rupa bunga
berapa tangkai melati
untuk kudupa pada bumi

aku hanya minta kau mengingatku bagai kekasih
sulihlah mimpi hutanhutan ingin tumbuh
laut tak kau lupa
katakata tak beku

jadi?
mari menari dengan arakku
darah pulau karang selalu mendidih

–di pagi hari saat matahari tiba
ada dunia di balik kita berbisik—

AKU PERNAH SAMPAI DI ARANGKAA

aku pernah sampai di Arangkaa
di dusun kering
di tempat mimpi selalu tak mungkin
dan luka api masih berdarah

seuntai lagu di langit
dari suara seekor kunang
dipantul dinding batu
mengkremasi kujur tua bulan kesepian

aku pernah sampai di Arangkaa
di padang puisi yang luput ditafsir penyair
dan senja lenyap di tanjung

bagaimana membedakan riang dan kabung

di bawah patung Larenggam letih setua abu
dan sudah senyap perayaan suasa pemetik tradisi
hanya bau angus catatan sejarah
tengkorak hancur dalam gua

seorang nenek tua bungkuk mengayam pandang
dengan kemerdekaan irama jarinya
ia tak punya sehelai bendera
buat dikibar bersama duka

MAKATARA

pohonpohon kayu besi yang daundaunnya mengkilap
taklit memandang sejarah arus menderam
dalam pesta tambur yang sudah dimulai dari abadabad jauh

mereka masih mengenang mahapati elang
datang dalam wujud burungburung legenda
dari majapahit sejak tahun 1293

paporong hitam, merah, dan putih
gemerlap di atas kepala
bungabunga hutan pulau bersama melepas bau magisnya
memanggil makatara yang hilang dari peta

puluhan lelaki berbaris
tangan mereka menyimpan derap
tersemai dari darah pertama
pemberani lautlaut nusantara

mereka masih menyimpan tempur di hulu dada

batubatu bersusun
dan ombakobak kasar menamparnya
ia tak beringsut

datu telah mencelupkan hatinya
dalam rendaman bunga sepatu dan menuru
masih mantra hingga kini pada setiap langkah, tatapan mata

tak ada yang remuk di sini
ketika di tahun 1987 aku menyambangi budaya dan bau ikan
dalam taritarian perahu dan sebuah rekonstruksi pertempuran

anakanak menghafal dengan benar;
“uda makat raya”
meski jejaknya kini hilang dari sejarah
sejak mpu prapanca usai menulis nagarakertagama

MENGENCANI HENING AMPADOAP

aku mendengar suara pulau
di ampadoap
dihari bergenang sinar

air terjun
hutan wallacea
nuri dan sampiri yang gembira
Tuhan bernyanyi sendiri tanpa katakata

aku mendengar. mendengar dengan takjub
suarasuara riang dan hidup
denyar
gelombanggelombang yang tak pernah tidur
dan rumput seakan punya mulut
bersenandung

aku jatuh cinta, kembali jatuh cinta pada pulau
sejarah tua ibu
melabuhku sehidu bau rahim
bunga lili
dan semak yang leli

aku kembali lahir
kembali lahir sebagai anak utara
anak yang digendong laut
rentak perahu
dan maut yang duduk di ujung biduk

DAPALAN

antara pasang umaendo atolla
antara bulan lattu naworaa
kucari engkau ya Derro

antara dua sungai kecil
aku ingin menari bersamamu
merayakan bondang
meriangi alenda
bagai puisi bagai darah
bagai hidup bagai arah

kucari engkau dalam nama baraatta
dalam magunde, dalam megaloho

kucari batu baliang
kucari guru gelombang yang hilang
juga Etengan sang moyang
penyeduh pasang
sejarah laut yang kurayakan

di Manahe
tak ada lagi tiga puluh lima lelaki
siapa berjaga di laut raya ini
untuk kemudi punya arah melabuh diri

pohonpohon panamburin dan kapuracca
menjuluri tanjung yang tak kaubaca
doa daun gugur ke tanah
menangisi telenggo patah pucuknya
dalam usia yang siasia

Derro ya Derro
berkayuhlah di sini, di kisah anak hilang ini
dierang liang mengguruh hari yang padam
di kaki yang berjalan tak bertemu padang

antara dua sungai kecil
aku ingin menari bersamamu
merayakan bondang
meriangi alenda
bagai puisi bagai darah
bagai hidup bagai arah

MORONGE

bumi itu penutur yang sabar
mendaunkan kita
sebidang tanah dongeng
tentang padi
tentang pagi memantik seulas nyala api

pabila angin bertiup ke ladang
petani mengarib nyanyian
dan air mata sekam pecah di tangan
menyusun riwayat kematian

akhirnya aku tahu
bumi itu kekasih dan dongeng
benih yang tersebar
akan menjelma tugu garam
buram dan tajam

di sebidang masa lalu itu
kita mendengar kegembiraan
dan cibiran
saling memburu
dalam catatan seorang gelandangan

RAINIS

di bukit Yambu
kupanggil Ramensa
perahu lama di sini berkisah
cinta tumbuh sebagai buah
dalam siasat manis dan sepatnya sejarah

di bukit Yambu
kupanggil Yambu
Ramensa mendekapku
aku bagai kekasihnya

–sejak lahir aku didongengkan tanah
dan debu tumbuh jadi manna

mereka yang menenun air mata
mengisaki riang tergeletak pada rekah bunga
dan burung dara beterbangan
mengayam sebuah sarang
dan sepasang sayap tumbuh di punggungku
aku terbang

aku terbang dalam dongeng pulau ini
dalam doa moyang tua
sejak buah nenas pertama matang
dan Parangeng kusajakkan dalam catatan uban

PULAU KARANG NAPOMBARU

seekor kunang
menukik ke samudera
meniupkan suling dari abad yang hilang

seekor kunang
menukik ke samudera
mereguk api di liang cinta dan tangisan

–pulau karang inilah yang mendongengkannya

ada sepasang kekasih mengalahkan kematian
karena apa yang lekap di langit
lekap pula di dunia

mati hanyalah sebuah penyeberangan
dari tanah ke tanah
dari fana ke cinta

DAMAU

putri pergi ke seberang
pergi pula segenggam tanah

Ramensa, cinta hendak ke mana

padamu nyawa
sejarak kaki dengan tanah

PULUTAN

wahai Mannatta Larrossa
tempa padaku sebila sandappa
biar kutakluk semua naga

dari tujuh pintu damai bertubuh
beri aku matamu

dengan matamu
kupandang samudera
kusongsong gelombang
mengaji maut atau dendang

tempa padaku puratangngamu
akan kudekap Arrussuello untukmu

BANNADA

bila purnama bulat sempurna di Bannada
pohon Lungkang kembali mengubah warna daunnya
entah kepada siapa cinta hendak ia dongengkan

dari zaman ke zaman
antara bumi dan khayangan
manusia selalu yang bersalah

ada jeda cemas dan jerit dibibitkan
dan manusia dibanalkan oleh tafsir
seakanakan
sejak janin getir adalah takdir
penyusup yang membentuk sejarah lahir

lalu,
dalam pendar purnama dan mekar pucuk bunga
manusia dipaksa membuka simpul rahasia dijerat dewa
habislah seluruh usia dilalap langit selalu tak bersalah

TALAUD

puncak piapi menyimpan rahasia hutan
magma gunung telah lama mati tertimbun humus
melecutkan pucuk kayu hitam dan besi menjejar langit
dalam barisan pohon, batang rotan dan semak pakis
bertempur seperti serdadu kelembaban
mengalahkan angin kering melayukan urat

nyanyian luri di resik zaman
mengabar gemuruh lebat hujan tropis
mengkilapkan sayapsayap merah hijau birunya di labirin awan
memayungi kebun palawija, kacangkacangan yang gemuk
kelapa, cengkeh, cokelat, kopi, sagu, aren tegak bahagia
kegembiraan petani bertebar seperti sumur harta kaisar dan ratu
penuh manikam permata tak habis terpakai seumur waktu

Maleo bertelur di gembur pasir
membiarkan matahari mengarami anaknya
menetas di pangku pengasihan alam
buat kemeriahan pesta langit
di tepi bumi yang alami

ketang kenari mengerat kelapa menyisahkan remah
buat satwa yang lemah
anaianai melobangi tiang rumah
bertengkar dengan semut hitam yang mencuri telurnya
di balik dentum ambora, tanjung ombak abadi
yang terus bergelora
menggairahkan anakanak penyu belajar berenang
melecut gairah semangat kebaharian anak nusa

o, di dataran pulaupulau indah ini…
harusnya tak menetas rinai geram perbudakan
luka terbuka abad silam menanah di gema nanaungan
pengudusan kenduri Mahadia Ponto-Pasilawewe
menjatuhkan Kabaruan seharga kepingan logam mas kawin
lalu memborgol kepak gagah bangsa raja Elang
menjadi tekukur taklukan di kerangkeng pasar jual beli
di mangsa makaampo, dihisap lintah kopeni
persis di lekuk pantai molek menggeriapkan warnawarni ikan

tataplah dari Wowonduata pelampung air mengangkat pulau
seperti tangan Tuhan langsung membentuk lekuk tubuh anak gadis
meliuk gemulai membersitkan kecantikan sempurna hamparan karang
yang menebing dan datar atau menggembul
di dada benua berkilau perak pasir putih
pulaupulau tropis Pasifik yang dimasak dua musim
menjadi nona berpinggul padat memancar gairah
di ranjang beludru hijau pepohonan hutan
yang merebahkan tubuhnya membuka terusan jembatan pulau
dari tinonda sampai napombalu laksana kereta surga
menuju kutai, philipina, malaka, batavia
dan dunia baru di abad yang belum tiba

kelelawar terbang di tengah malam
suruk mengintai dengan gigi yang tajam
anakanak muda mabuk di gigir zaman
kakerlak mencari kesunyian di lemari pakaian
o, marilah keluar dari kamar kekhilafan
menjahit zaman yang disobek keangkuhan
bermalasan tak membuat kenyang
mencangkul ladang, menangkap ikan mencahayakan martabab
mengejar ilmu dan kearifan mendatangkan kebijaksanaan
hingga lantai bumi tak menjadi lebih tua dari umurnya
karena retak oleh nafsu dan sesumbar kuasa

jangan biarkan anak dimangsa ular di tepi jalan
buayabuaya di sungai biarlah mereka memakan babi hutan
bukan perempuanperempuan kita yang dulu melangir rambutnya
buat keharuman peradaban

bukankah di nanusa samudera masih mendengar suara manusia
mengisi ikan di lumbung doa di cekukan karang
gelatik, beo dan elang masih menggetarkan angkasa
dalam nyanyian tambur di pentas manee dan sawakka
ini waktunya mabua ton’na zaman
udah makat raya bukan payung air mata
tapi benteng utara yang gagah
buat sejarah baru
setelah zaman kesatria Arangkaa

Barta1.Com
Tags: PuisiTALAUD
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Bakti Sosial Rukun Mahasiswa Sembihingang di Karangria

Bakti Sosial Rukun Mahasiswa Sembihingang di Karangria

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Dari Bibit Tomat hingga Rafting: Cara KMPA Tansa Rayakan Hari Bumi di Manado 19 April 2026
  • IKA Polimdo: Larangan Vape adalah Investasi Kesehatan Mahasiswa 19 April 2026
  • Kakanwil Kemenkumham Sulut Temui Gubernur Yulius Selvanus, Bahas Harmonisasi Ranpergub 19 April 2026
  • Mencari Grand Master Masa Depan dari Sulawesi Utara 19 April 2026
  • Pecatur Muda Memukau dan Ukir Prestasi di BNNP Sulut Cup 2026 18 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In