Anchor Handling adalah sebuah buku sekaligus sebuah berkat. Sebagai buku, Anchor Handling adalah buku panduan tentang teknologi perkapalan terutama bidang Jangkar. Sebagai berkat, lewat hasil penjualan buku inilah Sekolah Tinggi Teologi Bethesda, Jakarta berdiri.
Anchor Handling sangat populer di dunia kemaritiman internasional karena secara spesifik membahas teknologi jangkar dan permasalahannya. Saking pentingnya bagi para pelaut dunia, buku ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Penulisnya adalah seorang Master Mariner asal pulau Siau yaitu Dr. Krets Mamondole M.Th , M.Mar.
Sejak terbit di tahun 2010 oleh penerbit Yayasan Pelayanan Bethesda, buku setebal 204 halaman hard cover yang ditulis dalam versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia ini menjadi best seller dunia maritime, terutama di Amerika dan Eropa. Harga pereksemplar buku mencapai 200 dolar.
Hanya dalam waktu 1 tahun penjualan buku ini telah meraup keuntungan sebesar 200 juta rupiah. Dari dana keuntungan pertama inilah bangunan Sekolah Tinggi Teologia Bethesda di kawasan Kota Harapan Indah Bekasi didirikan.
Selang 7 tahun hingga sekarang, buku Anchor Handling telah menjadi salah satu buku panduan bagi para pelaut dunia. Dan semua keuntungan penjualan diperuntukan bagi pengembangan Sekolah Tinggi tersebut.
“Sejak awal menulis buku itu, saya berdoa kepada Tuhan dan bernasar, kiranya karya intelektual saya ini bisa menjadi berkat dalam pelayanan di tengah dunia, baik sebagai sumbangan keilmuan dalam dunia teknologi perkepalan, juga sebagai sarana pelayanan membangun iman kepada Tuhan,” ungkap Kapten Krets Mamondole kepada Barta1.com saat diwawancarai di Aheng Café Manado, belum lama.
Dan memang, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Buku Anchor Handling telah menjadi berkat bagi banyak orang.
Anak Nusa Utara Yang Melayari Laut Dunia
Kapten Krets Mamondole, tak pelak adalah bagian dari sejarah besar suku bangsa pelaut ulung Nusa Utara (Sangihe, Talaud, dan Sitaro). Tak sedikit pelaut asal Nusa Utara yang melayari route internasional. Bahkan ada yang bekerja di kapal-kapal pemecah es di kutub utara.
Di dunia pelayaran internasional pelaut asal Nusa Utara dikenal sebagai para nahkoda pemberani meski melayari route yang berbahaya. Maka patutlah orang-orang Nusa Utara berbangga karena setiap anak dari kepulauan utara Nusantara ini telah ditempa oleh alam menjadi pelaut-pelaut ulung yang hebat, dan dicatat dengan tintah emas dalam sejarah para penakluk laut dunia.
Penguasaan terhadap teknologi modern perkapalan, salah syarat penting bagi seorang pelaut masa kini. Ini sebabnya, Krets Mamondole termasuk pelaut yang disegani di dunia pelayaran internasional.
Nyaris semua pelabuhan internasional di berbagai negara telah dikunjunginya. Ia menghabiskan tahun-tahun yang panjang membelah ombak, mengarungi laut dunia dengan kapal yang dinahkodainya. Dengan pengalaman bekerja di kapal-kapal bertonase besar serta lewat pendidikan formil, Krets Momondole akhirnya menghasil buku spektakuler Anchor Handling.
Hikmah lain di balik pelayaran yang panjang –sebagaimana pengakuan Kapten Krets Mamondole— ia merasa, tak ada yang lebih berarti dalam hidup ini selain cinta, anugerah dan kasih sayang Tuhan Yesus bagi hidupnya.
“Di hadapan gelegak samudera luas, manusia menjadi mahkluk yang sangat terbatas. Tak ada kekuatan lain yang merahmati kita keyakinan selain Tuhan,” ungkapnya.
Ini sebabnya kata lelaki kelahiran Siau, 25 September 1963 ini, buku Anchor Handling dinasarkan untuk dunia pelayanan bagi Tuhan.
Kini, keseharian Kapten Krets Mamondole, masih berhubungan dengan dunia pelayaran, dan bisnis perkebunan Sawit di pulau Kalimatan. Ia mengelola ratusan hektar perkebunan Sawit miliknya.
Namun sebagian besar waktunya dicurahkan untuk dunia pelayanan. Suami dari Pendeta Nova Luas ini kini menjalani masa pelayanan di Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud. Pulau demi pulau didatanginya untuk misi pelayanannya.
Nyaris semua Gereja di Sitaro dan Sangihe telah dilayaninya. Ia kini benar-benar memberi hidupnya untuk melayani Tuhan dan masyarakat Nusa Utara. Menolong mereka yang butuh pertolongan. Membuka akses bagi banyak orang untuk menemukan pekerjaan di dunia pelayaran. Ratusan pelajar asal Sitaro yang menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Teologi Bethesda mendapatkan bantuannya.
“Saya sangat senang melihat anak-anak kita dari Sitaro yang berprestasi. Ya apa salahnya bila di lanjutkan ke perguruan tinggi. Saya bantu mereka, seluruh biaya selama mereka menuntut ilmu itu saya tanggung. Saya berangkatkan mereka ke Bekasi untuk mereka tinggal di sana lalu kuliah. Sampai saat ini sudah ratusan Pendeta yang ada di Sitaro, dan hampir semuanya lulusan dari Sekolah Tinggi yang telah saya dirikan,” ungkap Mamondole.
Tak terasa, sejenak membaca sepotong kisah putra Sitaro ini, kita telah dipertemukan dengan hikmah kehidupan: bahwa hidup yang indah itu bila kita menjadi inspirasi sekaligus berkat bagi banyak orang. (***)
Penulis: Iverdixon Tinungki

Discussion about this post