“Revolusi tidak memilih jalannya sendiri, ia mengambil langkah pertamanya dari bawah perut kuda Cossack.” Leon Davidovich Trotski alias Lev Trotski menggambarkan Revolusi Rusia dalam narasi yang selalu dikenang, khas kaum Bolshevik yang bersemangat proletar.
Google Doodle hari ini, Jumat 8 Maret 2019, menghadirkan 13 kutipan dari tokoh-tokoh perempuan saat dunia tengah merayakan Hari Perempuan Sedunia. Beberapa di antara tokoh itu adalah musikus, penulis essai, astronout, diplomat. Sejatinya, Hari Perempuan Sedunia ini pertama diperingati oleh Partai Sosialis Amerika di New York, 28 Februari 1909. Namun akar serabutnya justru tertanam di Petrograd, di masa-masa Revolusi Rusia.
Lev Trotski, salah satu tokoh kunci Revolusi Rusia seangkatan Lenin dan kemudian disingkirkan Stalin, merekam peristiwa itu dalam tulisan-tulisannya. Kemarahan rakyat Rusia pada rejim Tsar menghadirkan dua kali perlawanan besar di bulan November dan Maret, atau Oktober dan Februari pada penanggalan Julian yang berlaku saat itu di Rusia. Pada 8 Maret 1917, adalah ribuan buruh perempuan yang turun ke jalan-jalan utama di Petrograd telah menggelorakan perang dengan penguasa.
Sekitar 90 ribu buruh mogok kerja hari itu. Merekalah yang disebut Lenin sebagai proletariat; kaum kelas dua, para pekerja, bukan pemilik modal dan sudah pasti, bukan para kapitalis. Mereka adalah bagian besar dari rakyat Rusia yang digaji hari itu dan habis hari itu juga. Menurut Trotski, putra Yahudi dari Ukraina, buruh perempuan muak dengan antrian roti yang setiap hari terus saja bertambah panjang namun stoknya semakin menipis. Perempuan lelah melihat suami dan anak lelakinya dikirim ke parit-parit medan perang, menyabung nyawa dan pulang tinggal nama.
Pemogokan buruh berujung aksi demo terjadi sebegitu saja, alamiah.
“23 Februari (atau 8 Maret) adalah Hari Perempuan. Kelompok-kelompok Sosial Demokratik rencananya akan memperingati hari ini dengan kegiatan-kegiatan biasa: pertemuan, pidato, dan selebaran. Tidak ada yang mengira kalau hari itu akan menjadi hari pertama revolusi. Tidak ada satu pun organisasi yang menyerukan pemogokan pada saat itu. Terlebih lagi, bahkan organisasi Bolshevik, dan yang paling militan yakni komite distrik Vyborg, yang semuanya buruh, menentang aksi mogok,” tulis Trostski dalam Sejarah Revolusi Oktober.
Aksi berlanjut ke kota-kota lain selama 5 hari. Massa tidak lagi takut desingan peluru yang dimuntahkan polisi. Kalau mau mati ya mati, yang penting keadaan berubah. Demonstran terus merengsek menggebuki polisi dengan apa saja lantas melawan dengan lemparan batu. Mereka membebaskan kawan-kawannya para aktivis yang dipenjara dan membakar gedung-gedung markas aparat.
Trostski mencatat, bahkan Cossack, pasukan berkuda Tsar yang bengis itu, malah luruh melihat antusiasme rakyat yang melawan dengan dahsyat. Mereka memang memalang jalan dengan barisan kuda. Namun saat pendemo lewat di bawah perut kuda-kuda itu, para Cossack tetap menyarungkan pedangnya seakan membuka akses.
Rejim memainkan kartu truf-nya yang terakhir, tentara. Barisan tentara diperintah untuk berhadap-hadapan dengan rakyat yang melawan. Tapi situasi di lapangan malah berbeda. Kaum perempuan sebagai penggerak demo telah membuat hati tentara kecut. Buruh perempuan dengan beraninya memegang bayonet tentara sembari memohon.
Kata Trotski, “Mereka maju ke barisan tentara dengan lebih berani daripada laki-laki. Mereka genggam erat-erat senapan para tentara ini, memohon pada mereka, hampir seperti memerintah: “Letakkan bayonet kalian, bergabunglah dengan kami.” Para tentara ini kebingungan, merasa malu, dan saling menatap dengan cemas satu sama lain, bimbang; salah seorang dari mereka menurunkan senapannya, dan yang lainnya lalu mengikutinya dengan perasaan bersalah. Massa merangsek dan barisan tentara ini terbuka, pekik “Hurrah” membahana dengan gembira. Para tentara dikelilingi massa. Di mana-mana terdengar argumen, celaan, seruan, dan revolusi mengambil satu lagi langkah maju.”
Penguasa lupa, para tentara itu juga adalah anak-anak buruh dan petani. Mereka sudah lebih dulu merasakan penderitaan, hanya saja status sosialnya agak naik dengan mengenakan seragam dan karena mendengar perintah.
Kita tahu bersama pada 14 Maret, 6 hari setelah aksi demo buruh perempuan di Petrograd, Tsar Nicholas II turun tahta. Bersamaan dengan itu secara perlahan kaum sosialiasis yang dipimpin Vladimir Ilyich Ulyanov atau Lenin berhasil menjadi penyelenggara pemerintahan, usai menyingkirkan Alexander Karensky. Trotski sendiri meninggal di Meksiko, karena serbuan kapak dari pembunuh yang ditugaskan Stalin, sang penerus Lenin.
Namun aksi buruh perempuan di Petrograd telah memerciki dunia dengan semangat keberanian dan kesetaraan. Tanpa mereka, tidak pernah ada wujud revolusi. (*)
Penulis: Ady Putong

Discussion about this post