Mirip roman Britania Raya; gadis sepatu kaca Cinderella, demikian taferil hidup Liesbeth Dotulong. Selain ikut mewarnai pentas kesenian dunia, pada 1957 majalah Times menjulukinya “Wanita Tercantik di Malaya”. Sementara United Press International menyebutnya sebagai “Wanita Berpakaian Paling Menarik di Asia Tenggara”. Namun ia lebih tenar dengan nama keartisannya Maria Menado.
Maria (Liesbeth Dotulong), adalah dara kelahiran Tatelu Tounsea 2 Februari 1932. Sebagaimana sinar kencantikan ala perempuan Minahasa, karunia kecantikan itu tak saja mengantar sukses karier Maria ke panggung dunia seni, tapi ikut meluluhkan hati Sultan Pahang Abu Bakar Ri’ayatuddin.
Menjadi Ratu di sebuah Kesultanan Malaysia, tentu bagai mimpi bagi Maria. Sebab, sesungguhnya ia seorang anak Yatim Piatu yang hanya tinggal dengan Paman dan Bibinya. Namun ternyata Tuhan punya cerita lain baginya.
Mengutip beberapa situs berita dikabarkan, pada usia 7 tahun Maria dibawa paman dan bibinya ke Makassar, setelah itu ke Jakarta. Beberapa tahun kemudian dia mendapat kesempatan mengikuti peragaan busana. Dari situlah Maria menekuni seni peran dan akhirnya melangkah ke Singapura dan Malaysia. Kiprahnya itu mengantarnya menjadi artis film terkemuka di Malaysia.
Perannya sebagai Kuntilanak dalam Film Pontianak, yang merupakan film horor lokal pertama di Malaysia, mendapat pujian. Namanya pun menjadi populer dalam dunia perfilman Malaysia. Kariernya di dunia seni ini mendapat tempat tersendiri publik Malaysia dan Asia Tenggara, dan melejitkannya sebagai pemeran Malaysia termasyur antara tahun 1957- 1963.

Menuju Layar Film
Karier cemerlang Maria di dunia panggung dan film berikwal saat usia 17 tahun, saat ia menerima tawaran sebagai model baju kebaya di Singapura, dan kemudian di Kuala Lumpur, Ipoh dan Penang.
Saat berusia 19 tahun, ia menikah dengan promotor tinju dan juga penulis skenario, A. Razak Sheikh Ahmad, namun perkawinan ini berakhir dengan perceraian.
Setelah foto-foto Maria muncul di surat kabar dan majalah sebagai peragawati mode, pada tahun 1951. Shaw Brothers menawarkannya peran sebagai seniwati utama di samping P. Ramlee dalam film Penghidupan. Namun perannya sebagai kuntilanak dalam film Pontianak-lah yang menaikkan popularitasnya.
Penayangan film tersebut di Teater Cathay berlangsung selama 12 hari. Ini adalah suatu pencapaian besar, khususnya karena film Melayu tidak pernah ditayangkan di Teater Cathay. Lalu ia berperan dalam 2 film berikutnya, yaitu Dendam Pontianak (1957) dan Sumpah Pontianak (1958).
Pada saat di puncak kemasyuran , ia diberi peran antagonis bersama Shammi Kapoor dalam film Hindi berjudul Singapore. Film tersebut disyuting di Singapura dan Bombay.
Dalam jangka waktu 12 tahun, Maria juga bermain dalam 20 film lebih terbitan produksinya sendiri, Maria Menado Production (M. M. Production) antara lain film Siti Zubaidah pada tahun 1961. Ia merupakan produser film wanita Melayu yang pertama.
Maria sendiri memerankan tokoh utama sebagai Siti Zubaidah. Keterlibatannya sebagai produser bukan saja membanggakan, malah ia telah memainkan peranan sebagai pemeran juga yang jarang-jarang dapat dilakukan oleh seorang produser. Flm lain yang diproduksi perusahaannya diantaranya: Darahku, Bunga Tanjung, dan Pontianak Kembali.
Menuju Istana Pahang
Kemasyurannya di dunia film, membuatnya sering diundang dalam perayaan-perayaan istimewa di Istana Pahang bersama sejumlah seniwati lainnya untuk mempersembahkan pertunjukan, khususnya sewaktu hari kelahiran sultan.
Pada salah satu lawatan inilah cinta itu bersemi. Sultan Abu Bakar Ri’ayatuddin melamarnya dan menikah pada 1963. Pernikahan itu tidak hanya mengakhiri karier perfilmannya, tetapi juga menyebabkan film-filmnya tidak boleh lagi ditayangkan di teater maupun televisi.
Majlis Diraja Istana Pahang menetapkan bahwa karena Maria merupakan permaisuri sultan, penayangan film-filmnya tidak dibenarkan di Pahang. Filmnya akhirnya juga tidak ditayangkan di seluruh negara. (Dikutip dari berbagai sumber)
Penulis: Iverdixon Tinungki

Discussion about this post