• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Senin, April 20, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur

Teater di FSPG GMIM: Membingkai Kedegilan Para Pelaku Firman

by Ady Putong
24 Agustus 2019
in Kultur, Seni
0
Teater di FSPG GMIM: Membingkai Kedegilan Para Pelaku Firman

Poster yang memperlihatkan lakon yang dibawakan peserta lomba teater FSPG 2019 di Jemaat Anugerah Teling-Tingkulu. (foto: barta1)

0
SHARES
257
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika teater dipertontonkan dalam nuansa teologis, maka ada estetik tentang kebenaran di dalamnya. Teater di satu sisi bisa menghibur, tapi di bagian lain dia memompa perlawanan pada kesemena-menaan.

Maka saat Festival Seni Pemuda Gereja GMIM 2019 di Wilayah Manado Teling mengikutsertakan teater sebagai salah satu lomba, dari atas panggung muncul perlawanan-perlawanan sengit pada ketidakadilan. Teater berkonsep teologis yang dihadirkan pesertanya, secara khusus telah memperlihatkan bahwa ada berbagai kedegilan tak kasat mata yang berlangsung dalam hidup berjemaat. Hal mana tentu sulit dinampakkan dalam utas lomba lain; bernyanyi misalnya.

Pembingkaian kedegilan para pelaku firman juga nampak pada lakon “Tarsi” yang dimainkan kelompok pemuda dari Jemaat GMIM Syalom Kolongan Atas Wilayah Sonder. Skenario yang dicipta Iverdixon Tinungki itu kisahnya sederhana, tentang sosok ibu yang kesepian. Suaminya mati 11 tahun silam karena bunuh diri. Sang ibu kemudian digambarkan terus menahan perih karena berkali-kali merayakan ulang tahun tanpa kehadiran ketiga putrinya. Kesepian yang tak pernah dia pilih hingga digambarkan mati pada akhir cerita.

Bukan tanpa alasan pemuda Syalom Kolongan Atas memilih naskah bertema psikologis ini untuk dimainkan. Ompi Setligt, salah satu tim pelatih teater Syalom menyatakan pilihan pada naskah Tarsih karena kisahnya lekat dalam kehidupan sehari-hari. Tarsih secara gamblang memang menggambarkan sosok ibu. Namun ia juga bisa jadi penggambaran orang-orang termarjinal yang luput dari perhatian siapa saja, termasuk gereja.

“Sebenarnya Tarsih bisa jadi siapa saja, bisa orang-orang di sekitar kita atau bahkan kita sendiri. Di sisi lain kesepian yang dirasakan pemerannya adalah juga tentang kita yang selalu tak peka dengan masyarakat terpinggirkan,” kata Ompi di lokasi lomba teater, Gereja Anugerah Teling-Tingkulu, Jumat (24/08/2019).

Bahkan pada salah satu adegan yang memperlihatkan sekelompok rakyat tengah berdemonstrasi, spanduk-spanduk yang mereka angkat menulis kritikan pada kaum klerus. Tak kalah menarik, ada juga spanduk yang mendesak masalah Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) segera dituntaskan.

Soal ini, Ompi bilang garapan teater wajib punya warna kontekstual. Isu-isu yang hangat dalam bergereja dimunculkan semata-mata menyadarkan jemaat, ada banyak ketimpangan yang terjadi. Dan konteksktual dalam gereja bukan baru kali ini diperlihatkan oleh teater Syalom Kolongan Atas.

“Tahun-tahun sebelumnya juga begitu, setidaknya membuka penyadaran jemaat agar ayo kita peka, ayo kita melawan ketidakadilan,” cetus dia.

Pembingkaian tentang masalah-masalah dalam jemaat terus bermunculan dalam lakon-lakon selanjutnya yang turun pada hari pertama pelaksanaan lomba teater FSPG GMIM 2019. “Anak-anak Yerusalen” —masih diciptakan Iverdixon Tinungki— garapan pemuda Petra Mahakeret Wilayah Manado Sentrum, berkisah tentang pengkhianatan ketika kota suci Yerusalem menghadapi peperangan.

Tokoh antagonisnya digambarkan sedemikian brutal hingga tega menghadapkan ibunya pada sakaratul maut. Dan paling heboh ketika adegan pembakaran bangunan gereja dalam lakon “Revolusi Lonceng”, sebuah naskah ciptaan Vick Chenore yang digarap pemuda jemaat Imanuel Sendangan Wilayah Sonder. Hingga tutup lomba hari pertama Jumat malam, poin tertinggi adalah milik Syalom Kolongan Atas, dengan akumulasi poin 76,67. (*)

Peliput: Albert P. Nalang, Ady Putong

Barta1.Com
Tags: FSPGgmimmanadoPemudasonderteater
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Kamira Energy Hadir di Sulut

Kamira Energy Hadir di Sulut

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Dari Bibit Tomat hingga Rafting: Cara KMPA Tansa Rayakan Hari Bumi di Manado 19 April 2026
  • IKA Polimdo: Larangan Vape adalah Investasi Kesehatan Mahasiswa 19 April 2026
  • Kakanwil Kemenkumham Sulut Temui Gubernur Yulius Selvanus, Bahas Harmonisasi Ranpergub 19 April 2026
  • Mencari Grand Master Masa Depan dari Sulawesi Utara 19 April 2026
  • Pecatur Muda Memukau dan Ukir Prestasi di BNNP Sulut Cup 2026 18 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In