• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Rabu, April 22, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Fokus

Kelak Buyat Adalah Sebuah Kerajaan Mirip Efesus di Tahun 300 M

by Agustinus Hari
15 Agustus 2018
in Fokus, Opini
0
Kelak Buyat Adalah Sebuah Kerajaan Mirip Efesus di Tahun 300 M

Rumah Sastra Boltim. (FOTO: ISTIMEWA)

0
SHARES
52
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Reiner Ointoe

Teringat era 70-an, Rendra mengajak para muridnya berpuisi dan berteater di alam ParangTritis. Gerakan ini didapuk oleh para kritikus sebagai gerakan budaya (seni) kaumurakan. Belum lama, Jamal Rahman Iroth mengajak warganya merayakan Hari Puisi Indonesia (HPI), jauh dari keramaian pergulatan kebudayaan, di Bolaang Timur.

Dari sana, saya menyebutnya gerakan budaya “kaumurukan”. Menguruk kebudayaan dalam alam. Sungguh menerobos dan asyik. Sayang ketika itu saya alpa karena sesuatu yang lebih riskan dari kebudayaan tubuh saya: penyakit.

(baca juga: Arsitektur Dalam Perspektif Susastra Karya Arsitek Muda Sangihe)

Tapi, mudah-mudahan gerak kaumurukan bisa menyehatkan saya secara telepatis dan afirmatif. Tampaknya, locus itu cuma medium. Yang penting “geist-nya” atau “nefesy”. Meski puisi tak selalu urgen dan penting “dirayakan”, pergerakan seni dan budaya pada galibnya tetap memerlukan lokus ekspresi di mana pun.

Bahkan jauh dari keriuhan dan pergulatan manusia dalam berperadaban. Jamal, seorang pemula di jagat sastra nasional—dengan ratusan puisinya yang sudah dituliskan dan terbitkan—tentu tampak sumir meletakkan karyanya sebagai puisi-puisi yang telah memengaruhi konstelasi ribuan puisi para penyair-penyair kita.

(baca juga: Ajari Aku Menari Zapim, dan Beberapa Sajak Jamal Rahman Iroth)

Apresiasi ini memang tidak terletak pada karya-karyanya sebagaimana Charil Anwar bahkan Sutardji yang bisa memberi “ruh” pada kredo perpuisian di jagat sastra nasional. Bukan ini bandingannya. Tapi, spirit Jamal menarik puisi-puisi dari penyair, penyuka, apresiator hingga kritikus dan sekedar penyahut sekalipun itu yang menjadikan “perayaan puisi” tampak menghipnotis dan menggerakkan tapak tilas kebudayaan kita yang terganggu, sakit dan menderita dimensia, aphasia dan “malamise” yang “tumpak pedat.”

Dari situ, posisi Jamal sebagai penyair pemula menjadi penting untuk ditunjang dan terus dititilarasi secara simultan. Karena, saya ingin merekam suasana di “perayaan puisi” itu sebatas merentang memori terhadap kala dan imajinasi yang tumbuh dari “fonosentrisme” dan semantikal bahasa-bahasa yang meluap dan menguap di “kebun puisi” d Buyat itu.

Seperti Homeruslimamilenium lampau di apron parthenon atau agora-agora Yunani menyimak ribuan kuplet-kuplet yang dilantunkan oleh Menon. Kelak, Plato merekamnya untuk mengulasnya. Dengan meminjam Homerus yang menuangkanya dalam Odessey dan Iliad, sastra atau puisi, akhirnya adalah kebudayaan yang mewariskan apa itu, utile utdulce, movereatauarspoeta dan “geist-nya” diteruskan menjadi “noetha”, sejenis pengetahuan yang menautkan pathos-corpus dan nous sebagai pengetahuan ruhani hingga dewasa ini.

Itu berlangsung lebih dari lima ribu tahun sebelum masehi. Jauh, sebelum Jesus lahir di 1 Masehi dan membacakan kuplet-kuplet Injil yang sebagiannya diteruskan oleh Saul dari Tarsus pada 90 M.

Boleh jadi, Buya tdan Jamal akan menjadi pemarkahatavismearspoetas dan noetha kelak kita semua sudah berkalang tanah. Dan Buyat adalah sebuah kerajaan mirip Efesus di tahun 300 M. (*)

Barta1.Com
Tags: Bolaang TimurBuyatJamal Rahman IrothReiner Ointoe
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Bek Tangguh Loloskan Persma Manado ke Ligina Berpulang

Bek Tangguh Loloskan Persma Manado ke Ligina Berpulang

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Prodi Jalan dan Jembatan Teknik Sipil Polimdo Raih Akreditasi Unggul, Ir Rio P Lonan : Hasil Kerja Keras Kolektif 22 April 2026
  • Memasuki Setahun Mengabdi, Himaju Akuntansi Polimdo Mendidik Anak Putus sekolah di Pasar Bersehati 22 April 2026
  • Golkar Manado Suksesi, Adolfien Wangania Mencuat 22 April 2026
  • Prodi Teknik Informatika Elektro Polimdo Raih Akreditasi Unggul, Marson: Mencerminkan Kualitas 21 April 2026
  • RELIGIUSITAS KRISTIANI DALAM PUISI “IJINKAN AKU MERINDUKAN-MU”, KARYA DONALD TOLOH 21 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In