• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Minggu, April 26, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sejarah

Kisah Raja Bolmong dan Ketegangan di Manado 1879

by Agustinus Hari
21 Juli 2019
in Sejarah
0
Kisah Raja Bolmong dan Ketegangan di Manado 1879

Kerajaan Bolaang Mangondow di masa lalu. (foto: istimewa)

0
SHARES
799
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Senapan Beaumont terpasang di balik pintu rumah penduduk Eropa. Kapal perang Zr.Ms.Tromp dan sebuah stoombarkas memblokade teluk Manado. Benarkah akan ada gelombang serangan umum dari Kerajaan Bolaang Mangondow (Bolmong) dibawa raja Johannis Manuel Manoppo?

Sebagai salah satu imperium terkuat di daratan Sulawesi sebagaimana tulis Prof. MR. J.C. Kielstra dalam artikel berjudul “De Bewoners van Noord-Celebes”, yang terangkum dalam buku: “De volken van Nederlandsch-Indië in monographieën” (1921), maka setiap pergerakan kerajaan Bolmong akan mendapatkan reaksi dari pihak pemerintahan kolonial di Manado.

Dan Oktober 1879 itu, adalah waktu yang menegangkan bagi pemerintah kolonial Belanda di Manado. Dilaporkan, penduduk Eropa yang cemas banyak berdiam di rumah membekali diri dengan senjata. Siapa pun yang lewat di jalan tak akan luput dari pemeriksaan.

Tapi ketegangan itu sesungguhnya hanya dipicu sebuah rumor, tulis sejarawan Adrianus Kojongian dalam artikelnya: “Raja-raja di Sulawesi Utara Yang Diasingkan Belanda”. Tidak ada rencana serangan, ungkap dia, tapi pemerintah kolonial memang sudah terlajur jengkel dengan sikap raja Bolmong Johannis Manuel Manoppo yang selalu menentang kebijakan kolonial.

Diketahui, sejak dilantik pada tanggal 15 Juli 1864 dengan meneken acte van bevestiging en van verklaring di Manado dengan Residen Manado Willem Christiaan Happe, raja Johannis Manuel Manoppo sangat tegas menentang Koffiecultuur.

Ia menolak dengan ketus praktek tanam paksa kopi masuk kerajaannya ketika diminta selama kunjungannya ke Residen Anthonie Hendrik Swaving (1876-1878) di Manado.

Saat itu, ungkap Kojongian, setiap tahunnya Bolmong diperkirakan menghasilkan sekitar 300 sampai 400 pikul kopi. Kopi mana dengan kebijakan raja Jahonnis, dijual bebas kepada pedagang di Manado, sehingga menimbulkan kerugian besar kepada pemerintah kolonial.

Memang sebelumnya, masih segar diingatan pihak kolonial Belanda, serangan yang dilakukan Syarif Pagoe alias Mansoer pada Kamis, 26 Agustus 1875. Serangan di masa Residen Mr.S.C.J.W. Musschenbroek itu, sempat membuat huru-hara besar di Manado.

Sejak saat itu, kedatangan para raja yang memang diwajibkan, tapi bila disertai banyak pengiring akan selalu diwaspadai.

Di lain sisi, kedatangan Raja Johannis Manuel Manoppo di Manado pada Juli 1879 dengan menggunakan dua kano, diikuti rombongan besar terdiri 300 orang pengiring. Ia tinggal selama dua bulan di Manado.

Mengutip sejumlah sumber Eropa, Kojongian mengatakan, kedatangan raja Johannis itu sebenarnya sekadar memenuhi undangan ke Manado untuk memberikan klarifikasi terhadap berbagai tuduhan yang diarahkan padanya.

Sebelumnya juga, pemerintah kolonial di Manado telah menerima laporan dan keluhan-keluhan atas dugaan terjadinya pembunuhan di Bolmong. Laporan dan keluhan-keluhan itu sangat santer di Manado pertengahan tahun 1879 itu.

Sementara dari lingkungan kerajaannya sendiri, catat Kojongian, raja Johannis menghadapi kekuatan oposisi yang melawannya lewat berbagai laporan kepada Residen di Manado.

Pada 17 September 1865 ketika Z.M.stoomschip Coehoorn tiba di Manado dari Bolmong, ikut serta Penghulu Mokoginta dan beberapa kepala lain yang melakukan oposisi terhadap wewenang sah sang raja.

Begitu pun saat Zendeling-leerar kembali September 1866 setelah tinggal tiga bulan di Bolaang-Mongondow. Mereka mencatat kondisi moral penduduk menyedihkan, dengan banyak pencurian dan pembunuhan.

Ini sebabnya, saat muncul rumor bahwa raja Johannis dengan pengikutnya hendak melakukan serangan umum serta membuat amuk di pasar, sontak menimbulkan kecemasan di kalangan pejabat Belanda, dan utamanya penduduk bangsa Eropa di Manado.

Ketika kapal perang Belanda Zr.Ms.Tromp tiba di Manado dari Makassar, Sabtu , 4 Oktober 1879, Residen Manado Mr.P.A.Matthes menerima surat yang menyatakan bahwa Raja Bolmong ingin melakukan serangan terhadap Manado.

Residen segera mengumpulkan Asisten Residen A.C.Uljee, Komandan Militer Benteng Nieuwe Amsterdam dan Jaksa. Mereka membahas poin kunci. Lokasi tempat raja bermukim harus diduduki, dijaga 38 Schutters. Benteng Nieuwe Amsterdam dan pemukiman penduduk dijaga ketat untuk tempo 2 bulan.

Lalu, dengan dibekingi kapal perang Tromp dan sebuah stoombarkas milik sebuah firma yang sengaja disewa, peluang jalan lari Raja melalui laut dengan kano telah diblokade ketat.

Aksi Penangkapan

Pada Senin, 6 Oktober 1879, raja Johannis melihat gelagat mencurigakan itu, kemudian melakukan kunjungan perpisahan kepada Residen pada jam 9 pagi, karena ia berencana untuk segera kembali ke Bolmong.

Tanpa disertai mantrinya, ia mendatangi rumah Residen. Tapi, Residen tidak mau menerimanya di rumah, namun meminta Raja Johannis ke kantor. Residen secepatnya berembuk bersama Asisten-Residen A.C.Uljee dan Sekretaris Residen Petrus Kist. Mereka memutuskan untuk menangkap Raja.

Untuk tujuan ini, Asisten Residen Uljee dan Jaksa meminta Raja Johanis menemui Residen yang sengaja menunggu di kantor. Tapi, Raja Johannis yang kecewa dan curiga telah kembali ke rumahnya. Ia lalu dikirimi surat yang memberi tenggat waktu sampai jam 11 siang untuk datang bertemu Residen di kantor. Namun, raja tetap menolak untuk kembali.

Kontrolir Manado dan Jaksa dikirim menjemputnya. Keduanya dikawal seorang Kopral dan 12 anggota Garnisun Manado, yang semuanya dipersenjatai dengan senapan Beaumont. Mereka menuju rumah tinggal sementara raja yang berada di sisi lain dari sungai.

Ketika bertemu Raja, Kontrolir Manado memberitahu bahwa Residen sedang menunggunya sekarang. Dengan sangat terpaksa Raja mengikuti mereka pergi ke seberang sungai, menaiki kereta Residen yang telah menunggu, didampingi Kontrolir dan Jaksa dengan kawalan tentara.

Ternyata, keretanya bukan menuju ke kantor Residen yang ada di bagian kiri, tapi ke kanan, dan langsung ke penjara. Kepadanya lalu dinyatakan kalau ia dipecat, atas nama Raja Belanda, ditangkap dan menunggu perintah lebih lanjut ia akan dipenjara.

Pembuangan ke Jawa

Selain tuduhan akan menyerang Manado, ungkap Kojongian, raja Johannis disebut salah urus Kerajaan. Ia ditahan di penjara Manado, dengan pengawalan pasukan Schutterij Manado.

Ikut ditahan Penghulu dan pejabat Penghulu. Sementara pengiringnya kembali hari itu, dan sebagian esok harinya dengan kano ke Bolmong. Kekhawatiran bahwa para pengiringnya akan kembali untuk membebaskan raja yang dicintainya ternyata tidak terbukti.

Meski pun ia memiliki seorang putra, dengan beslit gubernemen tanggal 13 Desember 1879 nomor 8, telah diangkat Abraham Sugeha sebagai Raja Bolmong yang baru, yang resmi dilantik dalam posisi tersebut 12 Juli 1880. Raja Abraham Sugeha memerintah hingga meninggal 3 Desember 1891.

Mantan Raja Johannis Manuel Manoppo telah diasingkan ke Pulau Jawa, di Bagelan. Putranya Riedel Manuel Manoppo baru dilantik jadi Raja di Manado 1 Juli 1893 sebagai pengganti Abraham Sugeha.

Raja Johannis Manuel Manoppo berkuasa di Kerajaan Bolmong selama 15 tahun (1864- 1879) ia dilantik menggantikan Adrianus Cornelis Manoppo dengan meneken acte van bevestiging en van verklaring di Manado tanggal 15 Juli 1864 dengan Residen Manado Willem Christiaan Happe.

Janji yang dibubuhi tandatangannya itu berisi 15 poin sebagaimana dicatat dalam Heeres, J. E., and F. W. Stapel, eds. 1907–1955. Corpus Diplomaticum Neer- lando-Indicum, 6 vols. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. Paling pokok yaitu, mengaku akan hormat dan taat kepada pemerintah Hindia-Belanda, sebagai tuan (opperheer). Ia pun berjanji setia memenuhi kontrak perjanjian 8 September 1858 yang telah dibuat ketika Raja Adrianus Cornelis Manoppo naik tahta, dimana pemerintah Hindia-Belanda memiliki hak istimewa untuk menunjuk dan memberhentikan seorang raja.

Pasal-pasal lain dalam janjinya antara lain akan mensejahterakan rakyatnya, memerintah dengan kebenaran, menjaga perdamaian dengan tetangga, mencegah perdagangan budak, melindungi pertanian, perdagangan dan lain sebagainya.

Kerajaan Bolaang-Mongondow di masanya berpenduduk 35 ribu jiwa. Sepertiga penduduknya dilaporkan telah memeluk agama Islam, sementara sisanya masih kafir.

Ketika Zendeling Wilken dan Schwarz menemuinya di Bolaang Juni 1866, ia digambarkan sebagai seorang pria setengah baya bertubuh kecil tanpa banyak ekspresi. Ia lebih banyak berdiam dan balasan pertanyaan selalu dijawab oleh Jogugu. (*)

Penulis : Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
Tags: JOHANNIS MANUEL MANOPPORaja Bolmong
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Elly Lasut disalami warga dalam sebuah kesempatan. (foto: timeline Elly Engelbert Lasut)

Saya Tidak Percaya Karir Politik Elly Akan Berhenti Sebagai Bupati

Discussion about this post

Berita Terkini

  • GERAK Ungkap Cacat dalam Juknis Penyaluran Bantuan Bencana Gunung Ruang 25 April 2026
  • Terumbu Karang: Penjaga Kehidupan Laut dan Kepentingan Dunia 25 April 2026
  • Tragedi Lalu Lintas di Manado: Bayi 5 Bulan dan Penumpang Tewas, Dua Pengemudi Jadi Tersangka 24 April 2026
  • Dikda Sulut Diminta Turun ke SMAN 8 Manado, Bentuk Satgas Anti Pungli Jelang Kelulusan Siswa 24 April 2026
  • Manado Jadi Pusat Diplomasi Kelautan, Duta Besar CTI-CFF Bahas Ekonomi Biru Berkelanjutan 24 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In