Minut, Barta1.com – Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Program Studi Farmasi dan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menggelar kegiatan edukasi dan pelatihan kesehatan yang berfokus pada edukasi obat sejak dini.

Kegiatan bertajuk “Generasi Cerdas Menggunakan Obat melalui Pelatihan Apoteker Cilik sebagai Agen Perubahan Perilaku Sadar Obat” ini dilaksanakan sukses di dua Sekolah Dasar di Kabupaten Minahasa Utara, yaitu SD Negeri Matungkas pada Kamis, 23 Juli 2026 dan SD Inpres Matungkas pada Jumat, 24 Juli 2026.

Pelaksanaan kegiatan PKM ini untuk memenuhi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. PKM dilaksanakan oleh Tim Dosen Unsrat yang diketuai oleh apt. Deby A. Mpila, S.Farm., M.Sc, dengan anggota apt. Widya A. Lolo, S.Farm., M.Si, dan Heru A. Tatuh, S.Farm., M.Farm., serta turut berpartisipasi teman-teman Dosen dan mahasiswa.
“Program edukasi dan pelatihan ini diinisiasi sebagai bentuk kepedulian akademisi Unsrat terhadap pentingnya pemahaman literasi obat pada usia anak-anak. Di masa kini, paparan terhadap berbagai macam obat, vitamin, hingga suplemen makin mudah ditemui di kehidupan sehari-hari. Namun, pemahaman akan cara konsumsi dan penyimpanan obat yang benar sering kali masih minim, termasuk di lingkungan keluarga. Melalui kegiatan ini, Tim PKM Unsrat berupaya mencetak kader-kader muda yang paham akan penggunaan obat yang aman”, ungkap Deby A. Mpila.

Rangkaian pelatihan diawali dengan pemberian materi interaktif yang dirancang khusus sesuai perkembangan anak SD. Para siswa mendapatkan pembekalan teori praktis, serta beragam aktivitas menarik, seperti mengenali simbol/logo pada kemasan obat (hijau, biru, dan merah), membaca tanggal kadaluarsa, hingga membedakan jenis obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras. Tak hanya itu, para siswa juga diperkenalkan dengan prinsip DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) obat secara benar, sebuah kampanye nasional yang dikemas dengan bahasa sederhana dan menarik agar mudah dipahami.
Suasana pelatihan semakin berlangsung meriah dan penuh antusiasme saat memasuki sesi simulasi praktik meracik obat (puyer). Para siswa diajak langsung memperagakan cara menggerus obat, membagi dosis obat, membungkus obat dengan teknik lipatan yang rapi dan membuat etiket obat. Selain itu, siswa juga diajarkan untuk selalu menjaga kebersihan alat dan tangan selama proses meracik obat.
“Tim dosen dan mahasiswa PKM Unsrat memanfaatkan berbagai media pembelajaran edukatif seperti permainan interaktif, leaflet yang berisi materi edukatif bergambar dan mengajarkan para siswa melakukan salah satu tugas dalam praktik pelayanan Apoteker. Metode ini terbukti ampuh membangkitkan rasa ingin tahu anak-anak”, jelasnya.
“Setelah mengikuti sesi teori dan praktik, para siswa dilantik secara simbolis menjadi Apoteker Cilik (Apocil). Gelar ini bukan sekadar tanda partisipasi, melainkan simbol tanggung jawab baru bagi para siswa. Sebagai agent of change (agen perubahan), para Apoteker Cilik ini bertugas menularkan pengetahuan yang telah mereka dapatkan kepada teman sejawat, adik-kakak, hingga orang tua mereka di rumah”, ujarnya.
Kepala sekolah dan jajaran guru di SD Negeri Matungkas maupun SD Inpres Matungkas memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Mereka menilai, kehadiran Tim PKM Unsrat tidak hanya memberikan pengetahuan baru bagi siswa, tetapi juga menanamkan kebiasaan hidup sehat dan kritis sejak usia dini.
Melalui program Pelatihan Apoteker Cilik ini, Tim PKM Prodi Farmasi dan Prodi Pendidikan Profesi Apoteker Unsrat berharap dapat membangun fondasi masyarakat yang sadar obat. Langkah kecil yang dimulai dari ruang-ruang kelas di SD Negeri Matungkas dan SD Inpres Matungkas ini diharapkan mampu mewujudkan generasi masa depan yang cerdas, mandiri, dan bijak dalam mengelola kesehatan serta penggunaan obat. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post