• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Minggu, September 20, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Terhimpit Ekonomi, Terperangkap Sistem: Derita Buruh Perempuan Perikanan Bitung

by Meikel Eki Pontolondo
30 Maret 2026
in Edukasi
0
Terhimpit Ekonomi, Terperangkap Sistem: Derita Buruh Perempuan Perikanan Bitung
0
SHARES
45
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com — Dalam diskusi publik yang digelar oleh  Serikat Perempuan Pekerja Perikanan Sulawesi Utara (SP3SU) dan LBH Manado, Maria Heny Pratiknjo, seorang antropolog dari Universitas Sam Ratulangi, memaparkan hasil penelitiannya tentang buruh perempuan di sektor perikanan di Kota Bitung. Kegiatan ini berlangsung di Kantor LBH Manado pada Senin (30/03/2026).

Dalam pemaparannya, Maria menyoroti eksistensi perempuan migran di Kota Bitung. Ia mengungkapkan bahwa keputusannya melakukan penelitian dua kali berturut-turut memperlihatkan satu pola yang kuat: perempuan bekerja bukan semata pilihan, melainkan karena desakan ekonomi. “Ketika seorang perempuan memutuskan untuk bekerja, mau tidak mau ia juga harus menopang keluarganya,” ujarnya.

Ia juga menggambarkan perubahan kondisi kerja yang cukup drastis. Saat penelitian dilakukan pada masa kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, situasi para pekerja dinilainya sangat memprihatinkan. Perubahan regulasi dan penertiban kapal asing berdampak langsung pada ketersediaan ikan. “Dulu mereka masih bisa makan bakso, tetapi setelah kebijakan berjalan, ikan menjadi sangat sulit didapat,” jelasnya.

Menurut Maria, dalam kondisi tertentu, ikan bahkan hanya tersedia seminggu sekali, bahkan sebulan sekali. Situasi ini memukul kondisi sosial ekonomi perempuan yang sebagian besar berperan sebagai istri dan ibu. Mereka terpaksa menerima pekerjaan apa pun yang tersedia. “Kalau diajak kerja, mereka ikut. Kalau tidak, mereka harus berutang,” tambah dosen FISIP Unsrat tersebut.

Ia juga menemukan bahwa mayoritas pekerja migran di pabrik perikanan berasal dari daerah kepulauan seperti Gorontalo, Ambon, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian dari Sulawesi Utara.

Dampak lain yang tak kalah serius adalah pada pendidikan anak. Maria menemukan bahwa banyak anak pekerja yang terancam putus sekolah. “Anak-anak lebih memilih pergi ke pelabuhan untuk menjadi kuli panggul demi mendapatkan uang,” ungkapnya.

Di sisi lain, beban perempuan tidak berhenti di tempat kerja. Sepulang dari pabrik, mereka masih harus menjalankan peran domestik: mengurus anak, suami, dan rumah tangga. Perempuan, menurutnya, menjadi subjek penderitaan dalam sistem kerja yang tidak memberi ruang tawar. “Mereka tidak punya pilihan untuk menuntut upah layak, jam kerja manusiawi, atau cuti hamil,” tegasnya.

Ia mempertanyakan pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas kondisi ini, apakah perusahaan, buruh itu sendiri, atau lembaga advokasi. Namun, ia menekankan bahwa akar persoalan terletak pada kebutuhan ekonomi yang mendesak. “Kalau terdesak, berapa pun upahnya akan diterima,” katanya.

Maria juga menyoroti ketimpangan upah antara pekerja perempuan dan laki-laki. Ia mengaku kerap mendapat pertanyaan dari mahasiswanya mengenai rendahnya gaji buruh perempuan di pabrik pengalengan ikan, bahkan setelah bekerja selama enam hingga tujuh bulan. Hal ini, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah bersama, termasuk bagi LBH Manado dalam menentukan langkah advokasi ke depan.

Ia berharap diskusi ini dapat menjadi titik awal perubahan, agar perempuan tidak lagi diposisikan sebagai pihak yang terus-menerus menderita. “Ada perempuan yang bekerja membersihkan ikan hingga tertusuk, dibayar sangat kecil, bahkan ada yang mengalami keguguran karena kondisi kerja. Ke depan, harus ada model kepedulian bersama untuk mengatasi persoalan ini,” pungkasnya.

Diskusi tersebut turut menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain perwakilan SP3SU, pekerja perikanan perempuan, penyintas Untari, aktivis perempuan Nurhasanah, akademisi Maria Heny Pratiknjo, serta perwakilan LBH Manado, Pascal Toloh. (*)

Peliput: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: Buruh perempuan perikanan di BitungDalam diskusi publik yang digelar oleh  Serikat Perempuan Pekerja Perikanan Sulawesi Utara (SP3SU) dan LBH ManadoMaria Heny PratiknjoPerikanan Kota Bitung
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Suasana berlangsungnya ibadah di Dinas Kominfotik Kabupaten Talaud.

Ibadah Rutin Dinas Kominfotik Kabupaten Talaud Terus Digelar

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Solidaritas untuk Sangihe, Aliansi Peduli Salurkan Bantuan bagi Warga – Relawan Karhutla Gunung Awu 20 September 2026
  • Segera Persiapkan Diri dan Mendaftar, FAJI Talaud Akan Menggelar Fun Rafting 20 September 2026
  • Soal Laporan Terkait Komentar Anonim 166, Kapahang Selaku Admin Publik Talaud Buka Suara 19 September 2026
  • Mahasiswa Teknik Elektro Polimdo Ciptakan Alat Pakan Ikan Mujair Otomatis Berbasis IoT untuk Pembudidaya 19 September 2026
  • Kurang dari 24 Jam, Polres Bitung Ungkap Pencurian Mobil Daihatsu Ayla di Girian Bawah 19 September 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In