• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Senin, Agustus 24, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Konservasi Negara Mandek, Masyarakat Adat Jadi Benteng Terakhir

by Meikel Eki Pontolondo
8 Februari 2026
in Edukasi
0
Konservasi Negara Mandek, Masyarakat Adat Jadi Benteng Terakhir
0
SHARES
58
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

​Minut, Barta1.com – Model konservasi konvensional yang diterapkan pemerintah dinilai gagal menjawab tantangan kerusakan ekosistem laut di Indonesia.
Lemahnya implementasi kebijakan membuat peran masyarakat adat dan komunitas lokal kini dipandang sebagai benteng terakhir dalam menjaga kelestarian alam.

​Narasi di atas ini mengemuka dalam Talkshow III Green Press Community (GPC) 2026 bertajuk “Konservasi Laut Berbasis Komunitas dan Masyarakat Adat” yang digelar di Hotel Sutan Raja, Minahasa Utara, Sabtu (07/02/2026).

​Erwin Suryana dari Working Group ICCAs menegaskan bahwa pendekatan konservasi yang hanya bersifat formal dan administratif tidak lagi cukup.

“Keterlibatan aktif masyarakat lokal bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mengatasi kebuntuan konservasi di Indonesia,” kata Erwin.

Senada dengan itu, Prof. Rignolda Djamaludin dari Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA) melontarkan kritik tajam terhadap ambisi pemerintah. Ia menyebut target perlindungan laut 30% yang dicanangkan Indonesia seringkali hanya indah “di atas kertas”.

​”Jika di wilayah konservasi tersebut ditemukan kandungan emas atau nikel, wilayah itu pasti dirampas oleh penguasa. Sisa ruang yang ada pun masih dihantam kepentingan lain. Saya hanya percaya pada konservasi yang dipraktikkan langsung oleh masyarakat yang hidup berdampingan dengan alamnya,” tegas dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat ini.

Di wilayah Timur Indonesia, tradisi leluhur terbukti lebih efektif dibandingkan regulasi negara. Jurnalis senior Victor Mambor mencontohkan praktik Sasi di Papua, sebuah hukum adat yang melarang pengambilan hasil alam tertentu dalam kurun waktu tertentu.

​Menariknya, kata Victor, peran perempuan Papua menjadi motor penggerak dalam tradisi ini. Kelompok perempuan seperti Waifuna dan Zakan Day memegang kendali atas wilayah Sasi laut.

“Mereka mengatur jadwal buka-tutup sasi dan melarang praktik penangkapan ikan yang merusak. Selain menjaga ekosistem, mereka juga mengelola ekowisata berbasis homestay yang berdampak langsung pada ekonomi warga,” ungkap Victor.

​Namun, Victor mencatat adanya celah informasi. Banyak warga Papua yang belum memahami konsep Blue Carbon (karbon biru), sehingga potensi besar wilayah mereka dalam mitigasi perubahan iklim global belum termanfaatkan secara maksimal.

​Di Sulut, Yayasan
Masarang melakukan pendekatan berbeda di Desa Tulap dan Temboan. CEO Yayasan Masarang, Billy Gustavianto Lolowang, menceritakan tantangan berat dalam mengubah pola konsumsi masyarakat Minahasa terhadap satwa liar.

​”Kami memulai dari langkah kecil dengan merangkul masyarakat lokal untuk melindungi penyu dan telurnya secara penuh. Awalnya sulit, namun ketika warga mulai memiliki rasa memiliki (sense of belonging), kolaborasi menjaga laut dan satwa langka jadi lebih organik,” ujar Billy.

​Berbagi, Bukan Mengeksploitasi merupakan kisah inspiratif lainnya datang dari Masyarakat Adat Cerekang di Sulawesi Selatan. Idam Idrus dari Universitas Negeri Makassar memaparkan bagaimana masyarakat Cerekang menjaga hutan dan sungai karena ikatan spiritual yang kuat.

​Bagi warga Cerekang, hutan adalah wilayah sakral. Mereka memegang prinsip hidup yang unik: tidak mengejar kekayaan pribadi dan lebih mengutamakan berbagi.

“Nilai-nilai inilah yang membuat wilayah mereka tetap terjaga dari ancaman ekspansi pertambangan yang marak di daerah lain,” kata Idam.(*)

Peliput: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: Erwin SuryanaGPC 2026Konservasi Laut Berbasis Komunitas dan Masyarakat AdatKonservasi Pemerintah GagalProf. Rignolda Djamaludin
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Foto ilustrasi mobil Damkar.

Pemkab Talaud Berharap Dialokasikan Anggaran Mobil Damkar

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Kritis! Layanan WiFi XL Dikeluhkan Warga, Gangguan hingga 24 Jam 23 Agustus 2026
  • Prof Tri Hanggono: Polimdo Jangan Kehilangan Jati Diri, “Politeknik Ya Politeknik” 22 Agustus 2026
  • Steven Tegaskan Dokumen Jetty Lengkap, Luruskan Pemberitaan Sebelumnya 22 Agustus 2026
  • Buka Akses dan Tumbuhkan Ekonomi Desa Ambara, PLN UP3 Gorontalo Salurkan Bantuan Pembangunan Jalan Usaha Tani 21 Agustus 2026
  • Wisuda Polimdo Gelombang Pertama, 275 Lulusan Dilepas: Maryke Pesan Jaga Kesetiaan 21 Agustus 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In