Manado, Barta1.com – Sebanyak 275 wisudawan Diploma III dan Sarjana Terapan Politeknik Negeri Manado (Polimdo) mengikuti prosesi wisuda gelombang pertama tahun 2026. Kegiatan tersebut digelar di Auditorium Prof. Ruddy Tenda Polimdo, Kamis (20/8/2026).
Wakil Direktur Bidang Akademik Polimdo, Dr. Diane Tangian, S.H., M.Si., mengatakan, hingga 17 Desember 2025, jumlah lulusan Polimdo dari gelombang pertama hingga gelombang keempat telah mencapai 18.678 orang.
Jumlah tersebut terdiri dari Diploma I sebanyak 29 orang, Diploma II sebanyak 1.320 orang, Diploma III sebanyak 9.525 orang, dan Sarjana Terapan sebanyak 7.516 orang.
Sementara itu, pada wisuda gelombang pertama tahun 2026, terdapat 275 lulusan yang terdiri dari 88 lulusan Diploma III dan 187 lulusan Sarjana Terapan.
“Jumlah wisudawan gelombang satu tahun 2026 sebanyak 275 orang, yang terdiri dari Program Diploma III sebanyak 88 orang, sedangkan Sarjana Terapan 187 orang. Lulusan Polimdo sampai hari ini berjumlah 18.953 orang,” ungkap Diane.
Pesan Pemprov Sulut
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus yang diwakili Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Daerah Provinsi Sulut, Ir. Reinhard Wariki, ST., mengatakan, wisuda merupakan puncak dari sebuah proses panjang yang membutuhkan ketekunan, pengorbanan dan kerja keras.
“Hari ini adalah puncak dari sebuah proses panjang yang menuntut ketekunan, pengorbanan dan kerja keras. Keberhasilan adalah bukti nyata dari komitmen pantang menyerah dalam menuntut ilmu,” ujarnya.
Ia pun memberikan apresiasi kepada Direktur dan seluruh civitas akademika Polimdo yang dinilai telah berkomitmen dan berdedikasi dalam membentuk mahasiswa menjadi sumber daya manusia yang terampil, berkarakter dan berdaya saing.
“Dengan komitmen dan dedikasi yang kuat, lembaga ini mampu mentransformasi mahasiswa menjadi sumber daya manusia yang terampil, berkarakter dan berdaya saing, yang menjadi pilar penting untuk kemajuan daerah,” katanya.
Maryke: Perjuangan Harus Dinikmati
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Polimdo, Dra. Maryke Alelo, MBA., menyampaikan pesan khusus kepada para wisudawan dan orang tua.
“Bapak-Ibu terkasih yang anak-anaknya dihantar ke gerbang untuk menuju sukses,” ungkap Maryke.
Ia kemudian mengajak para wisudawan memberikan tepuk tangan kepada orang tua yang berada di jajaran tempat duduk bagian belakang sebagai bentuk penghargaan atas dukungan dan pengorbanan mereka.
Menurut Maryke, perjuangan yang telah dilalui para wisudawan harus dinikmati, bahkan ketika harus melewati berbagai tantangan berat.
“Perjuangannya harus dinikmati seperti menyeruput kopi. Jadi pelan, santai, tapi visinya jelas,” ujarnya.
Maryke juga mengajak para wisudawan untuk tidak menyia-nyiakan kemampuan yang mereka miliki. Ia mengibaratkan kepala yang kini terlindungi topi atau toga wisuda sebagai simbol besarnya kapasitas otak manusia.
“Pernahkah orang menyadari, di balik topi itu memiliki kemampuan menyimpan sekitar 2.500 terabyte (TB). Besar sekali kapasitas otaknya. Jika seluruh pikirannya dikeluarkan, dia mampu memproduksi empat juta jilid buku,” tuturnya.
“Jangan sia-siakan otaknya. Lindungi otaknya,” sambung Maryke.
Toga dan Makna Melihat Masalah dari Berbagai Perspektif
Maryke kemudian menjelaskan makna dari bentuk topi toga yang dikenakan para wisudawan.
Menurutnya, bentuk persegi pada topi tersebut mengandung pesan agar para lulusan mampu melihat persoalan dari berbagai sisi dan tidak hanya terpaku pada satu perspektif.
“Ketika menghadapi masalah, pikirkanlah dari berbagai segi, jangan dari satu perspektif. Banyak seginya. Ada kendala di tempat kerja, Anda bisa mencari cara lain,” katanya.
Ia pun berpesan agar setiap persoalan dalam kehidupan dihadapi dengan kepala dingin dan dicari jalan keluarnya.
“Jangan sampai ada masalah mengambil cara bunuh diri. Jadi, selesaikan sebuah masalah dari berbagai perspektif,” ucapnya.
Maryke juga menyinggung perpindahan tali toga dari kiri ke kanan yang menjadi bagian dari prosesi wisuda.
“Semua sama-sama talinya dipindahkan dari kiri ke kanan. Otak kanan itu berpikir kritis, mampu mengendalikan emosi,” katanya.
Menurutnya, medali yang dikenakan dalam toga juga menjadi simbol kemenangan. Namun, kemenangan tersebut bukanlah akhir dari perjalanan.
“Di toga ada medali kemenangan, namun kemenangan ini cuma awal. Ada perjuangan ke depan yang perlu adik-adik lakukan. Perjuangan mengabdikan diri, perjuangan menghidupi diri, perjuangan merawat diri,” ujarnya.
Pesan tentang Kesetiaan
Dalam sambutannya, Maryke juga menyampaikan kisah mengenai dua orang sahabat untuk menggambarkan pentingnya kesetiaan dalam kehidupan.
Ia menceritakan percakapan dua sahabat, ketika salah satunya berkata, “Bagaimana suatu hari saya akan mengkhianatimu.”
Sahabatnya menjawab, “No problem. Mempercayaimu adalah keputusanku, merusak kepercayaan adalah pilihan.”
Menurut Maryke, kepercayaan dan kesetiaan merupakan fondasi penting dalam kehidupan, baik dalam persahabatan, keluarga maupun pekerjaan.
“Orang bekerja, orang bersahabat, orang hidup dalam keluarga harus ada kesetiaan,” tambahnya.
Tanpa kesetiaan, kata dia, tidak akan ada sesuatu yang berarti.
“Jangan ingin meraih sesuatu lalu mau menikam sahabat. Jangan karena meraih kedudukan Anda menghancurkan sahabat. Dia juga akan dijungkirbalikkan kemudian hari. Jadi, bekerjalah dengan setia di tempat kerja,” pesannya.
Jubah Hitam dan Misteri Masa Depan
Maryke juga memberikan makna terhadap jubah hitam yang dikenakan para wisudawan. Menurutnya, warna tersebut melambangkan keanggunan atau elegansi.
“Seorang yang tamat dari perkuliahan harus elegan dalam hidupnya, elegan dalam memperjuangkan visi besarnya. Dia tidak menjelek-jelekkan orang supaya dia menang,” katanya.
Ia menambahkan, warna hitam juga melambangkan misteri. Sebab, manusia dapat merencanakan masa depan, tetapi tetap ada hal-hal yang berada di luar kendali manusia.
“Baju hitam ini juga misteri. Kita merencanakan masa depan, tapi ada misteri ilahi yang perlu diminta kepada Tuhan. Jangan mengandalkan diri sendiri,” tambahnya.
Enjelika: Lega Setelah Melewati Perjuangan Panjang
Salah satu wisudawati, Enjelika Pandey, mengaku bersyukur akhirnya dapat menyelesaikan studi dan meraih gelar Sarjana Terapan Teknik (S.Tr.T.).
“Perasaan bisa lega karena sudah melewati proses perkuliahan sejak semester satu hingga akhir, penuh dengan tantangan. Lega juga karena perjuangan skripsi atau tugas akhir dan jurnal boleh terlewatkan,” ungkap Enjelika kepada Barta1.com.
Ia mengaku terharu karena selama menjalani pendidikan mendapat dukungan dan doa dari keluarga, teman-teman serta orang-orang baik di sekitarnya.
“Terharu dengan dukungan dan doa dari keluarga, teman-teman serta orang-orang baik yang ada di sekitar,” ujarnya.
Bagi Enjelika, menjadi bagian dari wisudawan gelombang pertama tahun 2026 merupakan kebahagiaan tersendiri.
Terima Kasih untuk Orang Tua dan Orang-Orang Baik
Atas keberhasilannya tersebut, Enjelika menyampaikan terima kasih kepada banyak pihak yang telah mendukung perjalanan pendidikannya.
“Yang pertama-tama untuk Tete Manis yang senantiasa memberikan kekuatan, kesehatan, kemampuan, hikmat dengan penyertaan buat Njey,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Direktur Polimdo Dra. Maryke Alelo, MBA., Ketua Jurusan Teknik Elektro Marson James Budiman, SST., MT., Koordinator Program Studi D-IV Teknik Listrik Donald Bastian Noya, SST., MT., serta kedua dosen pembimbingnya, Yoice Rita Putung, SST., MT. dan Sukandar Sawidin, ST., MT.
Ucapan terima kasih secara khusus ia sampaikan kepada almarhum ayahnya yang menurut Enjelika telah memberikan pendidikan, pengorbanan dan motivasi hingga dirinya mampu mencapai jenjang sarjana.
“Makasih sudah memberikan pendidikan for Njey sampai sekarang Njey boleh jadi sarjana. Mungkin langkah ini memang Papa tidak sempat saksikan secara langsung, karena setiap pencapaian ini tidak pernah lepas dari jejak doa,” katanya dengan haru.
“Pengorbanan dengan kasih setianya Papa yang benar-benar tertanam kuat di Njey. Makasih sudah jadi Papa yang sangat baik semasa Papa masih ada, sudah memberikan pendidikan, pengorbanan dan motivasi yang banyak sekali,” lanjutnya.
Enjelika juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada ibu dan kakaknya yang terus memberikan dukungan, terutama setelah keluarga mereka kehilangan sosok ayah.
“Sebagai perempuan semua mesti tetap kuat dan saling menyayangi satu dengan yang lainnya. Pokoknya sehat-sehat selalu,” ucapnya.
Tak lupa, ia menyampaikan terima kasih kepada sahabat-sahabat dan orang-orang baik yang selalu hadir dalam berbagai keadaan.
“Selanjutnya terima kasih buat sahabat-sahabat dan orang-orang baik yang selalu ada di sekitar Njey, yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Makasih banyak sudah ada di dalam segala keadaan hidup yang Njey alami, baik senang maupun sedih,” tuturnya.
“Makasih sudah menjadi teman cerita, teman nanjak, teman healing dan teman nongki. Pokoknya makasih banyak sekali,” pungkas Enjelika.
Wisuda tersebut pun menjadi momentum penting bagi 275 lulusan Polimdo untuk menutup satu tahap perjalanan pendidikan sekaligus membuka lembaran baru dalam perjuangan mengabdikan ilmu, membangun karier dan menghadapi masa depan. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post