• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Kamis, April 30, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sastra

TAMU TAMU IMAJINIR DI HARI TUA , Sebuah Naskah Drama Karya Iverdixon Tinungki

(Versi Adaptasi Pendek)

by Iverdixon Tinungki
20 Januari 2026
in Sastra
0
Naskah drama iverdixon tinungki

Naskah drama iverdixon tinungki

0
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

TAMU TAMU IMAJINIR DI HARI TUA

Karya: Iverdixon Tinungki

Pelaku dan karakter

Lazarus: Lelaki (65) seniman
Elena: Perempuan (55) mantan pelacur, istri Lazarus
Amadea: Perempuan (50) seniman dan pengusaha
Alice: Perempuan (55) istri Bartolomius
Bartolomius: Lelaki (65) aktivis dan seniman
Garin: Lelaki (56) mantan kekasih Elena

Panggung: Ruang tamu dan keluarga di rumah milik Lazarus.

(Di ruang tamu dan ruang keluarga yang sederhana itu nampak Lazarus sedang mengetik. Bartolomius duduk mematung di dekatnya. Dari luar terdengar suara pembeli barang bekas lewat dengan mobil meneriakan: Besih-besih tua, kulkas-kulkas bekas, aki-aki bekas, belanga loyang kipas angis bekas.)

Lazarus:
Pembeli barang bekas itu, selalu mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini akan menjadi tua, Bartolomius.

Bartolomius:
Tapi tak semua orang memiliki hari tua yang indah. Kau ingat Lazarus, setelah lima tahun aku berpisah dengan Alice, aku mencoba mengiriminya sebuah surat puitis.

Lazarus:
Ya, kau menyuruh aku mengantarnya waktu itu.

Bartolomius:
(Membacakan puisinya)

Kepada Alice,
Siapa kekasihku pabila aku terus ingin menemukanmu
Kebenaran ini sesuatu yang tak tertahankan
Ucapan yang terlalu suram

Tak ada manusia masa kini tak dikelilingi gelombang besar
Tapi yang kuhadapi ibu dari gelombang itu
Bukankah ungkapam ekspresi tertinggi adalah diam
Seperti itulah aku ingin menemukan kekasihku
Apakah aku cukup kejam untuk diriku
ketika aku ingin bercinta denganmu?
Di mana engkau Alice
Di mana engkau Alice

Cintaku tak tercatat dalam kitab-kitab
Hanya pada puisi aku berharap
Seperti pisau kuhujam ke hulu dada
Luka adalah kata lain dari nyanyianku
Di mana engkau wahai petualangan

Pada ribuan buku
aku merasa tua
Seperti bercak air memercik kaca jendela
Sungai dangkal dengan dasar bernanah

Namun pabila engkau menghaluskan ciuman ini, Alice
Aku merasa tertikam
Seperti sebuah jalan tergenang
Ketika aku ingin melitas menuju pesta
Seperti sebuah teater sepi diakhir pertunjukan
kostum, tata rias dan ekspresi paling membara sekali pun
ditanggalkan tanpa ampun
Dan lambaian tanganmu menamparku

(Terdengar alunan musik, Bartolomius pun bernyanyi mengikuti irama itu.)

Lagu Bartolomius:
Dahandahan berkibar hanya sebentar
Lanjur kucukupkan
Karena detik tak menunggu
aku mengulang kisah ini:
–Bahwa air mata adalah katakata
tak bisa kuucapkan pada matamu yang berias maskara
Dalam dunia membentang seperti bangku

(Bartolomius kemudian duduk dengan sedih. Ia terisak menahan perasaannya yang hancur. Terdengar orang-orang membacakan puisinya itu seperti paduan suara)

Lagu Puistis Paduan suara:
Banyak orang ingin menjadi tunggal
semacam Kain tak menyesal ia terusir meski Eden tetap indah
namun lewat sajak ini, aku ingin berbagi sebelah kaki
bukankah lebih baik kita punya waktu duduk
menikmati kesekejapan melaju seakan anak panah
tak usah kau tulis, Alice
karena sejarah tak pernah jujur
selalu berpihak pada warna kulit

(Setelah lagu dan puisi itu usai, Lazarus dan Bartolomius terdiam sesaat.)

Lazarus:
(Memecah keheningan)
Itu surat puitis yang sangat indah. Dan aku ingat apa yang dilakukan Alice pada surat itu. Disobek-sobeknya lalu dibakar. Abunya disirami air. Kata Alice, biar abu itu menjadi pupuk untuk rumput-rumput halus di halaman rumahnya.

Bartolomius:
(Sesaat nampak marah kemudian sedih)
Iya aku ingat juga, saat itu kemudian kita pergi seakan sosok amorfati yang berbalas puisi di sebuah kedai kopi. Dan di sana kau berkata: Pabila engkau mencintai Emily Dickinson, sesungguhnya engkau mencintai puisi. Kata-kata disampaikan lewat pintu dari sebuah dunia sangat pemalu.

Lazarus:
Sejak Tuhan menghidupkan kita sebagai api, penyair menulis satir, cinta nan sublim dan hasrat pemberontakan paling cemerlang bahkan subversive. Begitulah kita sore itu Bartolomius. Kita adalah sebuah biografi dengan detil-detil teraneh. Lelaki yang dihidupkan, mati dan dihidupkan dalam impian kita, lalu berlalu dalam ketiadaan kisah.

Bartolomius:
Dengan menggebu-gebu sore itu kita tiba-tiba sangat berhasrat membongkar masa lampau bahwa anak-anak adalah sang penari bumi paling riang. Mewariskan nama ayah dalam harapan selalu hidup dan bangkit. Namun saat ia terbangun di suatu pagi mendapati kekasih-kekasihnya telah pergi. Beberapa kawan telah pulang ke surga, dan kita dua sosok amorfati menjejali kedai, menjalani ritus kopi sembari menikmati sore, menunggu mati yang biru itu cemburu.

Lazarus:
Aku mencintai saja segala yang datang dan pergi. Karena aku tak bisa sembunyi dari diriku sendiri.

Bartolomius:
Seorang penyair yang baik harusnya merasakan puisi berjalan dalam hatinya dan mendegar setiap kata mengucapkan maknanya. Seperti arloji yang menipu gerak waktu dengan mengulang angka yang telah berlalu, harusnya segala yang ada dalam hidup ini tak begitu rapuh.

Lazarus:
Dan kita adalah perahu, pelintas yang tak menceritakan apapun hingga retak dan membusuk di kedai, di pinggir kali. Biarlah sejarah yang menulis semua perjalanan. Dan puisi mengungkap makna di balik peluh atau air mata saat tergugu. Tapi semua orang sebaiknya baik-baik saja.

Bartolomius:
Lazarus, kupikir, sudah saatnya aku bunuh diri. Aku pergi!

(Bartolomius Exit.)
(Lazarus kembali ke meja kerjanya, lalu mengetik. Sesaat kemudian terdengar tembakan.)

Lazarus:
Pas di hari jadinya keenam puluh delapan, Bartolomius bunuh diri.

(Hari sudah sore saat Alice tiba-tiba muncul di sana. Perempuan itu mengalami stress berat setelah kematian Bartolomius.)

Alice:
(Monolog)
Sehari sebelum kematian Bartolomius, ia masih menulis untukku: “Alice cintaku, lagu dinyanyikan ombak itu puisi dan nafasmu. Sebuah semesta kecil menawan dengan kunang-kunang berkesiur memanggil-manggil pohonan di sebuah hari saat hatiku bagai pantai sepi. Dan makhluk-makhluk menggembirakan ini terasa hukuman kekal. Bukankah kita terancam masing-masing kefanaan.

Aku memindahkan karakter mereka ke dalam dramaku. Itulah saat paling menyentuh hati dan menginspirasi. Lonceng-lonceng mendenting dan suara lembut membangkitkan. Lalu sepi berbisik dengan matanya yang belati, karena penyair selalu menjadi musuh terburuk bagi dirinya sendiri.

Di suatu siang saat sirine menegaskan keseharian, di mana banyak hal darurat di tengah masyarakat saat muslihat disuguhkan seakan berkat. Seberapa indah kemiskinan itu? Tanya seorang ibu yang pedih. Seindah dikau tersenyum untuknya, ucapku. Bukankah setiap orang punya kegelapan dan terangnya sendiri dan kehidupan adalah memilih di ruas mana engkau berdiri menjadi yang mati atau sang lain menghidupkan semangat jangan sampai pergi, karena hidup adalah menjaga yang kau sayangi.

Lazarus:
Lalu malam turun seperti pengantin di perempatan saat kenangan itu datang padamu dan usia mengayungkan Langkah Alice. Kau kembali diseretnya semacam takdir yang tak terhindarkan.

Alice:
Ia sering memujiku, “karena di antara bintang engkaulah yang paling bersinar, visual yang memberi pencerahan di bawah arcamu. Dan aku sebuah kamar dihantui lukisan tanpa wajah, kenangan tak lagi ingin menatapku, namun kutata seakan hiasan , biarlah mereka mengantarku mengatupkan mata.”

Lazarus:
Tak ada yang akan datang mengetuk pintu kesepiannya, sebentuk hidup tak pernah menjadi nyata, sosok tak memiliki tanah benar-benar tanah, daratan benar-benar daratan, selain bayangan suram berulang-ulang memberi nyawa pada kata sebagai perjuangan suci ditakdirkan untuknya, bahkan untuk cinta tak pernah memeluknya.

Alice:
Biarlah semua itu mengikuti kesepianku.

Lazarus:
Saat kaum durhaka kelas atas memaksakan ketakutan, dan kriminal membuat rakyat gemetar, mesias mana yang menghidupkan nurani terpenjara, selain kata-kata ditempa penyair di tungku kesepiannya, menjelma bedil bagi beribu-ribu martir, menghidupkan senyuman di mata kaum tersingkir, orang-orang yang kehabisan darah di trotoar, namun tak ada orang mempedulikannya. Ketika manusia hanya hidup untuk diri mereka sendiri, bagi penyair bahagia itu bukan hal terpenting. Dan tahukah kamu? Sejarah Tuhan ditempa tidak dengan api, namun dengan kata-kata, dengan kata-kata pula Tuhan menempa penyair, dengan kata-kata penyair menempa dunia, dan ia berdiri mengatasi kekhawatiran hingga kehidupan menemukan jalannya sendiri. Begitulah sejatinya eksistensi Bartolomius, Alice.

Alice:
Saat Bartolomius bunuh diri, ia menganggap kehidupan selanjutnya tak diperlukan lagi. Aku tak menyangka Bartolomius akan sekejam itu bagi dirinya.

Lazarus:
Bartolomius, ia penulis, aktor dan sutradara. Ia hidup dalam semacam tragedy Chekov, lelaki yang hanya berbekal cinta terus melangkah maju menerobos suara paling halus dalam gaung yang disebutnya sebagai panggilan Tuhan. Ia memilih jalan kesenian, sebagaimana klerus mengemban misi kerasulan. Pernikahannya denganmu Alice, awalnya dibayangkannya seperti mantel lembut seorang gadis. Di sanalah ia menelusup sebuah kehidupan suci dan sekuatnya menggenggam bisikan Tuhan itu.

Alice:
O betapa nikmatnya setiap lapisan rasa hancur memuaskanku, katanya, menggambarkan kepedihannya ketika itu. Ia juga begitu terpukul ketika ayahku mengatakan; “Orang tua paling sial adalah ketika anak perempuannya menikah dengan penyair”. Kata-kata itu sudah diucapkan ayahku sejak awal pernikahan mereka dan kembali diulangnya di hari perceraian kami.

Lazarus:
Alice, aku tahu alasanmu menceraikan Bartolomius hanya semata ingin pergi dari rumah kemiskinan. Kau tidak berselingkuh. Bartolomius juga tidak berselingkuh. Tak ada persoalan fundamental selain kemiskinan. Dan kemiskinan itulah yang membuat kalian berpisah. Oh… betapa berbahaya sang kemiskinan.

Alice:
Kupikir Bartolomius bisa bertahan dalam kesendirian tanpa aku.

Lazarus:
Alice, kau perempuan cantik dengan usia masih terbilang muda saat kalian bercerai. Baru empat puluh lima tahun, dan punya karir bagus di sebuah perusahaan swasta. Kau sering bepergian ke luar negeri, ke kota-kota yang sangat diimpikan banyak orang. Bartolomius cemburu. Ia pikir kau telah bepergian dengan lelaki lain ke negeri-negeri indah itu. Lalu ia sadar, kau bukan lagi istrinya.

Alice:
Bartolomius pasti menjadi sangat kesepian. Tapi dalam kesepian itulah Bartolomius melahirkan banyak karya unggul. Mengapa dia tak menemuiku lagi. Di mana Bartolomius?

(Alice menangis)

Lazarus:
Sudalah Alice. Sudahlah. Bartolomius tidak akan datang lagi. Ia sudah tiada.

Alice:
Tidak, dia tidak mati. Dia akan duduk di sana dalam membacakan puisinya: Ada tempat beralas savana, berlapis bukit dan gunung menjulang. Ada kata-kata disedekahkan Tuhan menempa mereka yang kehilangan, yang tak bisa mengelak kesedihan, yang menyeduh airmata di belanga kesusahan. Ada tempat dimana Tuhan menaburkan isyaratNya, menguatkan mereka yang mendoakan talas, yang mensyukuri laut tak letih menjamu harapan.

(Mendadak Muncul Elena.)

Elena:
Kalau kau mencari Bartolomius, carilah di kuburan sana bukan di sini Alice.

(Mendengar suara Elena, ekspresi Alice langsung marah.)

Alice:
Kau tak pantas menyebut nama Bartolomius, Elena! Kau yang membuat ia mati.

Lazarus:
Sudalah Alice, jangan diteruskan lagi persoalan itu.

Alice:
Lazarus, kau jangan percaya pada Elena, istrimu. Aku meninggalkan Bartolomius, karena ia berselingkuh dengan Elena. Perempuan ini penyebab Bartolomius bunuh diri.

Elena:
Usir perempuan itu Lazarus, aku muak melihatnya!

Alice:
Perempuan penggoda, kau berani mengusirku. Aku tak takut padamu Elena.

Lazarus:
Tenanglah Alice. Duduklah di kursi.

(Alice beranjak duduk di kursi ruang tamu itu. Elena pergi menyisir rambutnya di meja kaca.)

Alice:
Ada saat ia selalu berkata: Sayang… tak ada yang aneh malam ini. Seperti malam kemaren yang biasa. Tak ada malaikat menari di halaman. Bintang-bintang tetap saja di kota kesepiannya. Tapi aku menyukai percakapan kita, ujarnya. Kita tetap orang yang sama saat bangun pagi, kesepian liat membuat dinding di tepi hari tua.

(Alice menangis lagi.)

Lazarus:
Bartolomius sudah tenang kini di alam sana Alice. Kau harus bangga punya suami selembut dia.

Alice:
Andai Elena tak menggodanya, rumah tangga kami mungkin masih utuh hingga kini.

Elena:
Aku tidak berselingkuh dengan Bartolomius, Alice. Suamimu itu manusia baik. Ia bukan tidak menyukaiku, tapi ia menghormatiku, menghormati Lazarus. Kami pernah sekamar, tapi ia tak menyentuhku. Kau saja yang pencemburu.

Alice:
Kau dengar Lazarus, mereka pernah sekamar. Kau percaya mereka tak melakukan apa-apa?

Lazarus:
Aku percaya, karena Elena tak pernah berbohong padaku Alice.

Alice:
Perempuan jahat itu sudah membuat pikiran jernihmu lumpuh.

Lazarus:
Sudalah, tenangkan hatimu. Kau pulanglah hari ini, nanti aku datang mengunjungimu Alice.

Alice:
Setubuhi aku, Lazarus!

Lazarus:
Kita dalam keadaan duka, Alice.

Alice:
Ini satu-satunya caraku merayakan dukaku.

(Sesaat Lazarus tertunduk. Hujan mulai turun. Sesaat kemudian ada bunyi loceng petanda ada yang meninggal. Tiba-tiba Amadea datang. Perempuan itu juga sudah mulai menua seiring waktu. Perempuan yang dulu jatuh cinta pada Lazarus.)

Amadea:
Selamat sore Lazarus, Elena, Alice.

Elena:
(dengan suara datar dan sinis.)
Selalu seperti ini. Ia datang lagi.
Selamat sore, silahkan duduk.
(Kedatangan Amadea tiba-tiba membuat Elena cemburu.)

Lazarus:
Siapa yang meninggal Amadea.

(Amade duduk di sebuah kursi kosong di tengah ruang itu.)

Amadea:
Lelaki yang tinggal di ujang gang. Lelaki yang dulu mencuri jubah pendeta di gereja itu.

Lazarus:
Lonceng tadi?

Amadea:
Ya. Ia bunuh diri terjun dari jembatan.

Alice:
Kasihan…

Lazarus:
Bramokora nama lelaki itu. Aku mengenalnya, karena kami pernah sama-sama berjuang mempertahankan penggusuran penduduk dari pesisir pantai.

(Semuanya mendadak hening sejenak.)

Alice:
Aku ingat cerita lelaki itu dari Bartolomius. Keluarganya korban penggusuran penduduk untuk pembangunan boulevard. Ia terusir bersama dua puluh sembilan ribu orang dari kampung-kampung mereka yang digusur. Kebanyakan korban penggusuran itu hidup dalam keadaan merana hingga kini. Di negara ini pembangunan selalu bermakna pemiskinan bagi yang lain. Tidak ada kesetaraan di mata kekuasaan.

Amadea:
Bramokora mencuri jubah pendeta. Ia pikir jubah itu bisa laku dijual. Ia berkeliling menjualnya ke mana-mana. Tapi siapa yang mau membeli pakaian hitam menakutkan itu, pakaian yang hanya dipakai memimpin misa atau penguburan orang mati. Karena tidak terjual, ia akhirnya mengembalikannya ke pendeta.

Alice:
Coba kita bayangkan, saat kematiannya, akhirnya pakaian itu pula yang akan dipakai pendeta dalam penguburannya.

Amadea:
Sebuah ironi. Ya… sebuah ironi.

Elena:
Ia mencuri untuk bisa hidup, seperti aku dulu melacur untuk bisa hidup.

Amadea:
Tapi kau sudah berhenti tanpa bunuh diri.

Elena:
(Menyindir.)
Pasti kau berharap aku bunuh diri sejak dulu.

Amadea:
Aku tidak mengharapkan itu Elena.

Elena:
Bahkan kau mengharapkan aku mati Amadea.

Amadea:
Tidak!

Elena:
Pasti kau berharap.

Amadea:
Tidak mungkin Elena!

Elena:
(Membentak.)
Berharap!

Amadea:
(Marah.)
Tidak!

Elena:
Kau ingin aku mati agar kau bisa merampas Lazarus dariku!

Amadea:
Sudah setua ini kau masih bicara hal jorok seperti itu.

Elena:
Kau masturbasi di depan Lazarus!

Lazarus:
Sudalah! Coba berhenti bertengkar. Kita baru mendengar kabar kematian, kalian malah ribut.

Elena:
Diam kau Lazarus, kau beronani di depan Amadea. Iya kan? Kenapa tak kau habisi keperawanan perempuan ini.

Amadea:
Aku bukan pelacur Elena. Kau yang pelacur!

Elena:
Semua orang di kampung ini tahu aku pelacur. Tapi kau perawan tua yang tak pernah laku. Kasihan kamu, selalu datang ke rumahku, berpura-pura silaturahmi, padahal ingin melihat suamiku. Kau pikir aku tidak tahu.

Alice:
Wajar kalau Amadea menyukai Lazarus, karena mereka berdua orang baik-baik. (Kepada Elena) Tapi kau mau merampas Bartolomius dariku.

Elena:
Itu tidak benar Alice. Aku melacur karena aku tidak ingin lari dari rasa sakit. Karena rasa sakit itulah yang memberi aku tujuan. Aku tidak ingin merampas apa pun milik orang lain. Tapi aku harus melintas jalan penuh rasa sakit itu untuk tetap hidup. Hidupku memang remuk. Tapi pada remuknya itu aku percaya surga menoleh padaku, dan Tuhan tersenyum untukku.

Lazarus:
Berhentilah mengungkit masa lalu!

Alice:
Lazarus, dalam puisimu kau meletakan Bartolomius seakan sosok suci. Kau tidak tahu Lazarus, ia pernah tidur dengan Elena istrimu! Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Aku sakit hati. Itu alasanku menceraikannya. Sampai hari ini aku tidak pernah punya lelaki lain selain Bartolomius. Cintaku murni untuknya. Untuk menghapus rasa cemburuku itulah aku minta tolong padamu untuk menyetubuhiku. Dengan cara itu aku berharap membuatnya impas dan aku bisa tenang, dan bisa hidup dalam kenangan yang paling kucintai. Tapi kau tak mau meladeniku.

Elena:
(Marah)
Oh begitu? Ternyata kalian semua musuh dalam hidupku. Kalian semua berharap aku mati. Aku tidak pernah sekalipun tidur dengan Bartolomius!

Alice:
Kau bohong. Di mana-mana orang menceritakan hubunganmu dengan Bartolomius. Jangan percaya dengan apa yang dikatakan Elena Lazarus!

Amadea:
Aku juga tidak percaya dengannya!

Elena:
(Sangat marah)
Amadea tutup mulutmu. (Membanting sebuah kursi)
Kalau tidak, aku bisa membunuhmu Amadea!

(Lazarus naik darah melihat pertengkaran itu.)

Lazarus:
Kalau kalian ingin bertengkar mulai dari kapak dan parang. Ayo ambil dan acungkan. Saling bunuh-bunuhlah kalian! Kalian pikir ada masalah yang bisa selesai dengan pertengkaran?

(Suasana menjadi hening sesaat. Elena kembali menyisir rambutnya. Amadea terisak tanpa suara di sebuah kursi tua. Sementara Lazarus berdiri mematung menatap keluar dari sebuah jendela. Tiba-tiba terdengar suara derum mobil pembeli besih tua melitas dengan teriakan toa dari luar.)

Suara:
Besih-besih tua, Kulkas-kulkas bekas, Aki-aki bekas, belanga loyang kipas angis bekas.

(Mendengar suara itu membuat Amadea Jengkel.)

Amadea:
Tidak ada besih tua dan kulkas bekas, yang ada cuma lelaki tua dan perempuan bekas.

(Teriakan Amadea dengan nada menyindir itu membuat Elena sakit hati. Ia menggebrak meja riasnya.)

Elena:
Apa maksudmu Amadea. Kau menyindir aku?

Amadea:
Kau pikir aku tak sakit hati di sebut sebagai perawan tua?

Elena:
Kau memang perawan tua!

Amadea:
Kau memang juga perempuan bekas!

(Elena menjadi sangat marah mendengar hujatan Amadea.)

Elena:
Lazarus! Usir perempuan ini sebelum aku mencekiknya.

Amadea:
Coba kalau berani!

(Elena meraih kapak yang tergantung di sebuah tiang dinding, lalu bergerak hendak mendekati Amadea.)

Elena:
Kau pikir aku tak beranih membunuhmu?

Lazarus:
(Berteriak)
Berhenti! Berhentilah!

(Amadea dan Elena spontan berhenti oleh teriakan amarah Lazarus. Suasana menjadi hening sesaat. Lazarus kemudian mendekati Amadea.)

Lazarus:
Pulanglah Amadea, Alice, pulanglah. Hari sudah sore. Sebentar lagi malam.

(Amadea dan Alice beranjak pergi. Lazarus kembali ke meja tulisnya. Elena duduk lagi di meja riasnya.)

Elena:
Sudah tiga puluh tahun lebih, perempuan itu tak bosan-bosannya mencarimu, seakan-akan hanya kau lelaki di dunia ini.

(Suara Elena terdengar masih jengkel.)

Lazarus:
Sudah tiga puluh tahun lebih kau selalu pergi dengan berbagai lelaki, tapi selalu kembali.

Elena:
Karena aku kasihan padamu. Kasihan pada hidupmu yang dilumuri kemiskinan.

Lazarus:
Aku tidak miskin. Aku hanya memilih hidup dalam kesederhanaan. Karena di sanalah tempat termulia bagi lahirnya sebuah puisi sejati.

Elena:
Apologi naif lagi. Apa yang didapatkan penulis sepanjang hidupnya? Para sutradara menyutradarai lakon yang kau tulis, mereka mendapatkan pujian dan uang, aktor-aktornya dibayar, penulis dapat apa? Puisi-puisimu yang kau tulis dengan penuh ketekunan, dibaca di berbagai panggung, kau dapat apa selain kesunyian dan perut yang lapar.

Lazarus:
Itu hanya karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan sejatinya tujuan seni untuk menginspirasi kehidupan. Itu cukup bagiku, bukan uang.

Elena:
Itu apologi naif lagi dari dunia kesepian penyair tua dan miskin sepertimu.

Lazarus:
(Agak jengkel)
Sejak menikah kau memang tidak mengenalku. Saat mendengar puisiku kau terpukau, tapi kau tak mau hidup dalam puisi itu.

Elena:
(Menyindir)
Aku bukan Amadea, bukan Luciana, bukan Alice yang tergila-gila dengan puisi dan tubuhmu.

Lazarus:
Jangan memulai pertengkaran lagi Elena. Kalau kau mau pergi, pergilah. Sejak dulu sifatmu sulit ditebak. Kau jadikan aku sekadar tempat persinggahan untuk menanti Garin kekasihmu.

Elena:
Kau mengusirku? Ini pertama kali kau menyuruhku pergi! Kau begitu cemburu pada Garin. Itu hanya kisah lama yang sudah kulupakan.

Lazarus:
Kau selalu menyebut nama itu, seperti menyebut nama seorang pahlawan bagi hidupmu. Padahal dia yang membuat kamu mengandung dan jadi perempuan terlantar.

Elena:
Aku tak mau bertengkar lagi. Baiklah, aku akan pergi.

Lazarus:
Aku tak akan menahanmu. Pergilah. Seribu kali kau pergi, seribu kali kau kembali. Kapan aku menahanmu?

(Elena beranjak pergi, Lazarus kembali duduk di meja kerjanya dan mulai mengetik lagi. Tak berapa lama muncul Garin di sana dengan senjata.)

Garin:
Lazarus, aku Garin, lelaki yang membuat kau cemburu!

Lazarus:
Aku tak mau bertemu denganmu. Kau bukan sosok penting dalam lakon yang kutulis ini. Pergilah.

Garin:
Setiap kali kau cemburu, setiap kali itulah kau kubunuh!

Lazarus:
Kau karakter tokoh yang tak diundang dalam lakon karyaku.

Garin:
Tapi kau selalu menempatkan aku sebagai tamu imajinirmu.

Lazarus:
Apa maksud kedatanganmu?

Garin:
Membunuhmu lagi!

(Garin menembak Lazarus. Lazarus terhuyung, lampu perlahan padam)

Manado, 27 Juli 2025
Iverdixon Tinungki

 

 

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Pesta Adat Tulude

PESTA ADAT TULUDE, MAKNA DAN SEJARAHNYA

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Ajang Talenta SMP 2026, Ruang Pembinaan Prestasi dan Karakter Siswa Sangihe 30 April 2026
  • RSUD Liun Kendage Akui Kekosongan Obat, Sebut Dampak Transisi Pengadaan 29 April 2026
  • RSUD Liun Kendage Gandeng Dekopinda untuk Menata Usaha di Lingkungan Rumah Sakit 29 April 2026
  • Menyiapkan Generasi Vokasi di Era Digital: Kuliah Umum Polimdo Angkat Isu Digital Marketing dan Keuangan Praktis 29 April 2026
  • RDP DPRD Sulut: Pokir Lenyap, Bantuan Rumah Ibadah Tak Ada di Tomohon 29 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In