Jakarta, Barta1.com – Target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% dinilai tidak akan tercapai tanpa adanya sistem kelistrikan yang optimal dan merata di seluruh wilayah. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari dalam acara Electricity Connect 2025: Strengthening Energy Resilience, Powering Sovereignty, yang digelar oleh MKI, Kementerian ESDM, dan PT PLN (Persero) di Jakarta International Convention Center, baru-baru ini.
Qodari secara khusus menyoroti peran vital energi dalam mendukung ambisi pertumbuhan ekonomi tersebut, sekaligus menekankan pentingnya pemerataan akses listrik sebagai fondasi kedaulatan dan ketahanan energi nasional.
“Energi berperan vital dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%, dan tidak ada kondisi pertumbuhan seperti itu yang dapat dicapai tanpa sistem kelistrikan yang optimal,” ujar Qodari, memberikan penekanan serius terhadap urgensi pembenahan sistem kelistrikan.
Lebih lanjut, Qodari memaparkan bahwa sebaran potensi energi di berbagai daerah adalah modal utama Indonesia untuk mempercepat pembangunan sistem kelistrikan. Namun, ia menyayangkan masih ada daerah penghasil energi yang belum sepenuhnya menikmati listrik.
“Kita memahami bahwa sumber energi Indonesia tersebar hingga ke pulau-pulau terpencil. Itulah kekuatan bangsa, meski sebagian daerah penghasil energi masih belum sepenuhnya menikmati listrik secara optimal,” kata Qodari, yang melihat situasi ini sebagai peluang perbaikan yang harus dipercepat melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Dalam upayanya menghadirkan energi berkeadilan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, Qodari menyebutkan berbagai program yang dikawal bersama Kementerian ESDM. “Saat ini berbagai program yang kami kawal meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), pembangunan PLTS terpadu di desa dan sekolah di wilayah 3T terutama Maluku dan Papua, hingga percepatan pembangkit listrik tenaga sampah atau waste-to-energy,” tambahnya.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menambahkan bahwa PLN berkomitmen penuh pada upaya tersebut, salah satunya melalui transisi energi yang tidak hanya mengejar pengembangan pembangkit masa depan, tetapi juga mengalihkan energi berbasis impor ke sumber domestik. “Dengan adanya energi yang terjangkau dan rendah emisi, kami berupaya untuk menjaga lingkungan. Dengan RUPTL paling hijau ini, komitmen terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sangat kuat,” ujar Darmawan.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Electricity Connect 2025, Arsyadany G. Akmalaputri, menjelaskan bahwa acara tersebut menekankan empat tema workshop untuk memperkuat kesiapan nasional dalam percepatan energi bersih: power purchase agreement, energy management system, renewable energy certificate, dan energy access atau listrik desa.
Gelaran Electricity Connect 2025 dengan 120 exhibitor dan 50 pembicara ini diharapkan menjadi platform kunci untuk mendiskusikan strategi, inovasi, dan penguatan ketahanan energi demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang ambisius. (**)
Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post