Jakarta, Barta1.com — Langkah konkret transisi energi kembali dilakukan PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) dengan penandatanganan MoU dan HoA pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berkapasitas total 530 megawatt (MW). Proyek ini akan tersebar di 19 lokasi strategis di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Berdasarkan rincian, terdapat 7 proyek brown field dengan kapasitas 230 MW yang akan memanfaatkan infrastruktur eksisting untuk percepatan operasi. Selanjutnya, 8 proyek yellow field berpotensi menghasilkan 175 MW melalui pengembangan wilayah kerja panas bumi yang sudah memiliki data pendahuluan. Adapun 4 proyek green field akan membuka wilayah baru dengan potensi 125 MW.
Dari total kapasitas tersebut, 440 MW akan dikerjakan melalui skema percepatan—di mana Pertamina/PGE fokus pada penyiapan uap (hulu), sementara PLN Group bertanggung jawab pada penyiapan pembangkit (hilir). Sisanya, 90 MW akan dikembangkan bersama dengan skema co-generation yang memungkinkan pembagian infrastruktur dan efisiensi biaya.
Selain itu, PLN Indonesia Power (PLN IP) dan PGE menandatangani Consortium Agreement untuk dua proyek percontohan: PLTP Ulubelu Binary 30 MW di Lampung dan PLTP Lahendong Binary Unit 15 MW di Sulawesi Utara. Keduanya ditargetkan beroperasi pada 2027, dengan teknologi binary cycle yang mampu mengoptimalkan panas bumi bersuhu rendah hingga menengah.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan teknologi dan skema kolaboratif ini akan memperkuat fondasi transformasi energi nasional.
“Kapasitas 530 MW ini setara dengan pasokan listrik yang mampu melayani lebih dari 500 ribu rumah tangga, sekaligus mengurangi emisi karbon hingga jutaan ton per tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan pengembangan ini juga akan mendorong pemerataan energi di luar Jawa.
“Proyek ini menyasar daerah-daerah dengan potensi panas bumi besar, sehingga mampu mendukung elektrifikasi sekaligus perekonomian lokal,” katanya.
Menurut catatan ESDM, potensi panas bumi di Sumatera mencapai 9,6 GW, di Jawa 8,3 GW, dan di Sulawesi 3,4 GW. Dengan 19 proyek baru ini, PLN dan Pertamina memperkuat kontribusi terhadap target bauran EBT, ketahanan energi, dan elektrifikasi nasional.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi model pengembangan EBT yang terintegrasi, melibatkan BUMN, investasi nasional, dan teknologi berstandar global, demi terciptanya pasokan listrik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post