Manado, Barta1.com – Sahabat Kristen dalam Renungan Kristen hari ini sesuai bacaan 2 Samuel 15:2-3 diberi judul: Kampanye Hitam dan Politik Fitnah.
Absalom nekad. Ambisinya menjadi raja menggantikan ayahnya Daud, menggebu-gebu bahkan cenderung tak terkendali. Diapun merancang berbagai siasat jahat untuk menggulingkan raja Daud dari tahtanya. Ketika dia diampuni dan dikasihani raja Daud hingga kembali berada dalam lingkungan istana, otak liciknya mulai bekerja.
Dia memulainya dengan membuat fitnah terhadap ayahnya Daud, tetapi sekaligus sebagai tindakan pencitraan terhadap dirinya. Artinya, di satu sisi dia menjelekkan dan menjatuhkan raja Daud, tapi pada saat yang bersamaan pula dia menjelaskan bahwa dia adalah orang baik dan pantas menjadi pemimpin menggantungkan ayahnya itu sebagai raja Israel. Ayahnya dicitrakan jahat, sehingga pantas untuk digantikan olehnya.
Kampanye hitam racikan otak licik yang penuh dengan fitnah keji itu dimulainya dengan dia berdiri di tepi jalan menuju pintu gerbang istana. Itu dilakukannya setiap pagi atau tiap hari tanpa henti. Sebab dia tahu bahwa setiap orang Israel yang akan memiliki persoalan atau perkara, pasti akan lewat di situ sebelum masuk ke dalam istana. Jadi, tempat dia berdiri itu merupakan perlintasan banyak orang yang datang ke istana untuk diadili perkaranya.
Sebelum masuk ke dalam istana, Absalom memanggil mereka seolah-olah menjadi seorang figur yang peduli dan penuh kasih kepada semua orang Israel, terutama mereka yang sedang ada masalah (perkara). Satu persatu mereka yang datang itu dipanggilnya, disapa dan ditanyai siapa dia dan dari mana dia berasal. Kemudian dia menanyakan apa perkara yang sedang dia alami.
Dari situlah kemudian dia memulai memasukkan doktrin kebencian kepada raja. Belum juga perkara orang-orang itu diadili oleh raja, dia sudah mendahuluinya dengan fitnah keji kepada raja. Dia selalu berlagak seakan-akan dia sangat peduli kepada mereka dan kemudian dia mengatakan bahwa sebenarnya mereka itu benar dan tidak bersalah. Disebutkannya bahwa perkara mereka itu baik dan benar, sekalipun itu belum tentu demikian. Ini dia lakukan untuk merebut hati mereka.
Absalom kemudian mengatakan bahwa perkara mereka itu baik dan benar jadi seharusnya mereka menang dalam perkara itu. Tetapi, dari pihak raja, tidak akan mau peduli dengan mereka, sehingga mereka sulit atau tidak akan menang dalam perkaranya. Dengan kata lain dia mengatakan bahwa raja Daud akan bertindak tidak adil dalam mengadili perkara mereka. Tak ada satu orang pun di antara mereka yang mau mendengarkan segala keluh kesah dan persoalan umat Israel.
Saat itu juga Absalom akan melanjutkan fitnahnya dengan memperkenalkan dirinya sebagai pemimpin dan hakim yang adil. Dia mengatakan bahwa seandainya dia yang menjadi raja (sekaligus hakim) atas mereka, dia akan bertindak adil dan dia dapat menyelesaikan semua perkara umat Israel dengan baik dan benar, adil dan menguntungkan orang Israel, terutama mereka yang berperkara itu.
Jadi Absalom mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang lebih baik dari ayahnya dan karena itu, dia layak menggantikan raja Daud. Sehingga semua perkara di antara orang Israel, dapat diselesaikan dengan baik. Hal ini membuat banyak orang Israel semakin mengenalnya sebagai sosok alternatif yang akan menggantikan Daud, karena kampanye hitam yang dia lakukan itu. Begitulah politik fitnah dengan kampanye hitam yang dilakukan oleh Absalom. Dia menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan ayahnya sebagai raja yang dipilih dan diurapi Allah.
Demikian firman Tuhan hari ini.
Maka setiap pagi berdirilah Absalom di tepi jalan yang menuju pintu gerbang. Setiap orang yang mempunyai perkara dan yang mau masuk menghadap raja untuk diadili perkaranya, orang itu dipanggil Absalom dan ditanyai: “Dari kota manakah engkau?” Apabila ia menjawab: “Hambamu ini datang dari suku Israel anu,”
maka berkatalah Absalom kepadanya: “Lihat, perkaramu itu baik dan benar, tetapi dari pihak raja tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan engkau, (ay 2-3).
Sahabat Kristus, jika kita ingin jadi pemimpin, janganlah menghalalkan segala cara. Lakukanlah semuanya sesuai aturan tanpa menjatuhkan ataupun menyebarkan hoax kepada saingan ataupun pemimpin, demi menggapai ambisi kita.
Hiduplah berkenan kepada Tuhan dan jauhi diri kita dari fitnah keji. Apalagi kepada keluarga kita sendiri. Jangan demi ambisi dan keserakahan, kita menghalalkan segala cara, memfitnah ataupun melakukan kampanye hitam.
Sebaliknya, hiduplah baik dan benar sesuai firman Tuhan. Kasihilah semua orang, dan mulailah dari keluarga san orang terdekat. Jadilah pemimpin yang baik hati dan penuh kasih yang tulus dalam segala hal, agar hidup kami terus mempermuliakan nama Tuhan, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post