• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Jumat, Juni 12, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Naskah Drama Leamdale Tragedi Karya Iverdixon Tinungki

by Redaksi Barta1
26 November 2023
in Seni
0
Foto: Pemeran Leamdale dalam naskah Iverdixon Tinungki. (Dok. istimewa)

Foto: Pemeran Leamdale dalam naskah Iverdixon Tinungki. (Dok. istimewa)

0
SHARES
437
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

(Lakon adaptasi dari monolog “Leamdale Dan Suaminya” Iverdixon Tinungki)

(Di pekarangan gubuk Leamdale, di satu sisi ada meja tempat jualan dan sebuah kursi kayu tua. Di sisi yang lain bentangan tali jemuran dan tempat cuci pakaian, serta tempat mandi Gebra. Juga ada bangku dari kayu di sana.)

BAGIAN I:

Pagi. Bermula dari suara kokok ayam, disambut teriakan histeris seorang Gebra yang mengidap penyakit jiwa. Lalu ditimpa suara nyanyian Leamdale, mencoba menenangkan hati suaminya. Perempuan itu menyakikan lagu “Nyiur Hijau”, liriknya sudah berganti menjadi “Jagung Hijau”. Mendengar suara nyanyian istrinya, suaminya berangsur menjadi tenang.

Tak berapa lama, muncul Diro, seorang loper koran dan Majalah.

Diro:
Koran… Koran!

Sesaat kemudian, Leamdale yang berpakaian layaknya seorang lelaki muncul ke pekarangan sambil ngomel.

LEAMDALE:
Sial! Selalu seperti ini Diro. Topi, kumis, Jaket. Kostum-kostum penyamaran yang membuat aku jengkel. Benar-benar sakit jiwa yang membuat aku ikut jadi gila.

(Sambil mencopot semua atributnya sebagai lelaki, termasuk kumis yang ditempal persis di atas bibirnya.)

Kamu agak telat datang pagi ini Diro.

DIRO:
Iya, jalanan agak macet pagi ini, Leamdale.

LEAMDALE:
Apa di negeri ini tidak macet, semuanya macet, dan sengaja dimacetkan.

DIRO:
Lagian ada unjuk rasa di jalan utama sana.

LEAMDALE:
Sia-sia. Siapa peduli pada unjuk rasa saat rasa kemanusiaan, rasa keadilan telah mati.

DIRO:
Jangan terlalu emosi, itu akan menambah beban pikiranmu Lea.

LEAMDALE:
Setiap kali kau menyebut namaku Lea, aku jadi ingat hubungan kita yang lalu.
Maafkan aku Diro…

DIRO:
Cinta tak pernah mati Lea, meski yang dicintai memilih arah yang lain.
Begitulah cinta mempertahankan dirinya dalam hidupku.

(Mendadak Gebra muncul di jendela)

GEBRA:
(Marah)
Woi… jang ngana rampas kita pe bini. Kita peda pa ngana!

LEAMDALE:
Gebra, ini Diro sahabatmu!

GEBRA:
Ah…sahabat-sahabat apa. Capat ba angka ngana. Kita mo tamako pa ngana!

(Diro menyerahkan koran dan majalah yang dibawanya serta sebuah tas berisi bahan makanan)

LEAMDALE:
(Setelah meletakan dan mengaturnya di atas meja jualan koran dan majalahnya. Leamdale melihat isi tas yang diserahkan Diro)

Diro, terima kasih bantuanmu.

DIRO:
Ah…itu hanya bantuan sekadarnya saja, apalagi kau tetap sahabatku sejak kecil di desa. Kita sama-sama terdampar dipinggiran kota ini, ya sudah sepantasnya saling membantu. Aku pergi dulu Lea.

LEAMDALE:
Iya. Makasih ya bantuannya Diro. Maaf atas sikap Gebra.

(Diro Exit. Gebra menghilang dari jendela.)

LEAMDALE:
(Bergumam)
Diro…Diro, kau memang manusia baik.
Bahkan setelah aku menolak cintamu dan memilih menikah dengan Gebra dulu, kau tetap baik padaku. Seakan Tuhan selalu punya cara menyiapkan tangan untuk menolong.

(Tak berapa lama, mertua perempuan Leamdale muncul dari dapur gubuk membawa mok minuman untuk Leamdale dan meletakkan di atas meja jualan)

LEAMDALE:
Diro membawa beberapa bahan makanan untuk kita.

MERTUA:
Harusnya kamu menikah dengan Diro. Dia anak baik.
Tapi kau memilih Gebra anakku. Menurutku itu sebuah kesalahan.

LEAMDALE:
Sudalah Bu, itu cuma sebuah masa lalu.

MERTUA:
Ibu berharap kamu bisa sabar merawat Gebra.
Ini barangkali ujian iman buatmu.

(Leamdale mengangguk. Mertua exit membawa tas yang diserahkan Diro )

LEAMDALE:
Begitu selalu bujuk mertuaku. Tahun pertama aku masih bisa kuat. Karena aku benar-benar mencitai Gebra, suamiku. Tapi tahun kedua, tahun ketiga, siapa yang bisa bertahan mendampingi suami yang gila. Menceraikannya? Itu tak kulakukan! Menceraikan suami saat ia dalam keadaan sakit sangat tak manusiawi. Aku pasti dianggap perempuan jahat yang tidak punya hati nurani. Dan Tuhan pasti marah karenanya.

(Menarik nafas lalu dihempaskan. Sebuah gelang karet dipakainya mengikat rambut. Ada bunyi serine di kejauhan. Leamdale menengok ke arah jalan lalu mendesah.)

LEAMDALE:
Sejak suamiku merasa menjadi jangung, sejak itu pula ia takut kepada ayam. Bayangkan! Lelaki kekar dan tinggi, ya meski agak kampungan sih, namun ia cukup tampan dan macho, kok takut sama ayam. Gila ndak? Ia tak berani lagi pulang ke kampung. Ia tak lagi mau menginjak rumah kami. Ia tak mau bertandang ke tempat-tempat di mana ternak ayam dibiarkan berkeliaran, coba! Bahkan, sekadar membayangkan paruh ayam, ia langsung histeris. Ia selalu merasa sebagai jangung yang akan ditelan mentah-mentah oleh paruh yang sebetulnya kecil itu. Karena mengidap penyakit aneh itu, maka paramedis menyatakan suamiku sudah gila. Dan gilanya lagi, ia menganggap semua perempuan itu ayam. Ayam? Kok bisa begitu. Aku sampai pusing memikirkan penyebab penyakit suamiku. Makanya ia takut kepada semua perempuan. Setiap kali ia melihat perempuan, ia langsung gemetaran, ketakutan, dan berteriak-teriak histeris. “Jangan… jangan… jangan patuk aku…” begitu jeritnya. Makanya, setiap kali aku harus mengurus dia, mendekati dia, tidur dengan dia, aku harus berdandan seperti lelaki. Gila ndak!

(Mertua muncul lagi membawa pisang dan beberapa jenis buahan sebagai jualan dan mengaturnya di atas meja.)

MERTUA:
Sebagai ibu mertuamu, aku hanya bisa mengatakan, kamu harus tabah sebagai istri. Mengurus suami yang sakit akan menjadi berkah bagi dirimu. Surga cukup punya mata melihat pengabdianmu.

((Leamdale mengangguk. Mertua exit. Kemudian Leamdale duduk dengan wajah yang lemas dan kusut pada sebuah kursi.)

LEAMDALE:
Tapi sampai kapan aku bisa tahan seperti ini. Aku selalu memohon kepada Tuhan agar menjaga hatiku. Meningkatkan kesabaranku. Aku berdoa setiap malam untuk memohon ampunan atas segala dosa dan lalai kami.

Ada suatu ketika, aku membeli gado-gado kesukaannya. Karena ingin segera memberikan makanan kesukaannya itu padanya, aku lupa mengenakan kostum penyamaran, langsung masuk ke kamarnya. Tiba-tiba ia berteriak histeris dan menendang saya. Ia berteriak-teriak mengusir saya, seakan-akan saya ini seekor ayam yang ia musuhi.
“jangan patuk saya… jangan patuk saya!” begitu lolongnya. Saking keras suara lolongan itu, para tetangga pada berdatangan menengok. Ini benar-benar penyakit paling aneh sejagat.
Dokter-dokter di rumah sakit jiwa kelabakan menangani suamiku. Apalagi banyak sekali dokter perempuan. Setiap kali dokter mencoba mendekati dia, suamiku langsung histeris, dia pikir dokter perempuan itu punya paruh dan siap mematuk dia. Gila ndak? Kontan dia tidak bisa tinggal nginap di rumah sakit jiwa untuk perawatan. Mau perawatan gimana dokter dan perawatnya melulu perempuan. Lucunya, kebanyakan pasien di rumah sakit jiwa itu lelaki. Mengapa lelaki masa kini rawan gila ya?

Ngontrak di rumah gubuk inilah akhirnya jadi pilihan, biar masih dekat dengan rumah sakit jiwa. Aku tak terlalu repot mengantar suamiku berobat atau membutuhkan obat. Capek sebenarnya. Tapi mau apalagi, aku istrinya, ya tentu aku yang harus mengurusnya.

(Mertua muncul lagi membawa seember air dan perlengkapan mandi untuk Gerba.)

MERTUA:
Gebra keluarlah. Saatnya kamu mandi!

(Dengan cepat Leamdale mengenakan lagi kostum penyamarannya. Gebra mengintip dari jeruji jendela.)

GEBRA:
Apakah ayam-ayam itu sudah pergi?

MERTUA:
Sudah ibu usir semua!. Tinggal ibu, ayam tua yang tak punya paruh. Kamu aman kini untuk mandi.

(Sesaat kemudian Gebra keluar dari dalam gubuk hanya mengenakan celana pendek. Ibu memandikan Gebra, sementara Leamdale istrinya menyenandungkan lagu “Jagung Hijau” sambil membantu Mertuanya memandikan Gebra.)

MERTUA:
Gebra, cepatlah sembuh. Kamu harus tahu, belakangan ini sudah sangat susah mencari hidup. Kasihan Leamdale istrmu, tinggal berdagang koran dan buah-buahan. Itu satu-satunya yang bisa ia lakukan. Mau kerja apalagi di pinggiran kota semacam ini. Ibu hanya bisa sekali-sekali datang mengunjungimu, karena ibu harus ada di kampung menjaga anak-anakmu.

GEBRA:
Anak-anakku, ayam juga ya bu?

MERTUA:
Tidak. Mereka anak-anak yang cantik jelita.

GEBRA:
Perempuan?

MERTUA:
Iya.

GEBRA:
(Agak histeris)
Mereka ayam.

MERTUA:
Bukan. Mereka anak-anak yang cantik jelita.

GEBRA:
(histerisnya naik)
Anak perempuan itu ayam.
Mereka ayam.
Ayaaaammmmmmm!

MERTUA:
Bukan!

GEBRA:
Ayam!

MERTUA:
(Marah)
Bukan!

GEBRA:
(Teriak)
Ayam!

(Dalam keadaan sedemikian takut Gebra lari ke sana- ke marik sambil bicara)
Jangan patuk saya….jangan patuk saya….

(Leamdale dan Mertuanya berusaha menangkap Gebra lalu menyeretnya masuk ke dalam gubuk.)

BAGIAN II:

(Di pekarangan pagi itu, nampak Gebra sedang berdiri di bangku sambil memikirkan sesuatu dan sekali-sekali menatap istrinya dengan haru. Leamdale dengan kostum penyamarannya sedang mengatur jualannya. Sejenak membaca beberapa judulnya. Sesaat kemudian Leamdalemerasa jengkel, lalu meletakkan kembali Koran itu pada susunan dagangannya dengan kesal.)

LEAMDALE: Beritanya melulu politik busuk, criminal, korupsi dan dinasti. Apa sudah tidak ada berita lain ya di negeri ini. Mana orang mau beli Koran kalau isinya itu-itu melulu. Apa sudah tak ada berita lain yang bisa menginspirasi kehidupan, memberi kekuatan, membangun ketenangan dan harapan.

(Meraih gelas kopinya yang sudah agak dingin kemudian menyesapnya.)

LEAMDALE :
Tapi kalau berita Koran melulu kayak itu: politik, criminal, korupsi, dinasti, lama-lama tak ada lagi yang mau beli. Lalu aku harus bayar kontrakan rumah dengan apa, mau beli makan dengan apa, mau beli obat dengan apa.

(Tiba-tiba Gebra bersuara)

GEBRA:
dalam erang aku berseru:
“antara berjutajuta rajawali di langit tinggi
Engkaulah burung dara”
Kudus oleh karena nafas Tuhan dihembuskan
pada lempung saat Ia begitu riang
memberi nyawa pada hatimu yang lusuh dan semangat yang pudar
dan engkau beterbangan menjadi paristera
memperagakan seluruh dirimu adalah sinar kehidupan
tak terlampaui oleh puisi
meski beriburibu kali ditulis penyair, beriburibu kali kuerangkan
tak terbendung oleh benci dan putus asa
bahkan sesekali!
saat aku berpikir ingin bunuh diri
ciumanmu meledakan semua makna mati yang pernah ada
pernah dituliskan, pernah diwahyukan
hingga aku selalu pulang padamu
pada surga yang kubayangkan
yang letaknya hanya sejarak engkau mengulurkan tangan
mengangahkan gairah sejak celah dada dan penis
tak lebih ujung dari api ketakutan yang tak kupandamkan
karena membunuh demi ketakutan adalah mula pertama
dari sejarah dosa paling kuno yang tak mau kuulang
— kau tahu siapa Kristus?
Oleh karena cinta ia bangkit, dan membangkitkan!
Tapi begitulah zaman saat para penyamun
Menguasai seluruh sendi kekuasaan
Kebaikan akan segera mati
Dan cinta tak lebih paha dan vagina
Di ranjangranjang artifisial
Sesaat nampak megah
Namun dalam beberapa erangan saja
Dunia menjadi basah oleh air mata
Sebagaina desa, yang kubayangkan!
seluruh dirimu adalah tanahtanah subur
gembur
Dan cintaku tumbuh di sana
Menjalari ruangruang kosong cakrawala
Mengrahmatinya dengan pemandangan-pemandang yang lembut
—Dan saat engkau mengulurkan tangan,
aku melihat Tuhan masih saja ada di binar matamu

(Leamdale menarik nafas panjang lalu menghempaskannya dengan lunglai. Tiba-tiba terdengar suara kokok ayam, lalu teriakan histeris Gebra yang ketakutan. Leamdale pun berpaling arah Gebra lalu menyanyi menenangkan suaminya: Jangung Hijau, di tepi pantai, siar siur daunnya melambai. Jagung mengembang, kuning merayu, burung-burung kutilang bernyanyi. Tanah airku, tumpah darahku, tanah yang kaya, aman makmur. Suara teriakan suaminya berangsur surut. Gebra kemudian duduk meringkuk di bangku itu menenangkan hatinya)

LEAMDALE: Sebenarnya aku merasa tidak enak sama pencipta lagu itu. Aku merasa bersalah telah mengubah liriknya. Aku tahu ini kejahatan. Tapi bagaimana lagi, lagu itu satu-satunya yang bisa membuat suamiku redah dari histerisnya. Moga aku dimaafkan oleh si pencipta.

(Terdengar bunyi serine polisi yang melintas di jalan yang tak begitu jauh.)

LEAMDALE: Hu…serine lagi. ! Di kota besar seperti ini selalu terdengar bunyi serine. Hampir setiap jam ada serine. Itu sebabnya kadang aku bersyukur suamiku hanya merasa sebagai jangung. Andaikata ia merasa menjadi rakyat, ia pasti takut pada serine. Bayangkan serine sebanyak itu, sebanyak itu pula suamiku bakal mengalami hysteria. Ia bakal takut ke mana-mana. Karena di mana-mana pasti ada aparat melintas dengan serine. (berpikir sejenak) Kenapa ya, jangankan di kota, di kampung kami juga, aparat itu begitu menakutkan. Mereka bisa jadi sangat kejam kepada rakyat.

Andai saja suamiku merasa sebagai anggota dewan, bukan jagung. Pasti dan pasti ia selalu bepergian dengan pakaian necis, dasi, bertukar stelan, gonta-ganti kendaraan. Ia akan sangat sibuk ngurus banyak hal, bicara banyak hal menyangkut visi politiknya, tentang masa depan bangsa, nasib kaum bawah yang harus dipihakinya. Ia akan begitu kritis memikirkan banyak hal yang berhubungan dengan kemaslahatan hidup banyak orang. Iya kan!

GEBRA:
Aku tidak suka mengidap penyakit ini.

LEAMDALE:
Baguslah kamu sudah agak sadar.

GEBRA:
Aku tidak suka jadi pembohong ulung. Lihat saja, sudah ratusan kali para anggota dewan itu bertandang ke kampung kita, apalagi pada musim pemilu. Banyak janji mereka tebarkan, namun tak ada satu pun dari janji-janji itu terealisasikan. Aku tak mau jadi pembohong ulung!

LEAMDALE:

Dipikir-pikir, benar-benar mengerikan juga bila kau ketularan penyakit anggota dewan itu.

(Tiba-tiba terdengar suara kokok ayam, lalu teriakan histeris Gebra. Leamdela tampak agak jengkel. )

LEAMDALE:
Woi diamlah. Ayam itu jauh di sana. Dia tak akan mematuk kau. Diamlah!
(Teriakan suami belum juga surut. Leamdela mendekati Gebra lalu menyanyi “Jagung Hijau” dengan suara keras, mengalahkan suara teriakan suaminya.Suara teriakan surut. Leamdale kembali ke tempat dagangannya.)

LEAMDALE:
Benar-benar gila, setiap hari seperti ini. Dari situ berjalan ke sini, dari sini berjalan ke situ hanya untuk menyanyikan lagu “jagung hijau”. (Marah) “Kukuruyuk! Kenapa sih ayam selalu berkokok?” (disambut teriakan histeris Gebra lagi.) “kukuruyuk… kukuruyuk… kukuruyuk…” (timpal Leamdale marah.)

(Teriakan histeris suaminya kian menjadi-jadi.Leamdale terpaksa menyanyikan lagi Jagung Hijau. Teriakan suaminya surut.)

LEAMDALE:
Ingatlah kalian para petani, jangan sekali-kali menjual kebun kalian. Suamiku begini gara-gara menjual kebun jagungnya. Lima hektar kebun jagun warisan orang tuannya dijual, gila ndak? “Aku akan pergi ke kota, untuk membuka usaha yang lebih menjanjikan bagi hidup kita Leamdale, istriku,” begitu ujar suamiku padaku. Penuh rayu. Penuh optimisme. Ya aku mengiyakan saja. Siapa perempuan yang tak mengimpikan peningkatan taraf hidup. Suamiku berangkat ke kota bersama Gegor, teman sekampung. Gegor sudah lama hidup di kota. Dia yang membujuk suamiku untuk menjual ladang jagungnya. Dia yang meyakinkan suamiku bahwa berusaha di kota itu lebih menjanjikan dari pada berudik diri di kampung yang hanya diliputi bau tanah dan rumput. Dia meminta suamiku meninggalkan tanah becek di kampung demi meraih masa depan yang gilang gemilang di kota.

Hanya satu tahun! Hanya satu tahun saja aku langsung dapat kabar dari Gegor, suamiku sudah jadi gila di kota. Semua uang hasil penjualan ladang jangung ludes digarap sama perempuan-perempuan peliharaan Gegor. Gegor itu ternyata germo. Aku sangat terpukul mendengar kabar itu. Aku harus meninggalkan kedua anakku yang masih SD kepada mertua. Berat rasanya meninggalkan kedua anak perempuanku itu. Tapi apa yang bisa kubuat. Aku harus datang mengurus suamiku.

Sumpah! Betapa pahit kenyataan yang kudapatkan di tempat Gegor tinggal. Di sana suamiku benar-benar menjadi gila. Ia menganggap dirinya jangung. Ia takut pada ayam. Ia takut pada perempuan-perempuan yang telah menguras duitnya. Ia menganggap mereka semua ayam yang telah mematuk hidupnya.

Aku sedih! Betapa malangnya hidupku. Betapa malang hidup anak-anakku nanti. Tiga bulan aku dan suamiku numpang di rumah Gegor untuk berobat. Uang yang kubawa dari kampung kupakai untuk biaya pengobatan suamiku. Gegor sahabat suamiku bukannya membatu, bangsat itu malah meminta saya melayani para pelanggannya dengan alasan biar dapat duit untuk pengobatan suamiku. Aku kontan menolak. Masa aku disuruh jadi pelacur. Aku marah besar ketika itu. Benar-benar marah. Aku ajak suamiku segera berangkat ke kambung. Dia berkeras tidak mau ke kampung, dia tidak mau bertemu dengan dua anak kami yang disangkanya sudah menjelma jadi ayam juga.

Aku menangis tak berdaya. Aku melolong sesukaku untuk melepas semua kekesalan dalam pikiranku. Betapa buntu hidupku. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa untuk semua ini. Aku marah sama Gegor, aku marah sama semua perempuan yang telah mengubah hidup suamiku menjadi biji-biji jangung itu. Aku marah sama suamiku yang begitu lugu dibodohi semua orang. Aku marah pada diriku yang menyetujui begitu saja niat seamiku menjual ladang jangungnya.
Dan apa kalian mau tahu? Di tengah situasi yang kalut itu si bangsat Gegor memperkosahku. Untung aku bisa brontak. Aku melawan. Kami berkalahi seperti dua musuh yang sudah berniat saling bunuh. Perempuan-perempuan datang melarai kami. Kuseret suamiku seperti menyeret anjing meninggalkan tempat Gegor. Aku benar-benar telah merasa ikut jadi gila.

( Leamdale diam sejenak menahan tubuhnya yang gemetar, menarik napas untuk melegakan perasaanya.)

GEBRA:
Di atas udara yang teralas bagai sprei
pernahkah engkau mendengar Tuhan marah
pada mereka yang gundah
pada hati yang lara
selain menguntumkan bakung
meranumkan buah
lalu memeluk kita sekudus mencintai diriNya
Tahukah kau
Agar waktu tak berlalu begitu saja
menjaga orang yang dicintai
Dari ketakutan akan kehilangan
Adalah menjadikan yang mustahil berdenyut

LEAMDALE:
Setiap kali aku teringat peristiwa itu, tubuhku langsung gemetar, rasa mual memenuhi dadaku.

(Leamdale meraih mangkut didekatnya lalu minum. Namun ia langsung muntah. Tiba-tiba terdengar suara kokok ayam, lalu teriakan Gebra. Leamdale tampak panik.)

LEAMDALE:
O Tuhan, tolong aku. Aku tak kuat lagi… Berhentilah berterik!
(Teriakan histeris suaminya terdengar lagi. Tubuh Leamdale kian gemetar.)

LEAMDALE:
Berhentilah… berhentilah berteriak!

(Teriakan histeris suaminya terdengar lagi. Leamdale jadi histeris. Ia berjalan ke sana ke mari dalam kebingungan, mengepak kedua tangannya ke pinggulnya selayaknya ayam, lalu menimpali teriakan suaminya dengan teriak “Kukuruyuk”. Suasana jadi gaduh tak terkendali. Leamdale membuang semua jualan korannya hingga bertebaran ke mana-mana. Leamdale benar-benar bertingkah seperti ayam. )

LEAMDALE:
Tolong…tolong aku… aku rasanya ingin bertelur…aku ingin bertelur!

(Leamdale masuk ke sebuah loyang besar di halaman itu lalu bertelur di sana. Suara teriakan suaminya masih terdengar. Tak berapa lama, Leamdale berkotek seperti ayam yang selesai bertelur. Suara kotek itu membuat terikan histeris suaminya kian kencang. Sambil berkotek Leamdale seperti terbang merangsek masuk ke dalam rumah. Lalu sesaat terdengar suara barang yang berhamburan begitu berisik. Mertua muncul ke pekarangan menyanyikan lagu “Nyiur Hijau” versi aslinya, kemudian sunyi.)

(Lampu perlahan padam.)
(Terdengar kokok ayam petanda hari sudah pagi.)
(Lampu menyala kembali)
(Muncul Diro membawa koran dan sebuah bungkusan makanan)

Diro:
Koran… Koran…

(Mendadak muncul Gebra dengan kapak)

Gebra:
Leamdale deng kita pe Mama, kita so bla deng tamako. Kini ngana pe giliran!

(Gebra mengayunkan kapak ke Diro)

Lampu Padam.

TAMAT.
Dilarang dipentaskan tanpa seizing pengarang.

Barta1.Com
Tags: Leamdale TragediNaskah Drama Iverdixon Tinungki
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Foto: Lakon penyaliban Kristus dalam naskah Pateor karya Iverdixon Tinungki. (Dok. Istimewa)

Naskah Drama Rohani Pateor Karya Iverdixon Tinungki

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Tahun Ajaran Baru di Depan Mata, Sekolah Rusak di Matutuang Jadi Prioritas Pascagempa M7,7 12 Juni 2026
  • Kemiskinan Ekstrem di Sangihe Turun, Pemkab Optimistis Angka Kemiskinan Ikut Menyusut 12 Juni 2026
  • PLN Jamin Listrik Tanpa Kedip di Puncak HUT Tiga Instansi Sulteng 12 Juni 2026
  • Ubah Sampah Jadi Berkah, PIKK PLN Tolitoli Edukasi Warga Bikin Eco-Enzyme 12 Juni 2026
  • Gempa Sangihe: PLN Salurkan Bantuan Logistik ke Tiga Desa Terluar 12 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In