Kecemasan tengah membayangi hidup keluarga Elbi Piter. Ibu rumah tangga asal Kampung Bowone di Kepulauan Sangihe itu gundah, karena desanya masuk dalam kawasan produksi pertambangan emas yang dikelola korporasi bernama PT Tambang Mas Sangihe (TMS).
Maret 2021 Elbi mengaku diundang sosialisasi pihak perusahaan bersama sejumlah warga. Saat itu dia mengetahui izin produksi pertambangan emas sudah terbit. Artinya PT TMS sekarang bisa dengan leluasa mengeksplorasi setiap jengkal tanah di kawasan lingkar tambang, termasuk Bowone, kampung yang ditinggali Elbi puluhan tahun.
“Saat itu saya kaget, bagaimana izin bisa keluar sementara kami masyarakat tidak pernah tahu, tak pernah dilibatkan pada rencana ini. Kan setidaknya untuk penambangan besar seperti ini suara warga harus didengar,” cetus Elbi.
Kekhawatirannya tergambar jelas saat berbicara dalam forum daring bertajuk “Selamatkan Sangihe Kekendage”, sebuah diskusi yang diinisiasi gerakan Save Sangihe Island (SSI), Rabu (05/05/2021) sore. Diskusi online itu diikuti diaspora Sangihe yang berada di luar Sulawesi Utara, juga beberapa perwakilan NGO yang melakukan kerja advokasi lingkungan. Hadirin lain adalah para pihak yang peduli dengan ancaman yang membayangi pulau tersebut.
Elbi dan suaminya adalah petani sederhana. Di sisi lain, dia sukses menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi di Manado. Sehingga, cukuplah bagi dirinya mengais rezeki dari hasil tanah dan laut, tapi bukan pertambangan. Dia bertanya ke pihak perusahaan, kenapa masyarakat tak dilibatkan ketika memulai pengurusan izin, tetapi perusahaan tak memberi jawaban.
“Saya bayangkan, Bowone ditambang lantas kami mau pindah ke mana,” kata dia. “Saya minta semua pihak bantu kami warga Sangihe agar izin pertambangan ini bisa dibatalkan, karena sampai kapan pun saya akan tetap menolak operasinya di tanah kelahiran saya.”
Akhadi Wira Satriaji, lebih dikenal sebagai Kaka Slank, juga ikut bersuara dalam diskusi tersebut. Kaka yang juga aktivis lingkungan menyerukan agar warga Sangihe jangan sampai mau dibeli sehingga tambang bisa beroperasi. Bahkan warga juga jangan terpecah, harus menyatukan niat dan semangat untuk terus melakukan penolakan.
“Kendati saya belum pernah ke Sangihe, saya yakin pulau itu indah, nah masyarakat jangan mau menukar keindahan itu dengan kehancuran. Kalaupun 10 tahun karena tambang bisa hadilkan uang tapi setelah itu yang ada kehancuran sehingga pulau itu tenggalam dan tidak lagi menjadi warisan untuk anak cucu kita,” ujar penyanyi yang sebelumnya juga ikut berjuang membatalkan izin pertambangan pasir besi di Pulau Bangka, Minahasa Utara.
Sedangkan mantan Kepala Badan Intelejen Strategis (BAIS) Laksamana Muda (TNI) Soleman B Ponto, seorang putra asli Sangihe, ikut menyerukan perlindungan terhadap tanah kelahirannya dari ancaman pertambangan. Dia meminta masyarakat Sangihe jangan ragu melakukan penolakan. Dia mengaku telah membicarakan penolakan tersebut ke Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) hingga Kementerian Lingkungan Hidup.
“Saya ajak kita semua tolak tambang itu, jangan sampai masyarakat menggali kubur sendiri,” cetus staf ahli Wantimpres ini.
Jull Takaliuang, pegiat lingkungan juga salah satu pelopor gerakan Save Sangihe Island, menyatakan akan menyurati pemerintah Kanada terkait tambang di Sangihe. Untuk diketahui, kabar beredar bahwa PT TMS dimodali oleh korporasi dari negara tersebut.
“Saya yakin Kanada adalah negara yang masyarakatnya peduli pada kelestarian lingkungan, juga pemerintahnya pasti arif melihat masalah ini yang mengancam kehidupan masyarakat di pulau kecil,” tandas Jull. (*)
Peliput: Ady Putong, Rendy Saselah


Discussion about this post