Sangihe, Barta1.com – Berada di ujung utara pulau Sulawesi, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina. Dengan status sebagai kabupaten kepulauan dimana kurang lebih 93% luas wilayahnya adalah laut, bukan berarti Kabupaten Kepulauan Sangihe tak punya spirit menjadi masyarakat petani yang produktif berkelanjutan.
Buktinya dalam catatan Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Sangihe, sedikitnya hingga saat ini ada 11 kecamatan yang telah menggarap lahan perkebunan, dengan didorong penyaluran bibit pangan lokal dan hortikultura berdasarkan kondisi wilayah masing-masing. Sementara itu data produksi tanaman lokal melalui Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Kepulauan Sangihe, dari beberapa kelompok tani (Poktan), di bulan Agustus 2020 produksi tanaman Cabai mencapai 4,5 ton, tanaman Tomat 3,2 ton, tanaman talas 300 kg, dan Ubi Kayu dikisaran 150 kg.
“Data produksi tersebut merupakan data yang diambil dari beberapa kelompok tani yang ada di Sangihe,” ujar Fera Massora Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Keseriusan pemerintah dan masyarakat Sangihe dalam mengembangkan pertanian semakin mendapat angin segar dengan kehadiran Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian, Yesiah Ery Tamalagi, selama dua hari sejak senin (16/11/2020).
Dua hari penuh dipergunakan sebaik-baik oleh Erick (saapaan akrabnya) dengan mengamati setiap sisi program pemerintah di sektor pertanian dan turun langsung membangun diskusi mengenai keluh-kesah petani di perbatasan Indonesia-Filipina ini.
Tamalagi mengapresiasi semangat dan upaya masyarakat Sangihe dalam mengembangkan pertanian. Dirinya mengungkapkan bahwa Sangihe memiliki potensi yang sangat luar biasa di bidang pertanian. Olehnya itu dirinya memboyong beberapa instansi, seperti Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo, Dr. Amin Nur, SP, MSi, Kepala Balai Karantina Sulut, Drh. Donny Muksydayan, MSi, Kepala Balai Penelitian Tanaman Palma Badan Litbang Pertanian Kantor Wilayah Pertanian Sulut, Dr. Ir. Ismail Maskromo, M.Si, dan beberapa pejabat terkait.
Setidaknya ada beberapa titik yang menjadi kunjungan pertamanya itu sebagai Staf Khusus Menteri. Tamalagi membangun diskusi dengan pengusaha kopera putih yang pejualannya menembus pasaran internasional yang ada di Tahuna, kemudian turun langsung menemui masyarakat petani Tahuna Barat untuk mencarikan solusi terkait serangan hama terhadap tanaman cabai dan tomat, hingga mendeteksi persoalan-persoalan lain yang kerap ditemui petani. Dirinya menegaskan sudah menjadi kewajiban instansi pertanian menjalankan komintmen Kementerian Pertanian untuk wajib hadir bagi petani.
“Apalah artinya gedung-gedung dan fasilitas megah, kalau petani tidak bisa didampingi. Pertanian itu ada di sawah, ada di kebun, ada di ladang. Karena itu jangan pernah berfikir bahwa pertanian itu adalah sebuah gedung dan birokrasi yang bertele-tele. Hari ini ketika saya turun lapangan, ternyata teman-teman petani dan PPL juga kewalahan bahwa memang intensitas hujan yang tinggi itu sudah pasti. Pertanyaannya kemudian bagaimana kita mengatasi itu? Dari tadi kan kita dapat di lapangan bahwa oh ada bibit yang lebih bagus. Yah sudah kita intervensi, tadi sudah panggil PPL-nya saya sudah tanya dimana bibitnya itu diadakan. Ayo kita bantu. Jadi persoalannya itu ada di lapangan bukan di belakang meja. Itu yang harus sama-sama kita lakukan. Dengan makin banyak kita turun lapangan, kita makin tahu kenyataannya,” jelasnya tegas.
Setidaknya tatap muka dengan perpanjangan tangan menteri memberikan kelegaan bagi petani di Pulau Sangihe. Ketika bertatapan langsung, petani-petani di wilayah kunjungannya itu dapat mengungkapkan harapan mereka.
“harapa kami tentu menjadi lebih baik dari sekarang dan mudah-mudahan pemerintah terus memperhatikan kami. Harapan kami ada bantuan bibit dan lain sebagainya. Kami tidak butuh bantuan uang, mendapat uang kan dari menanam. Jadi mungkin bibit, dan saran produksi lainnya,” ungkap Tony, salah satu petani Tahuna Barat.
Terkait kunjungan Staf Menteri Pertanian itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Sangihe, Golfried Pella mengatakan, kehadiran negara benar-benar ada untuk daerah perbatasan khususnya kepulauan Sangihe. Dirinya pun tak ingin menyia-nyiakan momentum yang baik itu untuk segera menyiapkan proposal ke pemerintah pusat agar daerah mendapatkan bantuan untuk mendukung sarana produksi pertanian.
“Banyak hal yang sudah menjadi catatan beliau dan mungkin tidak lama akan segara saya tindak lanjuti termasuk pembuatan proposal bantuan ke daerah ini di sektor pertanian. Kalau ada waktu tahun depan beliau akan datang lagi sehingga kita siapkan juga lahan khusus untuk percontohan. Seperti disampaikan beliau tadi akan memfasilitasi di tingkat kementerian. Itu yang disampaikan. Menjadi catatan juga adalah persoalan kemarin yang diungkapkan pak bupati kan memang yang terjadi di sini ketersedian sarana produksinya kemudian Alsintan, jadi kultivator, trektor, kemudian juga infrastruktur dasar jalan produksi pertanian, itu yang menonjol dan perlu ada sentuhan dari pemerintah pusat,” ungkap Pella kepada Barta1.com.
Peliput : Rendy Saselah


Discussion about this post