Oleh: Adrianus Kojongian
Sejak awal abad ke-20, masyarakat Tionghoa dan peranakan Tionghoa di Manado, semakin maju. Dalam pendidikan, dagang, dan perpolitikan. Mereka pun menaruh minat, solidaritas dan keprihatinan besar terhadap masalah-masalah yang terjadi di tanah leluhurnya Tiongkok.
Tanggal 12 Oktober 1909, pemerintah kolonial Belanda membuka Hollandsch-Chineesche School (HCS) di Manado yang menerima para murid berasal kaum Tionghoa, selain anak orang terkemuka Minahasa. Sangat banyak anak orang kaya Tionghoa bersekolah di sini, dan setamat melanjutkan pendidikan di Mulo (Meer uitgebreid lager onderwijs), lalu sekolah-sekolah bergengsi di pulau Jawa, semisal Koningin Wilhelmina School serta Prins Hendrik-School di Batavia (Jakarta) yang memiliki afdeeling HBS (Hogere Burger School) dan Handelsschool.
Dari sini lahir banyak kaum intelektual dan pedagang-pedagang sukses Tionghoa Manado yang berkiprah bukan hanya di kota Manado, namun juga di Surabaya, Batavia dan lain-lain kota. Bahkan, banyak pula menempuh pendidikan tinggi dalam berbagai disiplin ilmu di Batavia serta di Negeri Belanda, dan kemudian Tiongkok.
Baca juga: Menelusuri Pernik Sejarah Kampung Cina di Manado
Piet Teng, anak Teng Tjin Seng, menjadi pionir Tionghoa dari Manado yang belajar di Tiongkok. Menyandang diploma Mulo Don Bosco 1934, ia berkeinginan kuat menjadi pilot, sehingga belajar di Sekolah Yok Tjoe.
Pertengahan tahun 1936 dengan m.s. (motorschip) ‘Sibajak’ ia berangkat ke Tiongkok untuk masuk sekolah penerbang di Nanking. Sampai Menteri Pendidikan Tiongkok merespon, dengan menyatakan Piet Teng diterima dengan baik di sekolah yang memiliki nama lengkap Chung Yang Hang Khung Academy (Central Aviation Academy) itu. Sekolah tersebut berada di bawah kendali pribadi Jenderal Chiang Kai-shek
Selain Hollandsch-Chineesche School, kelak berdiri di Manado, Sekolah Chung Hwa Hui. Lalu bulan Oktober 1936, sebuah sekolah Tionghoa dibawah Chineesche Schoolvereeniging Tiong Hoa Hak Tong pimpinan Yoh Yong Tjoh (berbadan hukum dengan beslit awal tahun 1926).
Dikenal sebagai pedagang ulet, maka di Manado segera berdiri usaha-usaha besar berupa firma dari orang-orang Tionghoa Manado. Paling terkenal, Firma Lie Boen Yat &Co. Meski awalnya berdiri di Makassar Maret 1889 dibawah Lie Goan Tjiong dan Lie Tjeng Sioe, anak tertua Lie Boen Yat, yakni Lie Tjeng Lok yang membuatnya berkibar megah.
Tanggal 24 Maret 1919 Lie Tjeng Lok resmi mendirikan N.V. (Naamloze Vennootschap=perseroan terbatas) Handel Maatschappij Lie Boen Yat &Co yang kemudian mengambilalih 20 Agustus 1929 NV Celebes Molukken Cultuur Maatschappij yang bergerak dalam bidang perkebunan besar.
Kerajaan bisnis Lie Tjeng Lok bergerak dalam bidang ekspor, menguasai sebagian besar pasar ekspor di Amerika Serikat dan benua Eropa dengan mengirim kopra dan hasil bumi lain. Begitu pun pasar impor di wilayah Keresidenan Manado dan Maluku dikuasainya, khusus impor obat-obatan, parfum dan minuman.
Baca juga: Legenda Permesta dari Tonsea Menghalau Laksamana John Lie
Namun, firma yang dianggap perintis dan berdiri di Manado adalah yang dibangun oleh Wijkmeester Kampung Cina Tan Tjin Bie, kelak Letnan dan Kapitein Manado. Bulan Juni 1905 bersama dengan Tan Tjin Giok dan pengusaha B.A.Renesse van Duivenbode, ia mendirikan Firma Giok Bie en Co.
Firma lain yang terkenal adalah NV Liem Oei Tiong & Co. Liem memiliki toko besar Koppa serta percetakan. Tahun 1923 Liem menerbitkan mingguan berbahasa Tionghoa-Melayu bernama Keng Hwa Poo, yang sering bersaingan dengan mingguan Fikiran terbitan Lie Boen Yat & Co.
Kebanyakan firma dan usaha dagang Tionghoa di Manado tergabung menjadi anggota kongsie (perkumpulan dagang) Siang Hwee. Siang Hwee adalah federasi pedagang Tionghoa di Hindia-Belanda (Ho In Tiong Hoa Siang Hwee Lian Hap Hwee)
Di bawah Siang Hwee inilah, para pengusaha Tionghoa Manado tergerak dan bersolidaritas tinggi terhadap tanah leluhurnya Tiongkok pimpinan Jenderal Chiang yang menghadapi agresi tentara kekaisaran Jepang.
Asosiasi pedagang Tionghoa Manado, umpama, awal bulan Agustus 1925 berhasil mengumpulkan sebanyak 5.000 tael, dan mengirimkannya ke Shanghai Tiongkok. Dana dari Manado itu, untuk membantu wabah penyakit yang terjadi di sana.
Tahun 1938, di bulan Mei, ‘Comite Fonds Amal Tiongkok’ di Manado berhasil mengumpul dana sebesar f.7.668 untuk membantu penduduk kota Hankau di Tiongkok yang dilanda wabah penyakit malaria. Bantuan ke Hankau saat itu datang dari berbagai kota Indonesia. ‘Comite Pasar Malem Palembang’ berhasil mengumpul f.9000, sementara ‘Fonds Amal Djogja’ sebesar f.1.175.
Rekor bantuan berasal Tionghoa Manado dicatat di tahun 1939, ketika Tiongkok diagresi Jepang. Konsul-Jenderal Tiongkok di Batavia Tschou Kwong Kah dengan disertai Konsul di Makassar datang ke Manado bulan Mei, mengunjungi dan berbicara dengan berbagai kalangan.
Tokoh-tokoh Tionghoa Manado di bawah Kapitein Lie Goan Oan dan ayahnya Lie Tjeng Lok berhasil menggalang dana atas nama serikat pedagang Tionghoa Manado sebesar 40.000 dolar Cina. Uang tersebut adalah untuk membantu para korban perang di Tiongkok. Ini kemudian berbuntut, menjadi salahsatu alasan utama ketika sejumlah pedagang kaya serta politikus Tionghoa Manado dieksekusi Jepang di tahun 1942. Bantuan kemanusiaan tersebut dituduh Jepang adalah untuk membantu pemerintahan Chiang Kai-shek di Chungking membiayai perlawanannya.
Baca juga: Lie Tjeng Lok, Kisah Konglomerat Manado yang Berakhir Tragis
Banyak menyumbang tanah leluhurnya, kaum Tionghoa Manado tidak melupakan tanah dimana mereka lahir dan menjadi besar. Ada perkumpulan Tjeng Lian Hwee yang berbadan hukum di Manado tahun 1921. Tjeng Lian Hwe banyak bergerak di bidang sosial, dengan tubercolosefonds, kindervacantie-kolonie dan Haktongfonds.
Tionghoa kelahiran Manado yang sukses di rantau pun mendirikan berbagai organisasi. Paling terkenal, serikat Tiong Hoa-Menado di Surabaya yang berdiri pertengahan tahun 1930. Tokoh-tokohnya adalah: H.H.Ong, dokter Yap I Sian, Ong Kiem Hok, Yap I Hong, Tan Tek Beng dan Tjoa Tiang An.
H.H.Ong adalah ambtenar yang kemudian terpilih menjadi anggota Gemeenteraad Surabaya dan commies-redacteur lalu 1939 Hoofdcommies Provinsi Jawa Timur. Dokter Yap I Sian yang mengganti posisi Ong sebagai Ketua Tiong Hoa Menado tahun 1932, kelak ke Belanda dan meraih arts di Amsterdam 1938.
Serikat Tiong Hoa Menado banyak berpeduli dengan Manado. Ketika tahun 1932 terjadi gempabumi besar di Minahasa, di bulan Mei 1932 mereka mengumpul dan menyalurkan bantuan untuk para korban. Dana diperoleh dengan pemutaran film Das Lied ist aus di Capitol-theater dan Luxor-theater. Kemudian, Agustus 1932 mereka mengirim lagi bantuan sebesar f.283.
Kaum Tionghoa Manado pun terlibat aktif dalam politik lokal. Ketika Minahasaraad, terutama Gemeenteraad Manado dibentuk 1 Juli 1939, golongan orang timur asing (vreemde oosterlingen), hanya terwakili unsur Tionghoa.
Awalnya hanya satu anggota, Tong Goan Tjae di Gemeenteraad Manado dan Si Lae Hoeat di Minahasaraad. Sejak 1931 wakil Tionghoa di Gemeenteraad bahkan menjadi tiga orang (Lie Goan Oan, Sie Tjie Hian dan Tjang Eng Soei), sehingga membentuk satu fraksi.
Tahun 1935 Tan Tek Hoe, seorang pedagang dan anggota Gemeenteraad Manado lulusan Prins Hendrik-School, menjadi kandidat kuat untuk anggota Volksraad dari unsur Tionghoa. Demikian pula dengan Lie Tek Djin, anggota Gemeenteraad dan firmant dari Firma Lie Boen Yat&Co, serta Tjang Eng Soei ketika itu beheerder Gemeentebank. (*)
Sumber:
Delpher Kranten:
-Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie 27 Oktober 1916, 11 Agustus 1925, 7 Januari 1926, 16 Maret 1935, 18 Agustus 1939.
-Bataviaasch Nieuwsblad 25 Maret 1889, 16 Juli 1892, 21 Juni 1905, 6 Mei 1913, 11 Agustus 1925, 3 April 1929, 30 Mei 1939.
-De Indische Courant 10 Maret 1924, 3 Juni 1930, 2 November 1931, 22 Desember 1931, 1 April 1932, 21 Mei 1932,4 Juli 1936, 6 Juni 1939, 9 Oktober 1939.
-Soerabaijasch Handelsblad 16 April 1907, 28 Mei 1932, 27 Agustus 1932, 26 Oktober 1934, 24 Oktober 1936
-Het Vaderland 14 Juni 1936,10 Juni 1938.
-Utrechts Volksblad 7 Juli 1938.
-Ensiklopedia Tou Manado.
-Mini Biografi Lie Tjeng Lok dan Perusahaan-perusahaannya, Leonardi Tonggowasito dan Frits Mayer, 2001.
(Adrianus Kojongian adalah jurnalis serta kolumnis kisah-kisah sejarah di Sulawesi Utara.)


Discussion about this post