oleh

Legenda Permesta dari Tonsea Menghalau Laksamana John Lie

Hari masih pagi pada 22 Februari 1958, ketika tiba-tiba masyarakat dikejutkan bunyi dentuman yang memekak. Sesaat kemudian ledakan dahsyat terjadi di Stasiun Pemancar RRI Tikala. Hari itu, belum genap 1 tahun Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) dideklarasikan, pesawat tempur AURI berhasil melumpuhkan satu-satunya saluran informasi dan komunikasi yang menghubungkan Sulawesi Utara dengan Pulau Jawa.

Beberapa hari kemudian, masih pagi juga, Lengkong Worang baru saja menghirup kopinya ketika terdengar dentuman berulang-ulang dari Teluk Manado berujung ledakan di arah kota. Segera perwira Permesta itu bergegas dari rumahnya di bilangan Tikala menuju markas Kompi Pengawal yang dipimpinnya di Wanea. Tanpa menunggu perintah Panglima RI-24, Mayor DJ Somba, Lengkong bersama 15 prajurit pemberani sembari membawa 2 pucuk mortir mengambil posisi ke puncak bukit kecil di Mahakeret, di belakang Bapindo.

Dari arah pantai terlihat korvet Rajawali yang membuang tembakan. Sedangkan di arah Utara, api berkobar dan asap mengepul tebal dari tangki-tangki minyak di pesisir Manado, sudah dibumihanguskan. Nampak juga kepulan asap hitam di Sario. “Mungkin karena pasukan pusat tahu DJ Somba tinggal di kawasan Sario,” tulis Dr Ivan Kaunang dalam bukunya “Permesta: Manusia Dalam Perang – Riwayat Perjuangan Lengkong Worang”.

Baca juga: Mau Tahu Susunan Lengkap Organisasi Pasukan Permesta, Ini Dia…

Komando Korvet Rajawali dipegang Mayor John Lie. Dialah pelaut-pejuang yang begitu melegenda karena semasa perjuangan melawan penjajah, John Lie adalah penyelundup licin yang tak pernah ditangkap patroli Belanda. Perwira yang akhirnya berpangkat Laksamana dengan nama kewarganegaraan Jahja Daniel Darma itu dilahirkan di Manado pada 9 Maret 1911. Artinya yang saling berhadapan adalah sesama Kawanua — yang satu berdarah Tionghoa, satunya lagi putra Tonsea.

Dia adalah kapten PPB 31 LB, kapal cepat berbadan kecil yang paling sering menembus blokade Belanda. John Lie bolak-balik Pulau Sumatera, Singapura dan Malaya untuk mengangkut persenjataan bagi pejuang Indonesia. Sekali dia tertangkap di Singapura, namun akhirnya dibebaskan. Setiap kali beraksi John Lie mengemudikan kapalnya yang diberi nama The Outlaw dengan 1 tangan, tangan lainnya menggenggam Alkitab.

Roy Rowan, wartawan majalah Life pernah mengabadikan aksi-aksi heroik John Lie lewat sebuah tulisan berjudul Guns And Bibbles Are Smuggled to Indonesia. Roy menjuluki pelaut ini The Great Smuggler with the Bibble, penyelundup hebat dengan Alkitab, seperti halnya BBC London menyebut kapal John, The Black Speed Boat.

Nama besar John Lie, legenda lautan itu, tak membuat Lengkong Worang gentar. Sebagai keturunan dotu Lengkong Wuaya, Tona’as terkenal dari Tonsea, Lengkong Worang malah menyuruh pasukannya membuat steleng (kuda-kuda) untuk menaruh mortir. Mereka mengukur jarak sambil memperhatikan arah agar tidak ada halangan pada lintasan peluru. Segera beberapa tembakan belasan dari mortir Lengkong Worang diarahkan ke korvet Rajawali.

“Mungkin juga Mayor TNI AL John Lie kaget, dia berusaha menjauhkan kapal pemburunya dari jarak tembak sehingga tembakan mortir Lengkong dkk tidak mencapai sasaran,” ulas Ivan Kaunang.

Baca Juga: Sisi Lain Permesta, Perang Yang Dipicu Oleh Kopra

Namun tembakan mortir itu sudah cukup membuat korvet itu teroleng-oleng disapu ombak. Bagi Lengkong, tembakan tersebut tak hanya untuk membalas serangan pasukan pusat. Ini juga untuk menunjukkan pada pusat bahwa tentara Permesta eksis dan bukan pecundang. Sebenarnya posisi mortir ini diketahui John Lie dan pasukannya dari atas korvet, berhubung mengeluarkan asap saat menembak dari kawasan tinggi perbukitan Mahakeret. Bahkan dengan teknologi terbaru saat itu, John Lie bisa membalas menembak juga. Hanya saja, kata Ivan sebagaimana diceritakan Lengkong Worang dalam autobiografinya itu, sembari badan kapal berusaha menutup di balik asap korvet langsung menjauh.

“Baru ngoni rasa (baru kalian rasa),” teriak prajurit Permesta saat korvet Rajawali menghilang di lautan. Dari gerakan ini Lengkong membaca serangan yang dilakukan Angkatan Laut merupakan bentuk propaganda untuk menggentarkan nyali pejuang Permesta. “Kalau benar demikian tujuannya, justru John Lie keliru dan berpikir duakali untuk menyerang kota Manado lagi,” ulas Ivan.

Lengkong Worang adalah anak keenam dari tujuh bersaudara yang lahir dari pasangan Gerard Worang dan Johana Lengkong di Desa Tountalete Minahasa Utara. Kakak keduanya Hein Viktor Worang adalah tokoh TNI AD, pemimpin Batalyon Worang yang memadamkan gerakan Andi Azis di Makassar dan Republik Maluku Selatan (RMS) pimpinan dr Christ Soumokil. Kelak HV Worang menjadi Gubernur Sulawesi Utara. Lengkong yang mendapat pendidikan keprajuritan di Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) juga bergabung dengan Batalyon Worang.

Sebelum kontak senjata di Manado, Lengkong dan John Lie pernah berjuang bersama. Peristiwanya terjadi ketika penumpasan RMS di Ambon. Saat itu Batalyon Worang dan Batalyon Klaproth melakukan perang kota dalam pertempuran yang dipimpin Mayor Slamet Riyadi, sementara Korvet Rajawali yang dipimpin John Lie bersama KM Pati Unus yang juga ditumpangi Panglima Teritorium VII/Indonesia Timur, Kolonel Alex Evert Kawilarang, melakukan serangan dari laut. Mereka harus berhadapan dengan tentara RMS yang dikenal terlatih dalam perang segala medan, eks prajurit baret merah dan hijau bentukan KNIL. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Perang Waitatiri dan menjadi lokasi gugurnya Mayor Slamet Riyadi.

Baca juga: Ingat Musik Cadas, Ingat Rudi Gagola

Berbagai kemenangan yang diraih HV Worang telah melambungkan nama batalyonnya sehingga pernah diterima lewat upacar kehormatan di istana Presiden Soekarno. Batalyon Worang sendiri terdiri dari tujuh kompi masing-masing, Kompi Yuus Somba, Kompi Utu Lalu, Kompi Wim Tenges, Kompi Wuisan, Kompi Andi Odang, Kompi John Ottay, dan Kompi Wim Yoseph (Kompi Markas) dengan Kepala Staf Batalyon Kapten Rory. Pasukan Batalyon Worang berjumlah sekitar 1.100 orang.

Saat Permesta berdeklarasi pada 2 Maret 1957, sebagian besar anggota batalyon dan komandannya ikut bergabung di situ. Lengkong Worang kemudian dikenal sebagai legenda Permesta dari Tonsea; pakar persenjataan ringan dan berat yang juga tangan kanan Panglima DJ Somba. (*)

Editor: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed