oleh

Lie Tjeng Lok, Kisah Konglomerat Manado yang Berakhir Tragis

Usai Belanda membangun Benteng Niew Amsterdam di Wenang, setelah abad ke-17, arus pendatang dari daratan Asia yang masuk ke kawasan yang sekarang disebut Manado itu semakin melimpah. Mereka kebanyakan etnis Cina, Arab, Hadramaut selain Bugis Makassar dan Ternate yang masih satu tanah air.

Etnis pendatang yang merasakan gairah perekonomian di kota ini, memilih menetap. Bahkan perputaran ekonomi yang kian menakjubkan di Manado masa lalu membuat para pedagang dan buruh pekerja semakin ramai datang. Situasi itu juga terjadi dipicu pembangunan infrastruktur yang digiatkan pemerintah Belanda.

Karena kegiatan membangun infrastruktur ini, orang-orang dari Sangihe dan Talaud, pulau-pulau di Utara, juga didatangkan. Mereka adalah kelompok tukang yang menguasai teknologi arsitektur Eropa paling mutakhir di masa itu. Keterampilan tukang dari Sangihe dan Talaud diperoleh dari edukasi di Sekolah Gunung, pusat studi teknologi di Manganitu yang didirikan ‘Si Penginjil Tukang’ Erens T Steller.

Kemampuan berbisnis warga Tiongkok dan Arab yang membangun usaha dagangnya di Manado memunculkan banyak pengusaha sukses, bahkan hingga saat ini ketika dunia memasuki milenium kedua. Tapi di masa lalu, saat kota multi warna ini menjejak awal-awal abad ke-20, tidak ada satu yang bisa menyaingi kesuksesan Lie Tjeng Lok, enterpreneur kenamaan berdarah Cina di Manado.

Tjeng Lok mewarisi semangat ayahnya Lie Boen Yat yang mangkat pada 1897. Nama terakhir tentu mengingatkan siapa saja tentang kisah kepemilikan tanah terbesar di Manado dan sempat heboh beberapa tahun silam.

“Jiwa dan semangat bisnis sang ayah telah mengantarkannya menjadi bukan sekadar tokoh masyarakat Tionghoa di Manado, tapi juga seorang pengusaha kaya-raya,” kata penulis sejarah Adrianus Kojongian di blog pribadinya.

Usaha Lie Tjeng Lok berawal dari bisnis kecil-kecilan di Pasar 45, pusat kota Manado, tepatnya di depan Taman Kesatuan Bangsa saat ini yang memang masih jadi bagian Kampun Cina. Di toko kelontongan itu dia menjual tembakau, kue, pakaian bekas, beras dan menjahit. Semakin lama usaha ini berkembang, hingga Tjeng Lok berani membeli beberapa bidang tanah baik itu milik Belanda maupun warga lokal. Kemudian dia membangun belasan wisma dan rumah tinggal yang bisa disewakan, termasuk Wisma Eldorado di Sario Tumpaan. Pada masa-masa itu, tulis Adrianus, Eldorado adalah bangunan termegah di Manado.

Dia kemudian mengembangkan usaha berupa toko baru ke arah Timur pusat kota, tepatnya sekarang di depan eks bioskop Plaza. Dan puncaknya Tjeng Lok mendirikan perusahaan swasta Tionghoa pertama, NV Handel Maatschappij Lie Boen Yat & Co pada 24 Maret 1919, bersama 2 anaknya Lie Goan Tjoan dan Lie Goan Oan, yang juga Kapiten Cina di Manado. Kekayaannya bertambah setelah membangun percetakan Tjeng Lak dan lebih banyak lagi tanah serta bangunan yang bisa dia beli. Pada 20 Agustus 1929, atau 10 tahun kemudian, keluarga Lie mengakuisisi NV Celebes Molukken Cultuur Maatschappij yang bergerak dalam bidang perkebunan besar dengan aset erfpak (lahan perkebunan) di Pandu, Talawaan Besar, Talawaan Kecil dan Wusa.

Era 1930-an merupakan puncak kejayaan bisnis Lie Tjeng Lok. Dia adalah eksportir kopra serta berbagai komoditi perkebunan dari Sulawesi Utara ke benua Amerika dan Eropa. Sebagai importir obat-obatan, perfum dan minuman wilayah bisnisnya mulai dari keresidenan Manado hingga Maluku. Bersama putranya Lie Goan Oan, dia mendirikan NV Bouw Maatschappij Noord Celebes. Nama Lie Tjeng Lok dikenal sebagai konglomerat besar Hindia Belanda yang disegani semua orang.

Namun kejayaan itu berakhir tragis ketika Jepang memasuki Manado, menggantikan Belanda. Lie Tjeng Lok bersama dua anaknya, Lie Goan Oan dan Lie Tek Djien, ditangkap dan menghadapi sidang pemerintah Dai Nippon bersama Thung Kiem Ka, Frans Rindengan, Jusop Mait dan C. Been. Para terdakwa dituduh bermacam perkara. Tjeng Lok misalnya, disebut telah membiayai perjuangan Tjiang Kai Sek di Tiongkok yang saat itu tengah berevolusi melawan penjajahan Jepang. Tuduhan itu bisa saja akal-akalan Yanai, Sitjo (Walikota) Manado yang pernah ditolak Tjeng Lok beberapa tahun sebelumnya saat hendak menyewa Wisma Eldorado untuk dijadikan kantor. Seluruh kekayaan keluarga Lie kemudian di-beslag.

Sedangkan Jusop Mait, dia adalah mantan sersan KNIL yang dikenal jagoan anggar. Saat tidak lagi berdinas, Jusop diangkat sebagai Hukum Tua Talete, Tomohon. Tuduhan padanya sepele, antek Belanda dan kebelanda-belandaan. Tuduhan nyaris sama dialamatkan pada Frans Rindengan, Hukum Tua Tinoor, disebut membantu Belanda saat Jepang mengambil alih Tomohon pada 11 Januari 1941. Dalam proses persidangan, pemerintah Jepang menjatuhkan para terdakwa hukuman mati.

Pada 13 Februari 1942, sebulan setelah pemerintah Hindia Belanda dibawah pimpinan Residen Manado F Ch Hirschmann dan Komandan KNIL Mayor BFA Schilmoller takluk kepada Jepang, di Gunung Wenang Manado, Lie Tjeng Lok berumur 71 tahun bersama dua anaknya Lie Goan Oan dan Lie Tek Djien, serta Thung Kiem Ka, Frans Rindengan, Jusop Mait dan C Been dieksekusi dengan cara dipancung. Kuburan ketujuh korban kekejaman Jepang tersebut digali kembali tahun 1946, lalu dipindahkan ke taman makam pahlawan Belanda di Menteng Pulo Jakarta.

“Pusara bersama mereka itu sederhana. Sekadar dipatri nama beserta tanggal lahir,” kata Adrianus. (*)

Editor: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed