Manado, Barta1.com – Sebuah kawasan nan indah di ujung Manado bagian Utara. Dikelilingi hutan mangrove yang terjaga dan jadi bagian hidup masyarakat. Bahowo, terletak di Kelurahan Tongkaina, Lingkungan 4, Kecamatan Bunaken, Manado, Sulut.
Kecamatan Tongkaina ada 4 lingkungan. Lingkungan 4 terpisah dari 1 dan 3. Jarak menuju Bahowo pun dari pusat Kota Manado 15,3 KM dan memakan waktu 34 menit ketika menggunakan roda dua maupun empat.
Selain terhindar dari pencemaran sampah plastik, Bahowo sudah dikenal sebagai benteng kehidupan masyarakat Kota Manado. Dimana daerah tersebut memiliki kekayaan hutan mangrove yang begitu lebat dan tempat konservasi akan tumbuhan yang sering disebut bakau.
Mangrove untuk daerah Kota Manado hanya bisa ditemukan di sekitaran Manado Utara termasuk Bahowo.
Selain keindahan hutan mangrove, ada juga jembatan memiliki panjang 600 meter dari darat ke laut, dan sering dikunjungi masyarakat Manado maupun luar daerah hingga turis asing.
“Sudah ke 10 kali saya datang ke Bahowo. Karena tempat ini memiliki daya tarik tersendiri untuk bisa dikunjungi berulang-ulang. Dari segi kebersihan, tidak ada sampah plastic. Saya merasa Desa Bahowo ini memiliki tingkat kebersihan yang perlu diakui. Selama mengunjungi beberapa tempat di Kota Manado, hanya Bahowo tempat yang bisa dibilang paling bersih,” kata seorang pengunjung, Ovelya Christy Nalang saat diwawancarai Barta1.com, Sabtu (26/7/2020).
Bahowo merupakan tempat yang bisa menghilangkan penat dari padatnya aktivitas pusat Kota Manado. Menurutnya, untuk potensi wisata Bahowo memiliki daya tarik kuat pada dermaga atau jembatan serta hutan mangrove.
Ovelya menambahkan, keindahan dan kebersihan selalu terjaga karena masyarakat sadar. Bukan itu saja, masyarakat Bahowo begitu ramah kepada pengunjung.
Kepala Lingkungan (Pala) 4, Bahowo, Novinta Loho mengatakan, masyarakat Bahowo semuanya sudah sadar untuk menjaga lingkungan. “Setiap Minggu kita punya program kerja bakti dengan membersihkan seluruh areal di Bahowo. Berbagai sampah plastik kami daur kembali menjadi kerajinan, adapun bekas sedotan dibuat taflak meja,” ujarnya.
Sejak berdirinya jembatan wisata Bahowo dan makin banyaknya pengunjung, perhatian masyarakat Bahowo dalam menjaga lingkungan. Itu sekitar tahun 2009. “Kepedulian kami terhadap kebersihan Bahowo pada dasarnya karena sosialiasi dari pemerintah itu sendiri. Jika ada pengunjung yang datang kami sering melakukan sosialisasi untuk tidak membuang sampah sembarangan,” ujar Loho yang juga Ketua Kelompok Mangrove Bahowo.
Bawoho juga memiliki berbagai kekayaan alam yang diberikan Tuhan. Selain mangrove dan pemandangan indah melalui jembatan, juga menyimpan kekayaan alam seperti ikan, kepiting, udang dan lain-lain.
Pelaksana tugas (Plt) Kadis Lingkungan Hidup Manado, Xaverius Runtuwene mengakui kesadaran masyarakat Bahowo dalam menjaga lingkungannya.
“Mereka lakukan karena mereka sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Meski mayoritas masyarakat Bahowo memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan juga yang berkebun. Saya mengakui bahwa daerah pesisir terbersih ada di Bahowo,” ujarnya.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post