Minahasa, Barta1.com – Betina Issue bersama Solipetra menggelar workshop pembuatan tepung pisang bagi perempuan tani dan perkumpulan perempuan di Desa Kalasey 2, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, Senin (14/09/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung BPU Desa Kalasey 2 tersebut mengangkat tema “Tanah, Pangan dan Perempuan”, dengan subtema “Transformasi Pangan Lokal Menuju Kemandirian dan Keadilan Ekonomi bagi Perempuan Tani.”
Workshop ini menghadirkan dua narasumber yang ahli di bidangnya, yakni Dr. Mercy I. R. Taroreh, S.T.P., M.Si. dan Dr. Lorraine Sondak, S.P., M.P.

Ketua Panitia Pelaksana, Indri Kristine Tambuwun, S.Kom., menjelaskan bahwa pisang merupakan salah satu komoditas unggulan di Desa Kalasey Dua yang selama ini telah diolah secara turun-temurun oleh masyarakat.
Menurutnya, transformasi pangan lokal menjadi produk olahan tepung pisang dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat posisi perempuan tani dalam pengelolaan sumber daya pangan sekaligus membuka peluang ekonomi.

“Melalui transformasi pangan lokal menjadi olahan tepung pisang, perempuan tani berdaulat atas akses dan pengelolaan pangan dari tanahnya sendiri. Secara otomatis, mereka sedang membangun fondasi kemandirian finansial,” jelasnya.
Ia menegaskan, workshop tersebut tidak sekadar menjadi pelatihan teknis untuk menghasilkan sebuah produk unggulan.
“Workshop ini bukan sekadar pelatihan teknis, melatih kreativitas atau menghadirkan produk unggulan, tetapi juga langkah nyata dalam mewujudkan kemandirian dan keadilan ekonomi bagi perempuan tani,” ujarnya.
Kedua narasumber yang dihadirkan memberikan penguatan dari berbagai aspek, mulai dari teknologi pangan, manajemen pertanian hingga strategi pemasaran.
Dalam sesi materi, Dr. Mercy membedah aspek teknologi pengolahan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku pisang yang tepat, proses pengolahan secara higienis, teknik pengeringan, hingga metode penggilingan sehingga menghasilkan tepung yang halus, berkualitas dan siap digunakan.
Sementara itu, Dr. Lorraine memberikan penguatan terkait pengembangan kapasitas perempuan tani serta teknik pemasaran dalam mengelola produk lokal agar mampu memiliki daya saing di pasar.
Lebih lanjut, Indri Kristine yang akrab disapa Inska di kalangan aktivis mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan agar perempuan tani mampu mengolah pisang menjadi tepung dan menciptakan kemandirian finansial maupun pangan keluarga.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat peran perempuan tani dalam menjaga tanah sebagai sumber kehidupan dan pangan sebagai masa depan.
“Di garis terdepan yang merawat tanah dan memastikan ketersediaan pangan, ada sosok-sosok luar biasa, yaitu perempuan tani,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari perempuan tani di Desa Kalasey Dua, Pemerintah Desa Kalasey Dua, serta ibu-ibu PKK Desa Kalasey Dua.
Workshop juga dihadiri warga setempat yang didominasi oleh perempuan, serta sejumlah komunitas jejaring yang turut memberikan dukungan terhadap penguatan peran perempuan dalam pengelolaan pangan lokal dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post