Manado, Barta1.com — TFS HQ Tikala, Manado, menjadi ruang perjumpaan bagi karya seni dalam pameran bertajuk “MEMOAR”, yang menampilkan karya lukisan dari Jade Michelle, Vanessa Kerepowan, dan Trifena Tuna. Pameran ini berlangsung sejak Senin hingga Jumat, 24–28 Agustus 2026.

Karya-karya ketiga seniman muda tersebut rupanya mampu memukau banyak pengunjung, baik yang datang mewakili komunitas maupun secara individu. Salah satunya adalah Ramadhanti Talaha, yang mengaku baru pertama kali mengunjungi pameran seni seperti MEMOAR.
“Ini menjadi kali pertama saya melihat langsung karya-karya dari seniman muda. Saya merasa kagum hingga karya-karya tersebut benar-benar membinari pandangan saya,” ungkapnya.
Menurut Ramadhanti, seni memiliki keterhubungan yang erat dengan kehidupan serta cara manusia memandang lingkungan di sekitarnya. Ia pun merasa bangga dapat menyaksikan beragam karya yang dipamerkan, salah satunya karya Vanessa Maria Felicia.

“Saya merasa lukisan yang dilihat ini bukan sekadar karya visual, tetapi memiliki cerita dan emosi. Bahkan setelah keluar dari ruangan, beberapa karya masih terbayang karena berhasil meninggalkan kesan yang cukup dalam. Seperti lukisan Playing With Little Me karya Vanessa Maria Felicia, yang menggambarkan pertemuan antara diri yang dewasa dengan diri di masa kecil. Terkadang kita masih berjumpa dengan bagian dari masa kecil kita, yang sebenarnya tidak benar-benar sepenuhnya meninggalkan kita ketika dewasa,” ujarnya.
Karya sebagai Ekspresi Diri.
Saat diwawancarai Barta1.com, Vanessa menjelaskan bahwa karya-karya yang dibuatnya banyak berkaitan dengan ekspresi dan pengalaman pribadinya.

“Karya yang saya buat kebanyakan lebih ke ekspresi diri, berkaitan dengan pemahaman diri, pengetahuan, dan pola pikir,” ucapnya.
Ia kemudian menceritakan salah satu karyanya yang mengangkat bagaimana dunia memberikan berbagai doktrin kepada manusia, yang dalam perjalanannya dapat membawa dampak positif maupun negatif.
Salah satu karya yang menjadi perhatian Barta1.com berjudul “A Mind Full of Borrowed Truths”.
Dalam deskripsinya, Vanessa menuliskan bahwa karya tersebut menggambarkan bagaimana sejak kecil pikiran manusia dipenuhi oleh berbagai informasi, keyakinan, dan pandangan yang diberikan oleh lingkungan di sekitarnya. Semua itu perlahan membentuk cara seseorang melihat dunia sekaligus menentukan apa yang dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Namun, tidak semua hal yang ditanamkan kepada seseorang selalu sesuai dengan kenyataan. Sang anak kemudian menyadari bahwa sebagian dari apa yang selama ini dipercayainya mungkin bukanlah kebenaran yang sebenarnya. Kesadaran tersebut menghadirkan rasa sakit sekaligus kebingungan.
Tangis dalam karya itu menjadi simbol dari proses ketika seseorang mulai mempertanyakan apa yang selama ini diterimanya, membuka mata, dan akhirnya menyadari bahwa kebenaran tidak selalu datang dari luar, tetapi juga dapat ditemukan jauh di dalam dirinya sendiri.
Hal serupa juga terlihat dalam karya berjudul “The World Inside the Mind of an Artist”, yang menggambarkan ilustrasi mengenai pikiran seorang pelukis, acak, abstrak, dan terkadang terasa aneh dibandingkan pola pemikiran pada umumnya.
“Karya ini mencerminkan kerumitan dari pikiran seorang artist yang dituangkan dalam sebuah karya berbasis watercolour ini,” tulis Vanessa.
Perjalanan Vanessa Menekuni Dunia Seni.
Perempuan yang telah menekuni dunia seni sejak duduk di bangku SMA itu mengaku bahwa kecintaannya terhadap melukis terus berkembang seiring waktu.
Untuk memperdalam kemampuannya, Vanessa sempat menempuh pendidikan di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Malang. Namun, studinya hanya berlangsung selama dua semester sebelum pandemi COVID-19 membuatnya kembali ke Kota Manado.
“Saya bahkan pernah kuliah di DKV. Di sana saya belajar tentang seni di Malang, namun hanya dua semester karena terdampak COVID-19. Kemudian saya kembali ke Kota Manado,” ujarnya.
Meski tidak menyelesaikan studi tersebut, Vanessa mengaku memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman, termasuk dalam menggambar realis serta oil painting.
“Bahkan dahulu saya pernah menggambar realis untuk di-order, tapi lama-kelamaan menggunakan cat watercolor,” katanya.
Setelah beralih menggunakan watercolor, Vanessa merasa menemukan medium yang lebih sesuai dengan dirinya.
“Setelah menggunakan watercolor, saya merasa cocok. Akhirnya saya bisa membuat karya-karya bukan realis,” jelasnya.
Ketika ditanya mengenai jumlah karya yang telah dibuat, Vanessa menyebut sudah cukup banyak, bahkan jumlahnya tidak lagi dapat dihitung secara pasti.
“Sudah lumayan banyak karya yang dibuat, sedianya sudah tidak bisa dihitung, mungkin lebih dari seratus,” ucapnya.
Kecintaannya terhadap seni juga tidak terlepas dari lingkungan keluarga.
Vanessa menyebut, ketertarikannya pada dunia seni turut tumbuh karena sang ayah sendiri merupakan seorang pelukis.
Dari sana, seni bukan sekadar menjadi aktivitas untuk menghasilkan sebuah gambar, tetapi berkembang menjadi ruang bagi Vanessa untuk memahami diri, menuangkan pikiran, serta menyampaikan cerita melalui warna dan bentuk.
Melalui MEMOAR, karya-karyanya pun menemukan ruang untuk berbicara, mengajak pengunjung melihat, merasakan, dan mungkin menemukan kembali bagian-bagian dirinya sendiri di dalam sebuah lukisan. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post