• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Kamis, Agustus 6, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sastra

Membicang Kritik Sosial Dalam Puisi “Menjadi Pagi BagiMu” Karya Donald Toloh

by Iverdixon Tinungki
6 Agustus 2026
in Sastra
0
Penyair Donald Toloh

Penyair Donald Toloh

0
SHARES
20
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Catatan: Iverdixon Tinungki

Dari pinggiran Columbus Ohio Amerika Serikat, 05 Agustus 2026, penyair Donal Toloh mengirimkan saya sebuah puisi karyanya berjudul: “Menjadi Pagi BagiMu” lewat WhatsApp.

Harus disebutkan pertama, reaksi saya bahagia saat membaca puisi itu.

“Puisi ini sangat indah sekali Bung Donald,” balas saya usai membaca karyanya.

Majasnya sangat lembut namun kuat menohok lewat asosiasi dan personifikasi yang bersih dan terarah. Citraan diksi-diksinya juga sangat memperhitungkan detakan rima yang membuat pesan nampak selaras tersampaikan. Relatif tak ada masalah dari sisi struktur intrinsiknya.

Bagi mereka yang tumbuh dalam denyut panggung pertunjukan Sulawesi Utara era 1980-an, nama Donald bukanlah sosok asing. Ia adalah kawan sejiwa saya sejak zaman Teater Minim—ruang kreatif tempat mimpi-mimpi muda ditempa dalam keringat dan pencerahan panggung—sebelum jalan hidup membawanya berkiprah di kursi DPRD Minahasa Selatan, hingga akhirnya bermukim di benua orang.

Dan pagi 5 Agustus 2026 itu, puisi “Menjadi Pagi BagiMu” membuat dada saya berdesir hangat: Bahwa keindahan itu bukan lahir dari kerumitan kata yang tajam menancap, namun bisa dari pesan moral tanpa perlu berteriak.

Puisi Donald, tak lain adalah kesaksian jiwa seorang sahabat yang meski raga menjauh di belahan bumi lain, detak jantungnya tetap tertinggal di tanah kelahiran.

000

Dalam lanskap puisi Menjadi Pagi BagiMu, Donald Toloh tidak sedang memotret Indonesia dari brosur wisata bernuansa zamrud khatulistiwa. Ia memotret tanah airnya dengan mata yang perih, menghadirkan metafora ekologis yang getir sekaligus jujur.

“Membuat hutan mu kehilangan wajah / Membuat tanah mu kehilangan kekasih / Membuat laut mu kehilangan doa…”

Secara kausalitas atau hubungan sebab-akibat (indeks), larik-larik ini merupakan jeritan atas bencana lingkungan yang diproduksi oleh keserakahan. Hutan tak lagi memiliki eksotisme karena digunduli; tanah tak lagi subur karena diracuni; dan laut kehilangan kesucian doa para nelayan karena dicemari.

Kerusakan itu merayap hingga ke ceruk terpencil, membuat sungai-sungai menjerit kehilangan air dan burung-burung panik karena kehilangan rumahnya.

Kondisi sosial bangsa ini ditelanjangi lewat kontras yang tajam dalam puisi Donald. Di satu sisi, ada kelompok elit yang bertambah gemuk, menari riang, dan tertawa di atas kepedihan publik.

Di sisi lain, Indonesia digambarkan seperti seorang pengemis tua yang compang-camping, duduk termenung tanpa daya di atas trotoar trotoar jalan raya.

Tragedi terbesar dari kehancuran ini bukanlah invasi dari luar, melainkan pengkhianatan dari dalam.

Indonesia terluka berat bukan karena diserang musuh, melainkan karena tikaman anak-anaknya sendiri—para pejabat korup dan pemangku kepentingan yang melucuti kekayaan negerinya sendiri demi melipatgandakan harta pribadi.

000

Ketika kesaksian atas ketidakadilan dan kehancuran alam sudah melampaui batas ambang nalar kemanusiaan, puisi Donald Toloh bergerak naik menuju ranah transendental.

Ia bertransformasi menjadi sebuah ratapan teologis—sebuah dialog spiritual antara seorang hamba dengan Sang Pencipta.

“Duhai Tuhan ku / Mengapa bangsa ku ini telah lupa siapa yang melahirkan nya…”
Ungkapan ini adalah seruan ketidakberdayaan sekaligus keputusasaan yang suci. Ada kepedihan mendalam ketika menyaksikan sebuah bangsa mengalami amnesia sejarah dan tumpul nurani.

Langit yang digambarkan menjadi kelabu bukan sekadar fenomena cuaca atau polusi udara, melainkan penanda visual dari hilangnya titik harapan dan pudar daya spiritualitas warga bangsa.

Di titik inilah puisi ini berfungsi sebagai cermin reflektif. Donald tidak sedang menghakimi dengan kebencian, melainkan melayangkan pertanyaan eksistensial: mengapa manusia-manusia di negeri ini begitu tega membiarkan alam dan sesamanya hancur?

Melalui kepasrahan dan doa yang dilayangkan dari belahan benua Amerika, puisi ini mengetuk pintu langit, memohon agar kepekaan nurani yang telah mati dapat dihidupkan kembali di tengah kegelapan moral yang melanda tanah air.

000

Puisi “Menjadi Pagi BagiMu” karya Donald Toloh menyimpan arsitektur tanda yang dirancang sangat matang. Puisi ini bekerja melalui tatanan ikon, indeks, dan simbol yang saling berkelindan.

Secara ikonik, citraan “pengemis tua yang compang-camping” hadir sebagai kemiripan visual atas kondisi Indonesia hari ini—sebuah negeri kaya raya yang tereksploitasi hingga merana dan letih di pinggir jalan peradaban.

Sementara secara simbolik, istilah “pagi” dan “bianglala” memegang peranan sentral sebagai model dan kunci makna. Pagi adalah simbol kebangkitan, fajar harapan baru, dan kehangatan setelah melewati malam kegelapan yang pekat.

Sedangkan bianglala (pelangi) melambangkan keindahan, keberagaman, serta jembatan kedamaian setelah badai melanda.

Menurut pembacaan saya, meski secara heuristik puisi ini berkisah tentang seseorang yang mengaku lupa cara jatuh cinta namun ia tersentuh oleh derita negaranya.

Secara hermeneutik puisi kawan saya ini merefleksikan transformasi jiwa: sebuah perjalanan dari rasa jenuh dan skeptisisme politik menuju kesadaran nasionalisme yang memanggil setiap warga untuk kembali berbakti.

000
Ada ironi yang manis sekaligus menyentuh pada frasa pembuka yang diulang-ulang oleh Donald Toloh dalam puisinya: “Sejujurnya aku sudah lupa bagaimana cara dan rasanya jatuh cinta…”
Larik ini mencerminkan rasa apatis, kekecewaan, dan keputusasaan yang mendalam—sebuah perasaan yang mungkin diwakili oleh jutaan rakyat Indonesia saat menyaksikan karut-marut politik, ketimpangan sosial, dan eksploitasi alam yang tak kunjung usai.

Rasa cinta terhadap negeri kerap kali padam digantikan oleh rasa lelah dan skeptis.

Namun, puisi ini menolak untuk berhenti pada keputusasaan. Di tengah luka yang perih akibat tikaman anak-anak bangsa sendiri, lahir sebuah tekad pemulihan yang tulus: “…tapi bagi mu Indonesia ku / Biarlah aku belajar lagi membuka hati dan menjadi pagi bagi mu.”

Inilah inti dari seluruh karya Donald Toloh tersebut: Kebangkitan Harapan. Cinta tanah air di sini tidak dipahami sebagai romantisme sloganistik atau nasionalisme sempit, melainkan sebuah komitmen dan dedikasi emosional yang aktif.

Menjadi “pagi” dan “bianglala” berarti bersedia hadir menyapu air mata, menjadi penawar luka, serta membawa kehangatan baru bagi bumi pertiwi.

Dari Ohio, Donald Toloh telah memberikan sebuah maklumat batin: bahwa sedalam apa pun luka bangsa ini, selalu ada ruang untuk membuka hati dan memulai kembali pengabdian.

Makaseh banya kawanku atas kirim puisi yang indah ini. Salam dari Tuminting, Manado, 6 Agustus 2026. (*)

Lampiran Puisi Donald Toloh:

MENJADI PAGI BAGI MU

Sejujur nya aku sudah lupa bagaimana cara dan rasa nya jatuh cinta
tapi bagi mu Indonesia ku
Biarlah aku belajar lagi membuka hati dan menjadi pagi bagi mu.

Sekian lama aku melihat engkau dirampok tanpa perlawanan
Mereka lucuti semua harta mu
Membuat hutan mu kehilangan wajah
Membuat tanah mu kehilangan kekasih
Membuat laut mu kehilangan doa
Mereka menjadi gemuk
Sementara engkau seperti pengemis tua yang compang camping
duduk termenung di trotoar
Mereka tertawa disaat engkau bersedih
Mereka bertambah kaya engkau tambah melarat
Mereka menari riang diatas kepedihan mu
yang tersisa bagi mu hanya lah air mata

Sejujur nya aku sudah lupa bagaimana cara dan rasa nya jatuh cinta
tapi ijinkan aku menghapus air mata mu Indonesia ku
Betapa perih nya luka mu ketika engkau di tikam oleh anak-anak mu sendiri

Duhai Tuhan ku
Mengapa bangsa ku ini telah lupa siapa yang melahirkan nya
Mengapa mereka tega membuat sungai-sungai menjerit kehilangan air
Burung-burung kehilangan rumah
Sementara langit menjadi kelabu kehilangan harapan
Mengapa Tuhan

Duhai Tuhan ku
Sejujur nya aku sudah lupa bagaimana cara dan rasa nya jatuh cinta
tapi ijinkan aku menjadi bianglala di langit untuk Indonesia ku

(Donald Toloh, Columbus Ohio Amerika serikat, 03 Agustus 2026)

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Banggar DPRD Sulut Usulkan Dividen Rp79 Miliar Ditahan, Begini Penjelasan Dirut BSG Revino

Banggar DPRD Sulut Usulkan Dividen Rp79 Miliar Ditahan, Begini Penjelasan Dirut BSG Revino

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Banggar DPRD Sulut Usulkan Dividen Rp79 Miliar Ditahan, Begini Penjelasan Dirut BSG Revino 6 Agustus 2026
  • Membicang Kritik Sosial Dalam Puisi “Menjadi Pagi BagiMu” Karya Donald Toloh 6 Agustus 2026
  • AKBP Arie Sulistyo Ajak Awak Media Bersinergi Jaga Kamtibmas 5 Agustus 2026
  • Menembus Arus Selat Dudepo, Sentuhan Kabel Laut Pertama Sulawesi Tuntaskan 100 Persen Listrik Desa di Gorontalo 5 Agustus 2026
  • Reses di Tengah Duka, Hi. Amir Liputo Serap Aspirasi dan Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran Pakowa–Aspol 5 Agustus 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In