Manado, Barta1.com – Pembangunan sektor kesehatan di wilayah kepulauan tidak pernah sekadar tentang kemegahan infrastruktur dan ketersediaan alat medis, melainkan berakar pada keandalan sumber daya manusianya.
Kesadaran inilah yang ditegaskan secara tajam oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Heronimus Makainas SE, saat membuka pelatihan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan sanitarian se-Kabupaten Sitaro, Senin (03/08/2026) di Hotel Aryaduta Manado.
Di hadapan puluhan tenaga medis yang menjadi ujung tombak pelayanan, Makainas menyoroti dua isu krusial yang saling bertautan dan membutuhkan intervensi cepat; ancaman Penyakit Tropis Terabaikan (Neglected Tropical Diseases/NTDs) seperti kusta dan frambusia, serta bom waktu pencemaran lingkungan akibat tata kelola limbah medis yang tidak berstandar.
Berdasarkan laporan terkini dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sitaro, terdeteksi setidaknya 19 kasus kusta yang tersebar di wilayah Sitaro. Makainas secara terbuka mengaku terkejut dan langsung mencecar Kepala Dinas Kesehatan mengenai sifat penyebaran penyakit tersebut. Fakta bahwa penyakit eksotik ini masih menular dan berjangkit di Sitaro, memicu keprihatinan mendalam dari pimpinan daerah tersebut.
“Jika terdapat 19 kasus, ini berarti kita harus mengidentifikasinya secara serius dan terinventarisasi dengan ketat. Kita harus memproteksi dan mencegah penularannya, apalagi jika menyasar anak-anak dan usia muda. Ini alarm yang sangat serius bagi kita semua,” tegas Makainas dengan nada lugas, menyiratkan bahwa kesehatan publik tidak bisa dikompromikan.
Dari sisi medis, kusta (Morbus Hansen) merupakan infeksi bakteri mikobakterium kronis yang menyerang saraf tepi, kulit, dan saluran pernapasan. Jika rantai penularannya tidak diputus, penyakit ini berisiko tinggi menyebabkan kecacatan permanen.
Angka 19 kasus di wilayah kepulauan dengan demografi populasi yang relatif terbatas mengindikasi mendesaknya pelacakan kontak yang agresif di tingkat puskesmas.Oleh karena itu, Makainas menginstruksikan penerapan langkah strategis dan terukur.
Mulai dari optimalisasi deteksi dini, penanganan kasus berstandar, edukasi masif kepada masyarakat pesisir guna menghilangkan stigma, hingga sistem pencatatan dan pelaporan yang akurat. Upaya kolaboratif ini diklaim sebagai kunci utama memutus rantai penularan kusta maupun frambusia di Sitaro.
Tidak berhenti pada penanganan klinis, Plt Bupati juga menyorot tajam ranah kesehatan lingkungan, khususnya ihwal pengelolaan limbah medis. Bagi wilayah kepulauan spesifik seperti Sitaro, penanganan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) medis menghadirkan tantangan logistik dan ekologis tersendiri yang sangat rentan mencemari pesisir jika abai dalam Standar Operasional Prosedur (SOP).
”Limbah medis yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan risiko fatal. Bukan hanya mengancam kesehatan dan keselamatan para petugas medis itu sendiri, tetapi juga masyarakat luas serta daya dukung lingkungan alam kita,” papar dirinya, sembari mengingatkan agar orientasi kesehatan harus berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan hidup.
Penguatan kompetensi tenaga sanitarian di setiap fasilitas layanan kesehatan kini menjadi hal yang tak bisa ditawar. Pengelolaan limbah dari hulu di Puskesmas atau RSUD hingga hilirnya harus patuh pada regulasi ketat.
Hal ini krusial demi mewujudkan fasilitas kesehatan yang aman, higienis, serta ramah terhadap ekosistem darat maupun laut kepulauan Sitaro.Dalam arahannya, Makainas turut menyentuh sisi moralitas, profesionalisme, dan empati para abdi negara.
Ia mengingatkan kembali esensi pengabdian; bahwa seluruh fasilitas, gaji, hingga pelatihan ini sejatinya dibiayai oleh uang rakyat, sehingga para tenaga medis dituntut menyerap keahlian teknis seraya mempertebal kepedulian dari hati.
“Banyak orang di luar sana yang bermimpi ingin menjadi dokter, perawat, atau petugas kesehatan. Tetapi teman-teman sekalianlah yang diberi kepercayaan. Jadikan kesempatan ini sebagai wadah belajar, perkuat keterampilan dan implementasikan di ruang kerja masing-masing, jangan sampai ilmunya hanya berhenti di ruang kelas ini,” pesan Makainas penuh harap.
Mengakhiri arahannya, Makainas menggaungkan kembali pentingnya sinergitas lintas sektor. Ia berharap seluruh elemen Puskesmas dan fasilitas kesehatan di Kabupaten Kepulauan Sitaro dapat menyatukan visi, turun ke lapangan bersama komunitas dan jajaran pemerintah daerah, guna menghadirkan pelayanan publik paripurna yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kegiatan ikut dihadiri Asisten 1 Setdakab Sitaro, Novia Tamaka dan Asisten 3 yang juga Plt Kadis Kesehatan, dr Samuel E. Raule bersama jajaran lainnya.
Peliput: Agustinus Hari

Discussion about this post