Tahuna, Barta1.com — Letak geografis yang terpisah lautan dan kerentanan terhadap cuaca ekstrem tidak menyurutkan langkah PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Suluttenggo untuk menjaga nyala terang di beranda utara Indonesia.
Komitmen tangguh ini dipertegas melalui pertemuan strategis antara General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, bersama Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, di Rumah Jabatan Bupati Sangihe, Senin (27/07/2026).
Silaturahmi ini melampaui sekadar bincang formal, melainkan wujud nyata konsolidasi krusial guna memastikan keandalan pasokan listrik perbatasan sekaligus mengevaluasi tuntas pemulihan kelistrikan pascabencana.
Fokus utama yang menyedot porsi besar dalam pertemuan tersebut adalah progres penanganan pascabencana hidrometeorologi di Kecamatan Tamako. Seperti yang diketahui publik, curah hujan berintensitas tinggi pada Rabu 22 Juli 2026 lalu telah memicu banjir dan tanah longsor di kawasan tersebut.
Khususnya di Kampung Binala dan Lelipang, yang merusak infrastruktur warga, memutus dua jembatan penghubung, serta melumpuhkan sebagian jaringan distribusi listrik. Menghadapi situasi krisis yang krusial itu, PLN dengan taktis merespons cepat untuk memulihkan pasokan sembari memegang teguh prinsip keselamatan nyawa masyarakat sebagai hukum tertinggi.
“Listrik adalah roda penggerak ekonomi dan fondasi utama aktivitas masyarakat. Karena itu, sinergi dengan Pemkab Sangihe, khususnya dalam percepatan pemulihan jaringan pascabencana banjir dan longsor di Tamako serta penyaluran bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak, sangat krusial,” tegas Usman.
Dalam kesempatan tersebut, ia secara khusus mengutarakan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Pemkab Sangihe, elemen TNI/Polri, serta masyarakat sipil yang telah bersatu-padu memberikan dukungan luar biasa sehingga sistem kelistrikan dapat dipulihkan dengan lancar dan aman.
Di medan tugas, rintangan berat dalam menembus jalanan yang terputus akibat timbunan material longsor dan pohon tumbang menjadi potret perjuangan tersendiri. Sesaat setelah bencana menghantam, PLN UP3 Tahuna dengan sigap menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke titik-titik krusial.
Membawa peralatan tanggap darurat dan berpedoman ketat pada standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), puluhan petugas teknis berjibaku mengisolasi area bahaya tegangan, membersihkan reruntuhan dari instalasi, dan membangun kembali tiang-tiang distribusi yang tumbang dihantam material alam.
Manager PLN UP3 Tahuna, Eko Yuwono, yang turut mendampingi kunjungan kerja tersebut, membagikan gambaran realistis terkait dinamika pemulihan di lapangan.
“Bencana alam adalah kondisi yang tidak terduga, namun kesiapsiagaan penuh seluruh personel PLN selalu menjadi prioritas utama. Meski menghadapi medan yang terjal dan tantangan cuaca, berkat kolaborasi erat dengan semua pemangku kepentingan, penormalan sistem kelistrikan di Tamako berhasil dituntaskan secara bertahap dan kini kembali aman melayani masyarakat,” urai Eko.
Beranjak dari isu tanggap darurat bencana, pembicaraan antar-pemimpin ini meluas membedah peta jalan jangka panjang demi menjamin keandalan sistem listrik kepulauan yang membentang dari Sangihe, Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), hingga kepulauan Talaud. Analisis terkait kesiapan daya pasok, evaluasi kualitas jaringan eksisting, hingga perumusan strategi peningkatan infrastruktur menjadi perbincangan sentral.
Agenda ini dirancang sejalan dengan misi PLN untuk mentransformasi daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) sebagai etalase kelistrikan masa depan.
“Wilayah kepulauan memiliki karakteristik geografis yang unik dan tantangan operasional yang sangat kompleks. Namun, tantangan tersebut tidak menyurutkan komitmen PLN untuk memberikan layanan kelistrikan terbaik,” terang Usman.
Lebih jauh, ia menjabarkan PLN secara konsisten menanamkan investasi penguatan sistem melingkupi agenda modernisasi mesin pembangkit, penjadwalan pemeliharaan preventif yang ketat, inovasi digitalisasi layanan, hingga eskalasi kesiapsiagaan darurat yang makin responsif terhadap gejolak alam.
Ambisi menerangi hingga tapal batas perairan ini berfondasikan pada capaian elektrifikasi yang kian menakjubkan di kawasan utara, di mana rasio elektrifikasi pelanggan PLN di Provinsi Sulawesi Utara kini telah menyentuh persentase 99,41 persen.
Demi menuntaskan target rasio elektrifikasi 100 persen, PLN UID Suluttenggo saat ini terus mengebut penyediaan akses di delapan desa wilayah kepulauan dan 3T yang masih belum merdeka listrik, yang mana enam desa di antaranya—termasuk Kahakitang, Para, dan Dalako Bembanehe—terletak strategis di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kehadiran energi listrik yang berdaya tahan, aman, dan berkualitas paripurna diyakini tak sekadar berfungsi vital dalam menambal luka fisik pascabencana, melainkan ampuh mendorong perputaran mesin ekonomi, menebalkan ketahanan wilayah, sekaligus menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat yang bermukim di garda terdepan Republik Indonesia. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post