Minut, Barta1.com – Mikroalga hijau kebiruan yang dikenal sebagai spirulina kini bukan lagi monopoli industri kesehatan raksasa. Lewat tangan dingin PT PLN (Persero) UID Suluttenggo, masyarakat Desa Tarabitan, Minahasa Utara, bersiap menembus pasar industri superfood.
Hal ini ditandai dengan pembukaan Pelatihan Pengembangan Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Spirulina yang digelar oleh PLN pada Rabu (15/07/2026). Sebagai informasi, data pasar global menunjukkan tren konsumsi spirulina terus meroket, didorong oleh tingginya kandungan protein nabati (mencapai 60-70%) serta antioksidan di dalamnya.
Melihat celah ekonomi bernilai tinggi ini, PLN bergerak cepat merangkul warga Tarabitan untuk melakukan hilirisasi produk. Pelatihan yang diberikan mencakup teknik budidaya mikroalga, pemrosesan pasca-panen, hingga strategi digital marketing agar produk mampu menembus ceruk pasar yang lebih masif.
Ketua Forum IKM-UMKM Kota Manado, Santje Pontoh, yang dihadirkan secara khusus sebagai narasumber, membedah potensi luar biasa dari komoditas ini. Menurutnya, spirulina pesisir Minahasa Utara memiliki prospek yang sangat menjanjikan asalkan dikelola dengan standar industri yang profesional dan berkelanjutan.
“Spirulina merupakan salah satu komoditas superfood dengan nilai ekonomi tinggi dan kaya manfaat kesehatan. Melalui pelatihan ini, masyarakat tidak hanya belajar teknik budidaya, tetapi juga memahami pentingnya standardisasi produk, pengemasan menarik, hingga strategi pemasaran yang efektif. Dengan demikian, produk lokal Desa Tarabitan ini akan memiliki daya saing tinggi,” beber Santje di hadapan para peserta.
Daya saing tinggi tersebut juga ditopang oleh kesiapan infrastruktur. General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, menjelaskan bahwa kehadiran listrik adalah kunci utama dalam menjaga kualitas panen spirulina. Aliran listrik yang stabil menjamin sirkulasi air dan pencahayaan yang mutlak dibutuhkan mikroalga agar memenuhi standar grade konsumsi.
Untuk memastikan produk ini benar-benar diserap pasar, Manager PLN UP3 Manado, Revi Aldrian, berjanji akan mengawal kelompok tani ini hingga tahap kemandirian finansial.
“PLN berkomitmen untuk terus mendampingi kelompok hingga mereka benar-benar mandiri secara ekonomi,” ucapnya, menegaskan bahwa pelatihan ini adalah titik awal dari sebuah peta jalan ekonomi jangka panjang.
Bagi warga setempat, ilmu standardisasi pengemasan dan pemasaran digital ini bagaikan oase. Ketua Kelompok Spirulina Farm Desa Tarabitan mengaku pengetahuan baru ini telah membuka mata warga tentang bagaimana mengubah hasil tambak menjadi produk bernilai jual tinggi.
“Pengetahuan baru ini membuat kami sangat optimistis kelompok kami bisa tumbuh mandiri dan meningkatkan perekonomian keluarga di Desa Tarabitan,” ungkapnya semringah.
Lewat kolaborasi strategis antara BUMN, akademisi, praktisi bisnis UMKM, dan masyarakat lokal, program spirulina Desa Tarabitan ini diproyeksikan menjadi pilot project percontohan di Sulawesi Utara. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post