Oleh:
Vincentius Pantow, M.Hum.; Dra. Ivone R.I. Mandang, M.M.; Wingston M.J. Longdong, S.S., M.Hum.
Ketiganya merupakan Dosen Jurusan Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Manado.
Pendahuluan
Perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan tuntutan pembangunan berkelanjutan telah mendorong berbagai negara mengembangkan konsep green economy sebagai paradigma baru pembangunan. Dalam paradigma ini, pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat [1]. Konsep tersebut kemudian berkembang ke dunia usaha melalui penerapan green business, yaitu praktik bisnis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan [2].
Perubahan tersebut berdampak pada kebutuhan kompetensi tenaga kerja. Dunia industri kini membutuhkan lulusan yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki pemahaman mengenai keberlanjutan (sustainability) serta mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dalam konteks bisnis global [3].
Sebagai institusi yang menyiapkan sumber daya manusia siap kerja, pendidikan vokasi memiliki peran penting dalam menjawab tantangan tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan konsep Green Business ke dalam pembelajaran Bahasa Inggris sehingga mahasiswa memperoleh kompetensi komunikasi bisnis yang sesuai dengan perkembangan dunia industri [4].
Pembahasan
Bahasa Inggris telah menjadi bahasa utama dalam komunikasi bisnis internasional. Sebagian besar dokumen perusahaan multinasional, laporan keberlanjutan (sustainability report), standar ESG (Environmental, Social, and Governance), maupun publikasi mengenai ekonomi hijau disusun dalam bahasa Inggris [5]. Oleh karena itu, lulusan pendidikan vokasi perlu memahami istilah-istilah seperti green marketing, circular economy, renewable energy, carbon footprint, waste management, dan sustainable supply chain.
Pendekatan English for Specific Purposes (ESP) memberikan peluang untuk mengembangkan pembelajaran Bahasa Inggris yang lebih kontekstual sesuai kebutuhan dunia kerja. Salah satu pengembangannya adalah English for Green Business, yaitu pembelajaran Bahasa Inggris yang mengintegrasikan materi keberlanjutan ke dalam konteks bisnis [6].
Implementasi konsep tersebut dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas pembelajaran, seperti analisis artikel internasional mengenai bisnis hijau, presentasi tentang praktik perusahaan yang menerapkan prinsip keberlanjutan, simulasi negosiasi bisnis, penyusunan proposal usaha ramah lingkungan, maupun promosi produk hijau menggunakan bahasa Inggris. Pendekatan ini mampu meningkatkan kemampuan komunikasi sekaligus membangun kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pembangunan berkelanjutan [3].
Bagi mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis, pembelajaran English for Green Business sangat relevan dengan perkembangan dunia kerja. Banyak perusahaan mulai menerapkan prinsip ESG sebagai bagian dari strategi bisnis sehingga lulusan dituntut memahami konsep keberlanjutan sekaligus mampu mengomunikasikannya kepada pelanggan, investor, maupun mitra bisnis internasional [2].
Penutup
Selain meningkatkan daya saing lulusan, integrasi konsep Green Business dalam pembelajaran Bahasa Inggris juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) [7].
Transformasi menuju ekonomi hijau merupakan tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan vokasi. Perguruan tinggi vokasi perlu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan dunia industri yang semakin mengedepankan prinsip keberlanjutan.
Pengembangan English for Green Business menjadi salah satu alternatif inovasi pembelajaran yang dapat menjembatani kebutuhan tersebut. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga memahami konsep bisnis berkelanjutan yang menjadi tuntutan dunia kerja global. Dengan demikian, pendidikan vokasi dapat berkontribusi dalam menghasilkan lulusan yang profesional, berdaya saing internasional, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Daftar Referensi
1. United Nations. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations; 2015.
2. Narong DK. Business and management education for sustainability: A state-of-the-art review of literature post-UN Decade of Education for Sustainable Development (2015–2023). International Journal of Management Education. 2025;23(2):101115.
3. Heriani D, Simanjuntak T, Agustinasari E, Wang X. Sustainability-Oriented English for Specific Purposes Learning in TVET: A Comparative Study of Green Communication Competence between Indonesia and China. Journal of Education Technology. 2026. *(in press)*
4. Suharno, et al. Sustainability Development in Vocational Education: A Case Study in Indonesia. Higher Education, Skills and Work-Based Learning. 2025.
5. Cox R. Environmental Communication and the Public Sphere. 3rd ed. Thousand Oaks: Sage Publications; 2013.
6. Hutchinson T, Waters A. English for Specific Purposes: A Learning-Centred Approach. Cambridge: Cambridge University Press; 1987.
7. UNESCO. Education for Sustainable Development: Learning Objectives. Paris: UNESCO; 2017.


Discussion about this post