Manado, Barta1.com – Belum lama ini, KMPA Tansa, KPPA Tarantula, dan Coffee Hitam Kribo Politeknik menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Menolak Punah di area Kampus Politeknik Negeri Manado (Polimdo), Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan nobar tersebut dimoderatori oleh Sry Umar, dengan menghadirkan Meikel Pontolondo dari KMPA Tansa dan Fenly Derek dari KPPA Tarantula sebagai pemantik diskusi.

Menolak Punah merupakan film dokumenter karya sutradara Dandhy Laksono dan Aji Yahuti yang berkolaborasi dengan Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang. Film ini mengangkat dampak buruk industri fast fashion terhadap lingkungan serta berbagai krisis ekologis yang ditimbulkannya.

Film tersebut mengupas rantai produksi pakaian yang merusak lingkungan, mulai dari bahaya limbah tekstil murah hingga ancaman mikroplastik yang mencemari lautan dan tubuh manusia. Selain itu, film ini juga menyoroti ironi kondisi kapas di Indonesia. Negara yang dahulu dikenal kaya akan kapas kini hampir kehilangan produksi kapasnya dan harus bergantung pada impor.
Tak hanya itu, Menolak Punah juga menampilkan berbagai upaya pelestarian warisan sandang Nusantara dan budaya tenun tradisional, termasuk penggunaan bahan serta pewarna alami sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Dalam sesi diskusi, Meikel Pontolondo memaparkan sejumlah pandangannya terkait film tersebut. Menurutnya, apa yang ditampilkan dalam film semakin menguatkan semangat para pecinta alam, baik Mapala maupun KPA, untuk terus melakukan aksi bersih-bersih di sungai, pesisir, laut, maupun daratan guna mencegah kerusakan lingkungan yang semakin parah.
“Film ini membantah pandangan sebagian oknum yang mempertanyakan pentingnya kegiatan bersih-bersih yang dilakukan pecinta alam secara terus-menerus. Pertanyaan seperti itu sebenarnya tidak perlu diperdebatkan lagi, karena kita semua mengetahui tujuannya, yakni mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Dalam film tadi juga dijelaskan mengenai mikroplastik yang, berdasarkan penelitian, sudah ditemukan dalam tubuh manusia dan dapat berdampak serius bagi kesehatan,” ujarnya.
Meikel menambahkan, film ini juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan pakaian. Menurutnya, pakaian sebaiknya digunakan secara terukur dan tidak langsung dibuang ketika sudah tidak dipakai lagi. Sebaliknya, perlu ada inisiatif agar pakaian tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemilik baru sehingga penggunaannya menjadi lebih berkelanjutan.
“Bahkan Pemerintah Indonesia pernah melarang masuknya pakaian bekas impor ke Indonesia. Salah satu tujuannya adalah mengurangi timbunan sampah. Ketika pakaian bekas dari luar negeri masuk ke Indonesia, secara tidak langsung kita menjadi bagian dari imperialisme modern, di mana produk yang sudah tidak layak di negara asal justru dijadikan komoditas untuk meraup keuntungan di Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Fenly Derek mencoba mengulas film dokumenter Menolak Punah dari sisi emosional dan perasaan yang muncul setelah menontonnya.
“Di sini, tentunya kita yang hadir malam ini merasa terkejut sekaligus ngeri ketika mengetahui fakta bahwa pakaian yang kita gunakan mengandung serat plastik,” katanya.
Menurut Fenly, rasa ngeri itu muncul karena limbah pakaian telah mencemari lingkungan, bahkan partikel mikro plastiknya telah ditemukan pada organ vital manusia, ASI, hingga sperma.
“Kemudian muncul rasa gelisah dan bersalah, karena budaya fast fashion, pakaian murah yang cepat berganti tren, secara tidak sadar membuat kita menjadi penyumbang limbah tekstil yang merusak alam,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan kekecewaan mendalam melihat ironi sumber daya alam Indonesia. Negara yang dahulu kaya akan kapas kini justru mengimpor hampir seluruh kebutuhan kapasnya. Kondisi tersebut semakin ironis mengingat kapas merupakan salah satu simbol yang terdapat dalam lambang negara Indonesia.
“Di sisi lain, film ini juga memberikan motivasi untuk ikut berkontribusi menjaga lingkungan. Kita melihat masih ada banyak orang yang berjuang demi kelestarian alam, dan itu menumbuhkan keyakinan bahwa perubahan positif masih bisa dilakukan. Kita masih memiliki kesempatan untuk bergerak bersama,” pungkasnya.
Diketahui, organisasi yang terlibat dalam kegiatan Nobar Menolak Punah antara lain KMPA Tansa, KPPA Tarantula, KPA Silvaterra, KPAB Nucifera, GMPA Panthera Pardus, MPA Marabunta, KPAB Phoenix, PPAB Everest, Kru Coffee Hitam Kribo, KSR PMI Polimdo, serta mahasiswa Polimdo secara umum. (*)
Peliput: Randy Dilo

Discussion about this post