Manado, Barta1.com — No-Trash Triangle Initiative (NTTI) merupakan salah satu organisasi yang menunjukkan kepedulian nyata terhadap persoalan sampah di Manado.

Salah satu pegawai NTTI, saat dihubungi Barta1.com pada Rabu (25/02/2026), menyampaikan bahwa jumlah sampah yang mereka angkat dari sejumlah sungai besar di Kota Manado setiap harinya bervariasi. Bahkan, dalam satu hari, sampah plastik yang terkumpul bisa mencapai 500 kilogram.
Dilansir dari National Geographic Indonesia, kepedulian NTTI terhadap persoalan sampah bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang masuk ke laut, khususnya ke kawasan Taman Nasional Bunaken.
Upaya serupa juga dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado. Kepala Bidang PPKL, Leon Piri, menjelaskan bahwa para petugas setiap hari mengangkat sampah campuran dari sungai tanpa melalui proses pemilahan.

“Untuk proses pemilahan dilakukan oleh Bank Sampah yang tersebar di kecamatan maupun yang ada di kawasan Megamas Manado. Setiap hari jumlahnya berbeda-beda, terlebih saat musim hujan. Dalam satu sungai saja, sampah yang diangkat bisa mencapai tiga hingga lima karung besar per hari,” ungkap Leon.
Ia menambahkan, jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah plastik. “Itu merupakan sampah kiriman dari hulu. Saat musim hujan, jumlah sampah plastik yang diangkat dari sungai jauh lebih banyak,” jelasnya.
Saat ditanya apakah pemasangan pelampung di sejumlah titik sungai mampu sepenuhnya mencegah sampah masuk ke laut, Leon mengakui bahwa masih ada sampah yang lolos. Hal itu biasanya terjadi ketika hujan deras, saat volume air meningkat dan pelampung tidak lagi mampu menahan arus, bahkan terkadang mengalami kerusakan atau terputus.
Menurutnya, persoalan sampah yang ditemukan di sungai kerap mengindikasikan adanya perilaku pembuangan yang disengaja. “Kami tidak menuduh, namun kemungkinan ada masyarakat yang memanfaatkan saluran air sebagai tempat membuang sampah saat hujan turun, terutama mereka yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai (DAS). Hingga kini, kesadaran masyarakat terhadap kepedulian lingkungan masih sangat kurang,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa edukasi perlu difokuskan terlebih dahulu kepada masyarakat yang tinggal di kawasan DAS.
Meski masih terdapat kekurangan pada pelampung yang telah dipasang, keberadaannya dinilai cukup membantu dalam mengurangi sampah yang mengalir ke laut. Beberapa pelampung pencegah sampah plastik telah dipasang di sejumlah titik, antara lain di bawah Jembatan Megawati, Jembatan Bahu, Sungai Bailang, serta Jembatan Kuning Sario.
Sampah di Pesisir Kota Manado
Ketua Seasoldier Sulut, Patrik Paendong, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei yang dilakukan tim konservasi mereka, jumlah sampah di pesisir pantai Kota Manado terbilang sangat memprihatinkan. Tumpukan sampah tersebut tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengganggu kawasan wisata yang selama ini menjadi tujuan utama masyarakat untuk berlibur dan menikmati keindahan laut.
Melihat kondisi tersebut, Seasoldier Sulut terus memfokuskan program beach clean up yang dilaksanakan setiap bulan di satu lokasi tetap, yakni Pantai Karangria, Manado.
Menurut Patrik, pembersihan pesisir tidak hanya bertujuan membersihkan pantai, tetapi juga memantau serta mendata jenis dan jumlah sampah yang ditemukan di lapangan.
“Bicara soal sampah yang terbawa dari laut hingga ke pesisir pantai hari ini tentu sangat memprihatinkan. Masyarakat yang ingin menikmati waktu liburan terlihat terganggu dengan keberadaan sampah di sepanjang pantai, apalagi bagi para nelayan,” ujar Patrik.
Berdasarkan data pemilahan sampah dari kegiatan Beach Clean Up selama Januari hingga Februari 2026, jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah sampah anorganik, terutama botol dan gelas plastik, dengan total mencapai 158 kilogram.
Sepanjang dua bulan pertama tahun 2026 tersebut, tim berhasil mengangkat sampah dari Pantai Karangria masing-masing sebanyak 77 kilogram dan 310 kilogram, dengan total keseluruhan mencapai 387 kilogram, kesemuanya dimasukan ke rekan – rekan NTTI.
Patrik menegaskan, apabila persoalan ini tidak ditangani secara serius, dampaknya akan semakin luas terhadap ekosistem laut. Pencemaran akan mengganggu keseimbangan kehidupan biota laut. Ia mencontohkan temuan sedotan plastik di dalam perut penyu, serta ikan-ikan yang telah terkontaminasi mikroplastik.
“Ketika ikan terkontaminasi mikroplastik dan kemudian dikonsumsi manusia, tentu hal itu dapat berdampak pada kesehatan manusia,” jelasnya.
Upaya menjaga kebersihan pesisir bukan sekadar soal estetika, melainkan tentang melindungi ekosistem laut dan kesehatan bersama.
Memilah Sampah dari Rumah
Dosen muda Politeknik Negeri Manado (Polimdo), Dian Puspitasari, membuka kisahnya dengan sebuah kalimat sederhana namun sarat makna: “Jagalah alam, maka ia akan menjagamu.” Kalimat itu ia tuliskan sembari memperlihatkan aktivitas kesehariannya di rumah melalui akun YouTubenya, @WithDian: Pemula Zero Waste, sebuah ruang kecil tempat kepedulian besar itu dimulai.

“Alam menghidupi kita, alam memanjakan mata kita. Mengikuti itu, saya ingin menjadi bagian dari kalian yang sungguh-sungguh menjaga alam,” tulis Dian.
Baginya, menjaga bumi tidak harus dimulai dari langkah besar. Ia memilih memulai dari hal paling dekat: rumahnya sendiri. Dari sana, ia membiasakan diri memilah sampah. Ia berusaha mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa kantong belanja sendiri atau meminta barang belanjaannya dikemas menggunakan kardus bekas.
Dalam kesehariannya, berbagai kebutuhan rumah tangga seperti susu, rempah-rempah, hingga produk dalam kemasan kaleng tetap ia gunakan. Namun yang berbeda adalah cara ia memperlakukan sisa kemasannya. Dian belajar memilah sampah untuk meningkatkan jumlah yang dapat didaur ulang serta mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Ia memisahkan sampah organik dan anorganik sebagai langkah awal yang sederhana namun berarti. Setiap kemasan makanan, baik itu kotak susu, plastik, kaleng, hingga botol kaca, terlihat ia kosongkan, bilas, lalu keringkan sebelum dikumpulkan.
“Dalam keadaan bersih dan kering, sampah anorganik tidak akan menimbulkan bau saat disimpan di rumah, sekaligus mempermudah proses daur ulang,” jelasnya.
Di sudut rumahnya, tampak tumpukan sampah yang telah dipilah rapi: kertas, botol, plastik, hingga tas kresek, semuanya dikelompokkan sesuai jenisnya. Sebelum diserahkan ke Bank Sampah, seluruhnya sudah tersusun teratur.
Melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, Dian menunjukkan bahwa menjaga alam bukan sekadar wacana, melainkan kebiasaan yang dimulai dari rumah. Dari kesadaran, ketelatenan, dan kemauan untuk berubah. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post