
Talaud, Barta1.com – Krisis listrik di Kabupaten Kepulauan Talaud sudah menjadi penyakit kronis. Kondisi ini sudah menahun sejak Kabupaten paling utara ini berotonomi dan terus terjadi hingga saat ini.
Meskipun rasio elektrifikasi nasional diklaim tinggi 99,1% pada akhir 2025, namum ketimpangan akses di daerah perbatasan apalagi kepulauan masih terjadi.
Beberapa faktor utama penyebab terjadinya pemadaman listrik yaitu keterlambatan distribusi bahan bakar minyak karena cuaca ektreme dan kerusakan mesin kapal. Juga ketika terjadi kerusakan pada mesin pembangkit yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk proses perbaikan, apalagi jika ada alat mesin yang harus didatangkan dari luar daerah. Selain itu, daun kelapa dan cabang pohon bahkan pohon roboh yang menimpah jalur kabel listrik sangat sering menjadi penyebab listrik padam.
Jika dihitung menggunakan mate-matika dasar, dalam setahun pemadaman listrik paling sedikit terjadi selama 40 hari atau 480 jam. Ini jika pemadamannya hanya disiang hari atau malam hari. Jika pemadamannya terjadi pada siang hingga malam dan sebaliknya, maka pemadaman listrik ini terjadi selama 960 jam.
Merujuk pada angka di atas, krisis listrik ini sudah menyebabkan kerugian materiil dan moril bagi masyarakat. Hal ini menciptakan ketidaknyamanan yang menurunkan rasa kepuasan terhadap layanan publik.
Fernando Loronusa, salah satu warga mengatakan, secara geopolitik krisis listrik berkepanjangan di wilayah perbatasan Indonesia merupakan ancaman serius bagi stabilitas nasional, keamanan, dan kedaulatan negara.
“Jika ini terus terjadi maka berpotensi kuat menurunkan kepercayaan masyarakat lokal terhadap negara dan memudahkan pengaruh asing,” ujar Loronusa, Rabu (25/02/2026).
Ada juga potensi kerawanan akibat krisis listrik yang berkepanjangan ini seperti meningkatnya risiko kriminalitas, menurunkan rasa aman dan menciptakan kesenjangan ekonomi antara wilayah perbatasan dan wilayah pusat, yang bisa menimbulkan ketidakpuasan sosial.
“Kondisi ini sangat rentan menurunkan semangat nasionalisme masyarakat karena terhambatnya aktivitas ekonomi, produktivitas, dan kenyamanan hidup, yang pada akhirnya dapat menimbulkan ketidakpuasan sosial. Apalagi di Talaud, listrik padam total menyebabkan hilangnya akses internet, komunikasi dan air bersih,” jelasnya.
Dengan nada serius ia mengatakan, jika ketidakpuasan ekonomi yang meletus menjadi protes, ini akan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Bahkan menjadi sinyal negatif bagi investor, yang menghambat pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Terkait upaya yang terus dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kepulaun Talaud untuk mengatasi dan menyelesaikan permasalahan ini, ia mengajak seluruh masyarakat memberikan dukungan dan doa.
Peliput : Evan Taarae

Discussion about this post