BARTA1.COM– Irama tagonggong dan syair sasambo melantun indah dan ritmis mengiring gumulai penari gunde mengantar kue adat Tamo ke ke bangsal pesta sacral. Orang-orang Sangihe Talaud menyambut prosesi kedatangan itu dengan takjub dan haru. Itulah sisi menarik Pesta adat sacral Tulude.
Keunikan simbol-simbol tradisi sakral dalam perayaan selalu disiapkan apik. Syair-syair tua dibacakan. Lagu-lagu agung Sangihe Talaud dinyanyikan. Pemontongan kue adat Tamo yang atraktif diiringi syair-syair pengajaran luhur tentang kehidupan dilafalkan.
Ada masamper dan Tarian Gunde di panggung utama yang membuat pesta adat ini terasa indah dan religius.
Menghadiri pesta adat ini, kita semua seperti digiring kedalam nilai-nilai luhur budaya Sangihe Talaud yang tertata dalam beragam simbol perayaan yang berlangsung apik.
Tulude adalah budaya sakral yang memiliki dimensi persatuan dalam merekatkan semangat kebersamaan masyarakat Nusa Utara di mana pun berada.
Tulude merupakan identitas masyarakat Nusa Utara. Banyak nilai-nilai luhur yang mengajarkan dan membimbing kita untuk memelihara kebersaman dalam mencapai kemajuan hidup.
Itu sebabnya Tulude selalu digelar dalam tata cara seoriginal mungkin, agar masyarakat Sangihe Talaud dapat melihat, memahami dan merasakan sakralitas Tulude yang sebenarnya.
Latar belakang budaya Tulude, pertama dan terutama, harus disebutkan bahwa Tulude adalah sebuah tradisi sakral masyarakat etnik Sangihe Talaud.
Dalam kamus bahasa Sangihe kata Tulude adalah perpaduan dari kata Suhude artinya menolak atau mendorong dan kata hude artinya meluruskan.
Tulude telah hidup dalam kurun ribuan tahun dalam aktivitas kehidupan masyarakat bahari Nusa Utara sebagai tradisi menolak bala.
Puncak pelaksanaan Tulude dalam sejarahnya mengacu pada perhitungan astronomis etnis Sangihe menyangkut posisi bintang Kadademahe (Bintang Fajar) yang berada pada posisi tegak lurus dengan kepulauan Sangihe Talaud yang selalu terjadi pada pukul 00.00 pada tanggal 31 Januari setiap tahun.
Itu sebabnya Tulude Utama harus dilaksanakan pada tanggal 31 Januari dan berpusat di kepulauan Sangihe Talaud pada setiap tahunnya, baru bisa diikuti pelaksanaannya di tempat lain.
Seiring masuknya agama-agama Samawi terutama Kristen di Sangihe Talaud sejak abad ke 16 hingga abad 19, Tulude telah mengalami transkonseptualisasi menjadi upacara adat syukur atas tahun yang lalu dan memohon penyertaan Tuhan pada tahun yang baru.
Transkonseptualisasi yang dilakukan para misionaris masa lampau di Sangihe Talaud terhadap Tulude menjadikan tradisi tua ini mendapatkan pemaknaan baru, namun tetap selaras dengan filosofi asli bahari Nusa Utara dan nilai-nilai kekristenan yang kemudian dikenal sebagai upacara adat religius yang tidak saja dilaksanakan oleh komunitas masyarakat umum tapi juga oleh komunitas gerejani.
Bagi masyarakat etnis Sangihe Talaud di mana pun berada, Tulude selalu dipandang semacam barisan ombak yang mewariskan citra kepribadian dan keunikan budaya sebuah bangsa yang mengafirmasi nilai-nilai religius kebaharian.
Atas dasar pemahaman inilah Upacara Adat Tulude digelar. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post