• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Februari 17, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Budaya
Pesta Adat Tulude

Pesta Adat Tulude

PESTA ADAT TULUDE, MAKNA DAN SEJARAHNYA

by Iverdixon Tinungki
20 Januari 2026
in Budaya
0
0
SHARES
56
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BARTA1.COM– Irama tagonggong dan syair sasambo melantun indah dan ritmis mengiring gumulai penari gunde mengantar kue adat Tamo ke ke bangsal pesta sacral. Orang-orang Sangihe Talaud menyambut prosesi kedatangan itu dengan takjub dan haru. Itulah sisi menarik Pesta adat sacral Tulude.

Keunikan simbol-simbol tradisi sakral dalam perayaan selalu disiapkan apik. Syair-syair tua dibacakan. Lagu-lagu agung Sangihe Talaud dinyanyikan. Pemontongan kue adat Tamo yang atraktif diiringi syair-syair pengajaran luhur tentang kehidupan dilafalkan.

Ada masamper dan Tarian Gunde di panggung utama yang membuat pesta adat ini terasa indah dan religius.

Menghadiri pesta adat ini, kita semua seperti digiring kedalam nilai-nilai luhur budaya Sangihe Talaud yang tertata dalam beragam simbol perayaan yang berlangsung apik.

Tulude adalah budaya sakral yang memiliki dimensi persatuan dalam merekatkan semangat kebersamaan masyarakat Nusa Utara di mana pun berada.

Tulude merupakan identitas masyarakat Nusa Utara. Banyak nilai-nilai luhur yang mengajarkan dan membimbing kita untuk memelihara kebersaman dalam mencapai kemajuan hidup.

Itu sebabnya Tulude selalu digelar dalam tata cara seoriginal mungkin, agar masyarakat Sangihe Talaud dapat melihat, memahami dan merasakan sakralitas Tulude yang sebenarnya.

Latar belakang budaya Tulude, pertama dan terutama, harus disebutkan bahwa Tulude adalah sebuah tradisi sakral masyarakat etnik Sangihe Talaud.

Dalam kamus bahasa Sangihe kata Tulude adalah perpaduan dari kata Suhude artinya menolak atau mendorong dan kata hude artinya meluruskan.

Tulude telah hidup dalam kurun ribuan tahun dalam aktivitas kehidupan masyarakat bahari Nusa Utara sebagai tradisi menolak bala.

Puncak pelaksanaan Tulude dalam sejarahnya mengacu pada perhitungan astronomis etnis Sangihe menyangkut posisi bintang Kadademahe (Bintang Fajar) yang berada pada posisi tegak lurus dengan kepulauan Sangihe Talaud yang selalu terjadi pada pukul 00.00 pada tanggal 31 Januari setiap tahun.

Itu sebabnya Tulude Utama harus dilaksanakan pada tanggal 31 Januari dan berpusat di kepulauan Sangihe Talaud pada setiap tahunnya, baru bisa diikuti pelaksanaannya di tempat lain.

Seiring masuknya agama-agama Samawi terutama Kristen di Sangihe Talaud sejak abad ke 16 hingga abad 19, Tulude telah mengalami transkonseptualisasi menjadi upacara adat syukur atas tahun yang lalu dan memohon penyertaan Tuhan pada tahun yang baru.

Transkonseptualisasi yang dilakukan para misionaris masa lampau di Sangihe Talaud terhadap Tulude menjadikan tradisi tua ini mendapatkan pemaknaan baru, namun tetap selaras dengan filosofi asli bahari Nusa Utara dan nilai-nilai kekristenan yang kemudian dikenal sebagai upacara adat religius yang tidak saja dilaksanakan oleh komunitas masyarakat umum tapi juga oleh komunitas gerejani.

Bagi masyarakat etnis Sangihe Talaud di mana pun berada, Tulude selalu dipandang semacam barisan ombak yang mewariskan citra kepribadian dan keunikan budaya sebuah bangsa yang mengafirmasi nilai-nilai religius kebaharian.

Atas dasar pemahaman inilah Upacara Adat Tulude digelar. (*)

Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki

 

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Woww, PMD Sulut Sosialisasi Sehari Habiskan Anggaran Rp20 Juta?

Woww, PMD Sulut Sosialisasi Sehari Habiskan Anggaran Rp20 Juta?

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Manado Book Party, Ruang Membaca dan Hidupkan Literasi 16 Februari 2026
  • 310 Kg Sampah Terangkat dari Pantai Karangria, Kolaborasi MUI, TKNPSL dan Seasoldier Sulut 15 Februari 2026
  • Naskah Drama SAMO MENCARI CINTA HINGGA KE SURGA, Karya Iverdixon Tinungki 15 Februari 2026
  • Warna-Warni Harapan di Dinding Manado, Aulia dan Goresan Kuas 15 Februari 2026
  • Pelestarian Lingkungan Tanpa Kesadaran Kelas: Ilusi Moral 14 Februari 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In