Manado, Barta1.com – Sebanyak 310 kilogram sampah berhasil diangkat dari Pantai Karangria, Manado, Minggu (15/02/2026). Aksi bersih pantai ini digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKNPSL) serta komunitas Seasoldier Sulut.

Dari total sampah yang terkumpul, sebanyak 130 kilogram berhasil dipilah berdasarkan jenisnya, terdiri atas 23 kilogram cup plastik, 41 kilogram botol plastik, 18 kilogram kaca, 5 kilogram plastik kertas, 2 kilogram tutup botol, serta 205 kilogram sampah campur.

Koordinator Seasoldier Sulut, Patrick Paendong, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian menyambut bulan suci Ramadan sekaligus memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026.

Pantai Karangria dipilih sebagai lokasi utama karena letaknya yang strategis, namun kerap menjadi titik penumpukan sampah kiriman.
“Target kegiatan hari ini bukan sekadar bersih-bersih pantai, tetapi juga mengedukasi masyarakat pesisir agar semakin peduli terhadap lingkungan. Banyak warga menggantungkan mata pencaharian di sini, sehingga kebersihan menjadi kebutuhan bersama,” ungkap Patrick kepada awak media.
Berbeda dari aksi pungut sampah konvensional, sampah yang terkumpul tidak langsung dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Panitia menerapkan sistem pemilahan langsung di lokasi untuk memisahkan sampah organik, anorganik, hingga limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Dalam proses daur ulang, penyelenggara turut menggandeng NTPI untuk mengolah kembali limbah plastik. Botol plastik akan diproses menjadi produk baru, sementara tutup botol dimanfaatkan menjadi barang bernilai ekonomi, seperti meja dan gantungan kunci.
Aksi di Manado ini juga terhubung dengan kegiatan utama tingkat nasional yang berpusat di Bogor, Jawa Barat, dan dipantau langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup. Jika di Bogor fokus diarahkan pada pembersihan sungai, maka di Manado perhatian ditujukan pada pelestarian ekosistem pesisir.
Laporan hasil pemilahan sampah dari Karangria nantinya akan diserahkan kepada kementerian sebagai bagian dari capaian pembersihan nasional.
Sekretaris MUI Kota Manado, Suaib Sulaiman, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan wujud nyata dari iman.
Ia mengingatkan bahwa MUI telah mengeluarkan fatwa terkait pengelolaan sampah sebagai dorongan perubahan perilaku umat.
“MUI mengeluarkan fatwa untuk mengajak kita hidup sehat. Kerusakan yang terjadi adalah akibat ulah manusia. Momentum ini menjadi ajakan bagi semua pihak untuk peduli terhadap lingkungan, terutama di wilayah pesisir, agar tidak menimbulkan dampak seperti banjir,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab lintas agama. “Ini adalah panggilan bagi seluruh umat beragama untuk melakukan kebaikan hari ini. Kami berharap gerakan ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut hingga ke kampung-kampung,” tambahnya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado menyambut baik kolaborasi lintas sektor tersebut. Pengawas Lingkungan Hidup DLH Manado, Ridwan Lamani, menyebut sinergi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan komunitas sebagai kunci terwujudnya kota yang bersih.
“MUI telah mempertegas melalui fatwa bahwa membuang sampah di pesisir pantai atau sungai adalah haram. Ini menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga kebersihan bukan hanya persoalan sosial, melainkan juga tanggung jawab iman. Ketika itu haram, berarti ada konsekuensi dosa,” pungkas Ridwan. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post